fbpx

Perkenalkan Velicya Aurelia Wiranata: Kuliah D3 Crossborder E-Commerce di YRCTI, China

Setelah kemarin sempat membahas kehidupan Nana di Thailand dan juga Abid di Perancis, maka sekarang kami berkesempatan untuk mewawancarai Velicya Aurelia Wiranata yang sedang kuliah D3 di China. Ya, saat ini, Velicya mengambil studi Crossborder E-Commerce di Yellow River Conservancy Technical Institute (YRCTI), Kaifeng, China.

Kira-kira, bagaimana ya kisah dari Velicya? Berikut hasil obrolan kami dengannya.

Bagaimana awal mula Velicya tertarik untuk kuliah di luar negeri?

Velicya, kuliah D3 di China
Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Kalo aku sih mungkin seperti anak pada umumnya. Mau keluar dari rumah, mandiri, dan berpikir keren kali ya kalau sekolah di luar negeri? Itu sih pemikiran aku dulu.

Sebenarnya, tadinya aku mau kuliah di Indonesia, sih. Tapi nggak di Jakarta. Memang dari awal mau mandiri aja. Mau keluar dari rumah. Terus, ada ada semacam seminar yang diadain di SMK-ku tentang kuliah di China. Waktu itu, kampusku (YRCTI) datang buat presentasi. Lalu aku tertarik karena biaya yang murah dan juga waktu itu ada jurusan yang aku mau juga. Setelah diskusi bersama orang tua, akhirnya mereka pun setuju. Jadi, yaaa, here I am.

Mengapa Velicya memilih kuliah D3 Crossborder E-Commerce di YRCTI China? 

Velicya, kuliah D3 di China
Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Sebetulnya, jurusan yang aku pilih nggak linear dengan jurusanku sebelumnya. Jadi, aku dulu  sekolah di SMK pariwisata, jurusan Usaha Perjalanan Wisata. Terus, semakin lama semakin dewasa ya. Jadi makin tahu tertariknya di mana, fokusnya mau kemana.Jadi, ya akhirnya aku pindah jurusan ambil e-commerce. Walaupun, aku pilih jurusan ini juga karena melihat senior-seniorku yang lain.

Jurusan Crossborder E-Commerce sendiri menurutku unik. Tentu kalian tahu kan Shopee, Amazon, dan Alibaba? Nah itu contoh e-commerce. Secara general, aku belajar tentang bagaimana membuat website dan platform penjualan online, berjualan melalui media elektronik, juga mengembangkan e-commerce itu sendiri. Terus, aku juga belajar foto produk agar menarik dan membuat poster logo untuk perusahaan. Pokoknya semua yang berkaitan dengan e-commerce, deh.

Kalau ditanya, sebetulnya jurusan Crossborder E-Commerce ini nggak cuma ada di YRCTI. Jurusan ini sudah mulai cukup banyak di China. Tapi mungkin belum sepopuler jurusan lainnya. Uniknya, karena jurusan ini memang menjurus banget. Dalam artian, akan membicarakan e-commerce secara spesifik. 

Lalu, kenapa akhirnya memilih di YRCTI, karena waktu itu jujur minim pengetahuan soal universitas di luar negeri. Dan pas banget di YRCTI ini ada jurusan yang aku mau waktu itu. 

Oh, ya, buat yang pengin tahu, kuliah D3 di China sama seperti di Indonesia. Durasinya itu 3 tahun. Kalau aku, tahun pertama untuk belajar bahasa, tahun kedua perkuliahan di kampus, dan tahun ketiga magang. Untuk perkuliahannya sendiri, memang chinese taught.

Selama tinggal di China, apa sih tantangan yang Velicya rasakan?

Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Kalau tantangan banyak, sih. Bahasa yang paling utama. Apalagi waktu pertama kali datang. Itu bener-bener nggak bisa bahasa mandarin kan, blank banget. Mau beli makan aja bingung. 

Terus, adaptasi lingkungan dan circle yang baru juga jadi tantangan buatku. Karena biasanya dikelilingi orang Indo, ini dikelilingi oleh orang yang berbeda negara, berbeda culture.

Sama, ngerasain homesick juga. Kangen rumah, kangen keluarga, kangen teman. Kadang-kadang tuh bisa mellow sendiri jadinya. Mau bilang keluarga takut yang di rumah khawatir, jadi ya mendem sendiri.

Kalau menurut Velicya, apa sih yang berbeda dari Indonesia dengan China?

Sumber: dokumentasi pribadi Velicya.

Beda culture sih, misalnya culture belajar. Kalau orang indonesia kan penganut kemageran, ya. Santai aja gitu. Orang China itu rajin banget belajarnya. Mereka bisa belajar berjam-jam di perpustakaan dari pagi sampai malam. Apalagi kalau udah waktunya ujian.

Terus, mereka menghargai privasi orang, sih. Nggak kepo-kepo kayak netizen indonesia (tertawa).

Oh, iya, aku kaget banget sih waktu pertama kali dateng dan lihat orang pada ciuman di depan mata aku, dan kayaknya di situ aku doang yang kaget. Orang lain kayak bodo amat gitu. Saking mereka nggak peduli sama yang orang lain lakuin kali, ya.

