fbpx

Perkenalkan Farid Mubarok: Pengalaman Ikut Pertukaran Pelajar di Italia

Halo, Kawan Rantau? Apa kabar? Akhirnya, Tim Rantau kembali lagi dengan feature “Profil Rantau” yang akan membahas seluk-beluk kehidupan anak rantau di luar negeri. Akan tetapi, kali ini kami akan membahas suatu hal yang sedikit berbeda, yakni mengenai pengalaman pertukaran pelajar yang dirasakan oleh Farid Mubarok di Italia.

Yap, mahasiswa Sastra Arab dari Universitas Indonesia ini baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajarnya di Ca’Foscari University of Venice, Italia.

Penasaran dengan pengalamannya seperti apa? Mari simak percakapan kami dengan Farid berikut ini:

Halo, Farid! Boleh diceritakan awal mula kamu tertarik untuk mengikuti program pertukaran pelajar?

Pertukaran pelajar di Italia
Farid saat mengunjungi Menara Eiffel di Paris, Perancis. Sumber: dokumentasi pribadi Farid

Sudah sejak duduk di bangku SMA, saya ingin sekali untuk mengikuti program pertukaran pelajar. Namun, ketika di SMA, orang tua saya menyarankan agar saya mengikuti program pertukaran mahasiswa di bangku kuliah agar tidak terlalu mengubah ritme waktu SMA saya.

Akhirnya, ketika saya memasuki bangku kuliah, saya melihat banyak sekali kesempatan untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa. Akan tetapi, umumnya program tersebut baru dibuka untuk mahasiswa di semester lima ke atas. Selain itu, beberapa program pertukaran mahasiswa yang dibuka dari Universitas Indonesia merupakan program berbayar.

Akhirnya, setelah berkali-kali melakukan riset dan mengikuti informasi yang dikeluarkan dari kampus, saya menemukan program pertukaran mahasiswa yang disponsori penuh oleh Uni Eropa, bernama Erasmus+.

Awalnya, negara yang ingin saya tuju adalah Spanyol, berhubung saya juga mempelajari Bahasa Spanyol di Jakarta. Namun, ternyata tenggat waktu yang ada tidak mencukupi untuk mendaftar program tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, dibukalah program yang sama dari Erasmus+ ke Italia. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung mempersiapkan segala kebutuhan untuk pendaftaran.

Kenapa Farid akhirnya memilih Italia sebaga negara tujuan untuk melakukan pertukaran pelajar?

Sudah sejak lama saya ingin pergi untuk belajar ke Eropa karena benua ini sudah dikenal reputasinya dalam hal ihwal akademik. Saya memilih Italia karena negara tersebut memiliki hubungan dengan program studi yang sedang saya tempuh yaitu Sastra Arab. Bagaimana bisa dua hal ini berhubungan? (tertawa).

Jika kita melihat peta dunia, Italia adalah gerbang bagi Eropa di bagian Selatan. Negara ini menghadap langsung ke Afrika Utara, yang merupakan negara-negara Arab, di Laut Mediterania. Sebagai implikasinya, dua wilayah ini saling berinteraksi secara kebudayaan sejak berabad-abad yang lalu.

Di masa sekarang, hubungan ini dapat kita lihat dalam memandang isu pengungsi akibat konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Banyak sekali pengungsi dari wilayah-wilayah konflik yang lari ke Eropa, menyeberangi Laut Mediterania dari Libya dan sampai ke teritori Italia.

Saya sudah lama tertarik dengan isu-isu Timur Tengah dan pengungsi. Dengan memilih Italia, saya dapat menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah ternyata amat mempengaruhi Eropa, bukan hanya politik, tetapi sosial, ekonomi, dan kultur di benua tersebut.

Apa yang membuat Farid tertarik untuk melakukan pertukaran pelajar di Ca’Foscari University of Venice? Apa keistimewaan dari universitas yang satu ini?

Sumber: dokumentasi pribadi Farid

Ca’Foscari University of Venice adalah universitas terbaik di Italia untuk jurusan Bahasa. Jurusan-jurusan untuk modern languages di universitas ini masuk dalam jajaran 100 yang terbaik di dunia.

Berhubung latar belakang saya yang berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), maka saya semakin yakin untuk memilih kampus ini dalam menimba ilmu dan mendaftarkan diri dalam program tersebut.

Bisa diceritakan kah bagaimana program pertukaran pelajar yang kamu jalani ini? Apa saja yang kamu lakukan selama program berlangsung?

