Menjadi Negara Zero Waste, Mungkinkah?

Rumitnya Masalah Sampah

Tanpa kita sadari, manusia hidup berdampingan dengan sampah yang dihasilkan dari barang sekali pakai. Mungkin dengan entengnya kita dapat berpikir bahwa Bantar Gebang atau tempat pembuangan akhir masih memiliki lahan yang luas sebagai penampungan. Gagasan seperti itulah yang membuat sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) pun meluap dan menumpuk bak gunung. Hal ini menjadi permasalahan rumit di belahan dunia selama bertahun-tahun karena sifatnya sulit terurai, apalagi plastik. Gerakan mengurangi sampah plastik kini lebih digaungkan mengingat sudah banyak kecelakaan yang menimpa hewan di laut akibat limbah yang ditimbulkannya. Beragam kampanye lingkungan dijalankan untuk memberikan kesadaran kepada khalayak luas akan bahaya plastik.

Trash

Penelitian dari Our World in Data mencatat bahwa sejak 1950 hingga 2015 volume sampah plastik selalu meningkat. Pada 1950, bumi ini sudah dipenuhi oleh sampah dunia sebanyak 2 juta ton per tahun. Lalu, 65 tahun kemudian yakni 2015 mengalami eskalasi yang fantastis hingga 190 kali lipat di angka 381 juta ton sampah per tahun. Masalah kompleks ini terjadi karena ketidakmampuan manusia dalam mengelola sampah menjadi barang berguna. TPA bukanlah jalan akhir dari sampah, maka dari itu kita membutuhkan gebrakan baru untuk menjaga ekosistem bumi ini. Salah satu gerakannya ialah zero waste. Nah, sekarang apakah seluruh komunitas di dunia ini dapat hidup tanpa sampah?

Gerakan Zero Waste

Zero waste strategy

Wajar jika kamu mengernyitkan dahi dan mungkin pesimis karena hidup tanpa membuang sampah adalah hal mustahil. Gerakan ini memiliki filosofi memotivasi siklus hidup sumber daya supaya produk sekali pakai dapat digunakan kembali. Intinya ialah strategi agar sampah tidak dikirim untuk ditumpuk di TPA. Zero waste menantang kita untuk evaluasi gaya hidup dan melihat dampak negatif barang terhadap lingkungan. Pun, ide ini bukan hanya sekedar mendaur ulang, namun juga membusukkan sampah agar limbahnya berkurang. Adalah Bea Johson dari zero waste home yang mengenalkan gerakan ini dengan pedoman 5 R, yaitu refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recyle (daur ulang), dan rot (membusukkan). Prinsip tersebut diyakini empunya dapat mengurangi limbah dan menggunakan sumber daya secara bestari. Hidup tanpa sampah saat ini tidaklah mungkin, namun bukan berarti kamu hanya melongo ketika melihat lingkungan hancur perlahan-lahan.

Beberapa Negara Sudah Menerapkan Zero Waste

Jika kamu memiliki keinginan atau sedang belajar, jalan-jalan, atau bekerja di luar negeri, maka perhatikan kebijakan negaranya dalam mengatur sampah. Hal ini harus kamu perhatikan supaya tidak memalukan dirimu sendiri, apalagi ini menyangkut etika. Dilansir dari Republika, berikut beberapa negara yang telah menerapkan zero waste :

1. San Francisco

Sumber: Pexels

San Francisco menargetkan menjadi negara yang sepenuhnya zero waste pada tahun 2020. Saat ini, San Francisco menjadi pelopor di dunia dalam menjadi zero waste seutuhnya dengan sistem recology. Dilansir dari kanal Youtube Stories, panduan tersebut meningkatkan daur ulang sebesar dua kali lipat dari 38%. Recology mengubah sampah menjadi pupuk kompos dan hasilnya lebih dari 300 kebun anggur menjadi subur. Manfaat lainnya membuat tanah menjadi lembab dan meningkatkan daya serap air.

2. Denmark

Sumber: Earth.com

Denmark memberlakukan pajak khusus bagi pengecer plastik sejak tahun 2003. Peraturan tersebut membuat toko membebankan biaya untuk kantong plastik kepada pelanggan dan memotivasi mereka untuk menggunakan tas daur ulang. Cara ini menghemat sekitar 66 persen penggunaan kantong plastik.

3. Irlandia

Sumber: Pexels

Sejak tahun 2002 negara di benua Eropa ini menerapkan pajak sebesar 0,15 Euro untuk satu kantong plastik. Peraturan ini mengakibatkan 90% masyarakat menggunakan tas sendiri saat berbelanja. Pemerintah pun menjaga keamanan pajak dengan memasukkannya untuk dana lingkungan demi menekan jumlah sampah plastik di sana.

4. Jerman

Sumber: Pexels

Pemerintah Jerman juga menerapkan aturan yang ketat demi memberlakukan zero waste. Seluruh toko yang menyediakan kantong plastik wajib membayar pajak daur ulang. Pemerintah juga menargetkan untuk terus mengurangi sampah plastik setiap tahunnya. Strategi ini juga dijalankan demi mencapai tujuan jangka panjang, yakni mengurangi penggunaan kantong plastik hingga 40 plastik saja di tahun 2025.

Itulah manfaat gerakan zero waste yang saat ini sedang digembor-gemborkan para aktivis lingkungan. Sampah memang sudah menumpuk di bumi ini, namun nilainya tidak akan pernah punah sampai kapanpun sehingga dapat didaur ulang. Kamu tetap dapat berkontribusi sekecil apapun untuk mengurangi sampah, salah satunya ialah zero waste. Rajin-rajinlah menengok situs zero waste untuk bergabung bersama orang-orang peduli. Jika lingkungan bersih, maka kuliah dan bekerja pun juga menjadi nyaman, bukan?

Sampai di sini dulu artikel kali ini. Ingatlah untuk selalu menjaga keseimbangan ekosistem di manapun kamu berada. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!