fbpx

Jejak Pendidikan Para Sutradara Indonesia di Luar Negeri

Setelah sebelumnya kami membahas jejak pendidikan dari para penulis dan juga chef Indonesia di luar negeri, maka kali ini Tim Rantau akan membahas jejak pendidikan para sutradara Indonesia yang juga luar biasa. Industri perfilman dewasa ini terus berkembang. Hal ini tak terlepas dari peran seorang sutradara di baliknya.

Dengan demikian, berikut merupakan jejak pendidikan para sutradara Indonesia di luar negeri.

Mouly Surya

Sumber: femina.co.id

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) merupakan salah satu film terbaik dari Mouly Surya. Mouly sendiri telah berkarir di dunia perfilman sejak tahun 2008. Pada saat itu, film debutnya, Fiksi (2008) berhasil memenangkan sejumlah penghargaan. Ia pun mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik di JIFFEST 2008.

Sebelum memulai karirnya di industri ini, Mouly sempat menempuh pendidikannya di Swinburne University dan mendapatkan gelar BA in Media and Literature. Kemudian, ia mendapatkan gelar magisternya dari Bond University di jurusan film dan televisi.

Kamila Andini

Sumber: telegraf.co.id

Kamila Andini merupakan putri tertua dari Garin Nugroho, salah satu sutradara berbakat di Indonesia. Nah, Kamila Andini ternyata mengikuti jejak Garin dan menciptakan film-filmnya sendiri. Awalnya, Kamila tidak tertarik untuk mempelajari sinematografi. Ia takut akan selalu berada di bawah bayang-bayang ayahnya. Ternyata, pada akhirnya ia malah tertarik untuk mendalami dunia film.

Kamila menyelesaikan perkuliahannya di jurusan Sosiologi, Deakin University, Australia. Salah satu film terbaik dari Kamila adalah Sekala Niskala (2017). Film tersebut berhasil menyabet penghargaan Golden Hanoman dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun 2018.

Riri Riza

Sumber: liputan6.com

Nama Riri Riza pastinya tidak asing bukan di telinga kalian? Petualangan Sherina (2000), Gie (2005), dan juga Laskar Pelangi (2008) menjadi sejumlah film Riri yang menuai banyak kesuksesan.

Setelah lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Riri melanjutkan studinya di Royal Holloway, University of London. Kala itu, ia mendapatkan gelar magister untuk Penulisan Skenario Film Panjang.

Teddy Soeriaatmadja

Sumber: jfac.jp

Lovely Man menjadi salah satu film terbaik dari Teddy Soeriatmadja. Film tersebut berhasil memborong sejumlah penghargaan di Piala Maya 2012. Teddy telah memulai karir di dunia perfilman sejak tahun 2000.

Sebelumnya, Teddy pernah menempuh pendidikan di Newport University (sekarang bernama University of South Wales), Inggris. Pada saat berkuliah di sanalah Teddy menuliskan sejumlah naskah yang nantinya ia adaptasi menjadi film panjang.

Rudy Soedjarwo

Sumber: kapanlagi.com

Film Ada Apa dengan Cipta? menjadi salah satu film terbaik dari Rudy Soedjarwo. Pada saat itu, film yang satu ini menandakan bangkitnya industri perfilman Indonesia setelah sekian lama.

Sebelumnya, Rudy sempat menempuh kuliah di jurusan manajemen, San Diego State University pada tahun 1994. Kemudian, ia juga melanjutkan studinya di Academy of Arts College San Fransisco.

Tentunya, jejak pendidikan para sutradara Indonesia ini juga berpengaruh terhadap hasil karyanya. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan pun mampu tersampaikan dengan baik. Hal ini juga yang dilakukan oleh Bong Joon-ho sebagai alumni dari jurusan Sosiologi, Yonsei University.

Kamu juga bisa membaca tentang jejak pendidikan para jurnalis Indonesia di luar negeri.

For Your Information

Apa dampak dari latar belakang pendidikan bagi seorang sutradara?

Latar belakang seseorang pada akhirnya akan berpengaruh pada hasil karyanya. Termasuk latar belakang pendidikan bagi seseorang sutradara.

Apakah para sutradara Indonesia selalu menempuh jurusan perfilman?

Tidak semua, kok. Sebagai contoh, ada Kamila Andini yang menemupuh jurusan Sosiologi di Australia.

Siapa saja sutradara Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri?

Kamu bisa membaca jawaban lengkapnya di artikel ini, Kawan Rantau.

Ingin mengetahui cerita lain di Worldwide?