Kalau untuk makanan, mungkin karena aku juga keturunan (Tionghoa), jadi aku biasa aja, sih. Mungkin dari porsinya, ya. Porsi makan orang China itu banyak banget, bisa buat makan 2 kali sehari. Terus mereka itu makan ndak pake nasi. Jadi pake mantou, semacam roti gitu.

Untuk media sosial dan lainnya, untuk kita yang biasa pakai Google Docs, Gmail, Instagram, WhatsApp dan lainnya, yaa memang harus pakai VPN. Tapi untuk China-nya sendiri nggak, sih.  Mereka udah punya aplikasi sendiri yang menurut aku tuh kayak udah lengkap banget. Semisal, Google dengan Baidu, atau WhatsApp dengan WeChat. Terus Twitter dengan Weibo. Jadi walaupun mereka nggak bisa akses karena nggak pakai VPN, mereka punya solusinya gitu. Pada akhirnya tergantung kitanya juga.

Apakah ada pengalaman seru dan sedih yang Velicya rasakan selama tinggal di China?

Velicya, kuliah D3 di China
Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Pengalaman seru paling Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT), sih. Jadi PPIT di tempatku tuh sering buat acara-acara gathering, culture fest, dan lainnya. Jadinya tuh mengurangi kangen indonesia, karena setidaknya bisa kumpul-kumpul bareng orang indonesia gitu. Yang paling berkesan Inifest 2019, sih. Acara Culture Fest pertama aku di luar negeri, kan. Seru banget bisa kerja sama sama temen-temen ndonesia lainnya. Lalu bisa ngenalin budaya indonesia ke orang-orang dari negara lain. Pas acara selesai, aku sampai nangis loh, saking terharunyaa (tertawa).

Kalau sedih, apa, ya. Kalau lagi kangen rumah, sih. Kangen Jakarta.

Selama setahun tinggal di China, apa perubahan yang Velicya rasakan? 

Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Tentu banyak perubahan yang aku rasakan. Pertama, jauh lebih mandiri pastinya. Biasanya cuci baju dicuciin, ini jadi cuci baju sendiri. Nyapu ngepel kamar sendiri, semuanya jadi serba sendiri.

Terus, jadi lebih bisa ngatur uang, karena kalau dulu dikasih uang harian, kan. Kalau pas butuh doang. Kalau sekarang jadi bulanan. Harus bisa mikir gimana caranya itu uang cukup buat sebulan, soalnya ndak enak kalau misalnya minta lagi minta lagi.

Lainnya, aku ngerasa lebih dewasa. Nggak tahu kata orang (tertawa). Kalau menurutku, aku jadi lebih pinter aja menyelesaikan masalah, emosi jadi lebih stabil juga. Bagaimanapun, aku sendiri di.sini. Ya, aku cuma bisa bertumpu sama diri aku. Jadi mau nggak mau harus bisa apa-apa sendiri.

Terus, aku lebih terbuka sama orang baru jadinya, karena di negara orang, orang-orangnya berbeda. Orang baru juga. Jadi, aku harus bisa lebih membuka diri, kenalan sama orang baru. Soalnya, nggak mungkin sendiri. Nanti kalau lagi susah kan jadi punya temen yang bisa dimintain tolong.

Sama lebih sering merhatiin sekitar aku, sih. Soalnya di kampusku orang Indonesia-nya nggak terlalu banyak. Jadi, ya, harus bisa merhatiin temen-temen juga. Saling bantu dan lainnya.

Apa pesan dari Velicya untuk para pembaca yang ingin kuliah di luar negeri?

Velicya, kuliah D3 di China
Sumber: dokumentasi pribadi Velicya

Mungkin pesannya, jangan kuliah ke keluar negeri cuma karena satu dua alasan. Nanti bakal susah sendiri. Pikirin matang-matang alasan kenapa mau kuliah di luar negeri. Pelajari dulu, check dulu culture negara dan kampusnya. 

Rajin belajar tapi jangan lupa untuk cari relasi. Cari teman sebanyak-banyaknya karena ketika kamu di luar negeri, kamu nggak bisa cuma ngandelin diri sendiri. Kamu juga butuh orang lain.

Terus yang terakhir, kamu keluar negeri untuk belajar, bukan jalan-jalan. Jadi, fokus ke tujuanmu, jangan main terus.

Nah, itu dia hasil percakapan kami bersama dengan Velicya yang sedang kuliah D3 di YRTI, China. Tentu sangat penting bagi kamu yang ingin kuliah di luar negeri untuk menentukan tujuan di awal. Sekali lagi, mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri merupakan privilese. Jadi, kamu pikirkan matang-matang, ya, Kawan Rantau.

Kamu juga bisa membaca kisah Andre Matius yang menempuh studi Accounting di Ningbo, China.

For Your Information

Apakah bisa kuliah D3 di luar negeri?

Banyak sekali kesempatan bagimu untuk kuliah D3 di luar negeri. Universitas seperti Yellow River Conservancy Technical Institute (YRCTI), China, menawarkan program diploma yang bisa kamu ambil.

Apa itu jurusan Digital E-Commerce?

Secara general, di jurusan Digital E-Commerce kalian akan belajar tentang bagaimana membuat website dan platform penjualan online, berjualan melalui media elektronik, juga mengembangkan e-commerce itu sendiri.

Apa yang harus saya ketahui ketika ingin kuliah di China?

Coba baca artikel ini untuk membaca kisah Velicya yang sedang menempuh studi D3 di YRCTI, Kaifeng, China.