fbpx

Mahasiswa University of Queensland Lancarkan Protes Mengenai Ujian Daring

Akibat pandemi COVID-19, seluruh perkuliahan di berbagai universitas di dunia dilaksanakan secara daring. Hal ini berarti pelaksanaan ujian pun dilakukan secara daring. Dilansir dari ABC News, mahasiswa University of Queensland, Australia lancarkan protes mengenai pelaksanaan ujian daring. 

Bagi mereka, teknologi yang digunakan untuk mengawasi pelaksanaan ujian malah membuat mereka stres. Apalagi, teknologi tersebut malah menjadi distraksi tersendiri dan mengambil alih kontrol komputer dari masing-masing mahasiswa.

Penggunaan ProctorU

ujian daring university of queensland
Sumber: archdaily.com

University of Queensland bersama dengan University of Southern Queensland, Griffith University, University of Sydney, dan University of Technology Sydney sama-sama menyetujui penggunaan ProctorU. ProctorU merupakan layanan pengawasan yang dapat digunakan selama pengadaan ujian daring.

ProctorU dan program pengawasan daring lainnya yang serupa membutuhkan akses terhadap webcam, layar, dan juga file milik siswa. Program ini akan mengambil alih layar dan program yang berjalan dari komputer tersebut dari jarak jauh.

Tanggapan siswa

Ketua University of Queensland Student Union, Ethan Van Roo Douglas menyatakan bahwa sedari awal pihak siswa telah menyatakan keberatan akan penggunaan teknologi selama pelaksanaan ujian daring. Akan tetapi, mereka tidak diberi pilihan lain.

Sejak pelaksanaan ujian yang terakhir, Van Roo Douglas menyatakan kekhawatiran para mahasiswa terhadap interaksi mereka dengan teknologi dan juga proctor.

“Kami mendengar cerita, sebagai contoh, proctor mengambil kontrol dari komputer… beberapa mahasiswa tidak diizinkan memulai ujian mereka hingga waktu tertentu,” ujar Van Roo Douglas.

Menurut Van Roo Douglas, proctor lambat laun malah mengganggu pelaksanaan ujian. Bahkan mengancam mahasiswa akan gagal dalam ujian apabila tidak mengikuti instruksi mereka.

Tanggapan Ethan Van Roo Douglas mengenai pelaksanaan ujian daring university of queensland
Ethan Van Roo Douglas. Sumber: uqu.com.au

Pengalaman yang tak menyenangkan

Salah seorang mahasiswi, Elyssa Caunt menceritakan bahwa proctor miliknya tiba-tiba mematikan fitur auto-save di komputer miliknya dan mengambil alih kontrol dari komputer tersebut. Pada akhirnya, Elyssa harus kehilangan progres pengerjaan ujiannya karena proctor me-restart komputer milikinya.

Penjelasan yang diberikan mengenai hal ini adalah tentang permasalahan koneksi, akan tetapi ternyata sejumlah siswa lainnya mengalami permasalahan yang sama.

“Ujian yang dijalani oleh siswa itu sudah membuat stres, akan tetapi stres tersebut bertambah ketika berhadapan dengan suatu hal yang tidak bisa kita kontrol,” ujar Elyssa.

Sejumlah pengalaman lainnya yang tak menyenangkan terdiri dari proctor tak mengizinkan siswa untuk memulai ujian, suara aneh yang keluar dari speaker, serta tingkah laku dari proctor yang mengganggu.

“Para siswa merasa semua hal yang mereka lakukan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.. apabila  kalian melihat sekitar dengan mencurigakan, tindakan kalian itu bisa ditandai dan dilaporkan sebagai usaha curang kepada koordinator kelas.”

Elyssa menyatakan bahwa ia memahami bahwa pihak universitas khawatir apabila para siswa melakukan kecurangan. Akan tetapi, kebanyakan siswa selalu jujur dengan apa yang mereka lakukan dan sistem tersebut malah menciptakan stres tersendiri.

Masalah privasi

Dr. Dan Angus khawatirkan privasi saat ujian daring
Dr. Dan Angus. Sumber: research.qut.edu.au

Dr. Dan Angus selalu associate professor di bidang komunikasi digital dari Queensland University of Technology menyatakan adanya kekhawatiran privasi yang serius mengenai penggunaan sistem tersebut.

“Dengan akses yang diberikan, tidak ada batasan mengenai informasi mana yang dapat mereka kumpulkan.. Mereka bisa menemuk riwayat pencarian kalian.. Dan mereka bisa mengunduhnya ke server mereka sendiri,” ujar Dr. Angus.

Ia menyatakan bahwa sangat sedikit kejelasan bagaimana sebuah perusahaan yang memegang data dari luar negaranya bisa menjadi akuntabel. Kemudian, tidak ada kejelasan pula bagaimana ProctorU mungkin menggunakan data yang mereka dapatkan.

“Beberapa pihak menyatakan bahwa data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan produk, akan tetapi tentu ada juga penggunaan lain dari pengumpulan data tersebut. Kita tidak tahu sejauh mana proteksi yang didapatkan agar data-data tersebut tidak digunakan lebih jauh,” jelasnya.

Menurut Dr. Angus, kekurangan dari pelaksanaan ujian secara daring ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi universitas untuk mulai memikirkan metode lainnya untuk menilai pencapaian mahasiswa. Ujian bukan satu-satunya cara untuk mengukur kemampuan mahasiswa.

Baca juga kisah mahasiswa PhD yang laksanakan sidang disertasi secara daring.

For Your Information

Apa itu ProctorU?

ProctorU merupakan program layanan pengawasan yang dapat digunakan selama pengadaan ujian daring.

Mengapa mahasiswa University of Queensland keberatan dengan penggunaan ProctorU?

Temukan jawabannya di artikel berikut ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Queensland?