Program yang saya ikuti sama seperti menjalani perkuliahan biasa di Indonesia. Saya mengambil mata kuliah dan mengikuti mata kuliah tersebut bersama-sama dengan mahasiswa lainnya di Italia.

Ada dua kelas yang saya ambil, yakni bahasa Italia yang khusus hanya dapat diambil oleh mahasiswa pertukaran dan kelas Sejarah Kontemporer yang merupakan mata kuliah bagi mahasiswa full degree di kampus tersebut. Keduanya adalah mata kuliah yang disediakan oleh pihak universitas.

Berhubung kelas yang saya ikuti–Sejarah Kontemporer–adalah kelas bersama mahasiswa full degree kelas internasional, maka kelas diselenggarakan dengan berbahasa Inggris. 

Apa tantangan terbesar saat kamu berada di Italia?

Sumber: dokumentasi pribadi Farid

Secara akademik, tidak terlalu besar tantangan yang saya rasakan, berhubung bahasa pengantar yang digunakan–Alhamdulillah-nya–menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Italia.

Namun, tantangan yang cukup besar di luar akademik, pastinya adalah kultur. Kultur yang ada di Italia atau negara Eropa lainnya, amatlah berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mulai dari bahasa, cara berinteraksi, hingga konsumsi makanan.

Masyarakat Italia umumnya tidak dapat berbahasa Inggris atau berbahasa Inggris tetapi secara tidak lancar. Sehingga, saya harus mempelajari lebih banyak ungkapan dan kosakata dalam bahasa Italia untuk dapat berinteraksi dan bersosialisasi. Namun, hal itu justru yang membuat program pertukaran budaya ini, bagi saya, menjadi lebih efektif. Saya “dipaksa” untuk belajar bahasa Italia lebih banyak.

Selain masalah bahasa, makanan dan minuman juga menjadi masalah tersendiri bagi saya. Sebagai seorang muslim, saya berkali-kali harus menolak ajakan kawan untuk pergi minum minuman beralkohol di bar atau tempat lainnya. Selain itu, saya harus sangat berhati-hati dalam memilih makanan apakah halal atau tidak.

Akan tetapi, pengalaman itu mengajarkan saya untuk survive dengan cara membeli makanan dari toko halal dan pergi dengan teman, tetapi memesan kopi untuk minum, alih-alih minuman beralkohol.

Menurut Farid, apa hal yang paling berbeda antara Indonesia dengan Italia?

Bagi saya, Indonesia dan Italia secara sosial mirip dengan Indonesia. Dengan kultur Mediterania yang ramah dan hangat, membuat saya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan sosial Italia.

Namun, perbedaan yang amat terasa bagi saya yang seorang muslim, pastinya adalah lingkungan sosial. Saya tinggal di Pulau Venice yang tidak memiliki masjid. Oleh karena itu, saya harus pergi ke masjid yang berada di daratan Italia dengan menggunakan kapal dan bis.

Selan itu, konsumsi yang berbeda, sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Hal-hal lainnya, menurut saya tidak terlalu banyak menjadi masalah

Apa saja pengalaman seru dan sedih yang pernah Farid rasakan saat berada di Italia?

Sumber: dokumentasi pribadi Farid

Pengalaman seru adalah sewaktu saya pergi mengelilingi Eropa. Sejujurnya, pergi ke Italia adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri. Perjalanan ini saya bagi menjadi dua periode, pertama sewaktu mengunjungi Roma dan yang kedua ketika melakukan solo trip keliling Eropa.

Sewaktu mengunjungi ibu kota Italia yang waktu tempuhnya sekitar enam jam dari Venice, saya sangat terkesima dengan peradaban yang pernah dibangun di jantung ibu kota Romawi tersebut. Selama di Roma, saya juga mengunjungi salah satu negara terkecil di dunia, Vatikan. Pengalaman di Roma amatlah membuka mata saya mengenai sejarah peradaban manusia yang ternyata berkesinambungan dengan perjalanan hidup manusia di masa kini.

Kemudian, perjalanan yang kedua adalah sewaktu saya melakukan solo trip mengelilingi negara-negara Eropa di luar Italia. Perjalanan tersebut saya mulai dari Venice, Wina, Berlin, Amsterdam, dan diakhiri di Kota Paris. Banyak sekali momen suka dan duka selama saya berkeliling di negara-negara ini. Mulai dari ketika saya “ditraktir” makan oleh orang Turki yang baru saya kenal di masjid di Wina (Austria) hingga berjalan kaki mengitari kota Paris berjam-jam karena ada mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja transportasi Kota Paris.

Untuk Italia sendiri, saya memiliki pengalaman unik yang menurut saya signifikan dalam mempengaruhi persepsi saya terhadap orang-orang Italia. Ketika itu, saya pulang dari berbelanja buah dan sayur-mayur di salah satu supermarket di Venice wilayah daratan Italia. Namun, tas kertas yang saya pakai rusak sehingga saya harus memeluk buah-buahan tersebut.

Tiba-tiba ketika saya sedang berada di dalam trem, seorang ibu Italia mencolek saya dan menyodorkan saya kantung plastik dengan tersenyum dengan menunjukkan gestur agar saya menggunakan kantung plastiknya. Saya pun berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut.

Dari pengalaman itu, persepsi saya mengenai masyarakat Italia berubah, yang tadinya saya pikir amat individualistik sebagaimana stereotip yang berkembang tentang orang-orang Barat. Ternyata, di antara mereka banyak yang sangat baik dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, termasuk saya yang secara fisik jelas merupakan orang asing.

Selain itu, saya amat terbantu dengan kehadiran keluarga Indonesia di Venice, Italia yang sangat amat tidak segan untuk menolak saya dan teman-teman mahasiswa lainnya dalam keadaan apapun. 

Apa perubahan yang Farid rasakan setelah melakukan pertukaran pelajar di Italia?

Secara kepribadian diri, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi, terutama dari cara pandang saya terhadap orang lain dan diri saya sendiri.

Terhadap orang lain, saya merasa lebih terbuka dan menghargai keberagaman, mengingat masyarakat Eropa yang saat ini sudah amat sangat majemuk dengan kehadiran orang-orang dari seluruh dunia. Saya menjadi lebih memahami perbedaan kultur yang ada dan berusaha memahami cara berpikir orang-orang lain selain saya.

Sementara, terhadap diri sendiri, saya menjadi lebih percaya diri dan berani ketika menghadapi suatu persoalan. Hal ini disebabkan karena salah satunya keadaan di Italia yang menuntut saya untuk mandiri dalam menjalani hari-hari. Saya merasa lebih positif dalam menghargai diri saya dan terhadap orang lain.

Apa pesan dari Farid untuk para pembaca yang ingin melakukan program pertukaran pelajar?

Sumber: dokumentasi pribadi Farid

Bagi teman-teman yang ingin mengikuti program pertukaran mahasiswa ke luar negeri, maka saran saya adalah memperbanyak untuk mencari informasi. Informasi-informasi tersebut bertebaran di mana-mana. Apalagi sudah ada internet yang memudahkan pencarian akan suatu hal.

Selain itu, kita dapat juga meminta saran dan tukar pendapat dengan para senior atau kawan yang pernah memiliki pengalaman. Dalam proses pendaftaran program ini, saya amat dibantu oleh para senior hebat yang bolak-balik saya minta konsultasi.

Sejatinya kesempatan tersebut bertebaran di mana-mana, tetapi tidak semua orang ingin mencari tahu dan mengambil kesempatan tersebut. Oleh karena itu, selalu mencari tahu akan segala kemungkinan dan peluang serta memiliki keinginan untuk mencoba, adalah kuncinya.

Demikianlah percakapan kami dengan Farid yang menjalani program pertukaran pelajar di Department of Humanities di Ca’Foscari University of Venice, Italia. Seperti yang Farid bilang, pada dasarnya, informasi mengenai pertukaran pelajar berada di mana saja. Yang harus kamu lakukan adalah giat mencari informasi dan tak segan untuk bertanya.

Kamu juga bisa membaca informasi tentang pilihan beasiswa short course ke Eropa yang bisa kamu pertimbangkan.

For Your Information

Apakah ada program pertukaran pelajar di Eropa?

Tentu saja banyak program pertukaran pelajar di Benua Eropa. Salah satunya adalah program pertukaran pelajar Erasmus+ yang disponsori oleh Uni Eropa.

Apakah program pertukaran pelajar berbayar?

Hal ini tergantung dari masing-masing penyelenggara.

Bagaimana cara mendaftar program pertukaran pelajar?

Kamu bisa membaca pengalaman Farid Mubarok yang melakukan pertukaran pelajar di Italia berikut ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Rome?

Related Article