fbpx

Jejak Pendidikan Para Penulis Indonesia di Luar Negeri

Setiap orang tentu bisa menjadi seorang penulis. Akan tetapi, terkadang latar belakang pendidikan seseorang akan membuat tulisan yang dihasilkan begitu kritis dan menyihir para pembaca. Berikut kami akan mengulas jejak pendidikan para penulis Indonesia di luar negeri.

Intan Paramaditha

Sumber: ciptamedia.org

Sihir Perempuan menjadi salah satu karya antologi cerpen yang terkenal dari Intan Paramadhita. Antologinya tersebut berhasil memasuki nominasi pendek dari Khatulistiwa Literary Award 2005. Pada tahun 2010, bersama dengan Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, Intan menulis antologi Kumpulan Budak Setan yang merupakan bentuk persembahan untuk Abdullah Harahap.

Setelah lulus dari Sastra Inggris Universitas Indonesia, Intan melanjutkan pendidikannya di University of California, San Diego dengan jurusan yang sama pada tahun 2005. Kemudian, ia juga mendapatkan kesempatan untuk menjalani program PhD di bidang kajian sinema di New York University.

Sebagai seorang akademisi, Intan terkenal sebagai seorang penulis yang aktif dengan topik gender dan seksualitas. Sejumlah karya ilmiahnya terbit di jurnal-jurnal seperti Inter-Asia Cultural Studies, Southeast Asian Independent Cinema, Encyclopedia of Women and Islamic Cultures, dan juga Film Quarterly.

Budi Darma

Sumber: galeribukujakarta.id

Budi Darma merupakan seorang penulis kenamaan Indonesia. Novelnya Olenka menjadi salah satu karya terbaiknya. Novel ini terinspirasi dari perempuan yang ditemui oleh Budi pada saat menempuh pendidikan di Bloomington. Olenka kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka dan memenangkan sejumlah penghargaan seperti Jakarta Art Institute Literary dan S.E.A. Write Award.

Selain sebagai penulis, Budi Darma juga seorang akademisi, khususnya di bidang sastra. Setelah menempuh jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada, Budi melanjutkan studi magister dan doktoralnya di Indiana University, Amerika Serikat.

Clara Ng

Sumber: whiteboardjournal.com

Trilogi Indiana Chronicle karya Clara Ng dianggap sebagai tonggak dari kelahiran genre metropop di Indonesia. Sejak saat itu, Clara Ng terus menelurkan berbagai karya sastra yang gemilang. Novel-novel dewasa yang ia buat biasanya mengambil fokus pada kaum-kaum marginal. Sedangkan, novel anak-anak yang ia tulis banyak mengajarkan tentang empati.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di Indonesia, Clara melanjutkan studinya di Ohio State University. Kala itu, Clara mengambil jurusan komunikasi interpersonal dan berhasil lulus pada tahun 1997. Ketika berada di Amerika Serikat, Clara banyak membaca buku anak. Hal inilah yang pada akhirnya mempengaruhi karya milik Clara selanjutnya.

Lily Yulianti Farid

Sumber: thejakrtapost.com

Berawal dari jurusan teknik, Lily Yulianti Farid kemudian melanjutkan studinya di University of Melbourne dan mengambil jurusan Gender and Development. Tak cukup hanya itu, Lily juga melanjutkan studi doktoral di universitas yang sama dan berfokus pada Gender and Media.

Lily memulai karirnya di bidang sastra sejak masih di kampus. Ia pun pernah bekerja sebagai reporter untuk surat kabar Kompas. Salah satu karya pertamanya adalah kumpulan cerita pendek berjudul Makkunrai. Terdapat sebelas cerita dalam Makkunrai dan terdiri dari berbagai tema, mulai dari gender, korupsi, poligami, politik, hingga perempuan.

Okky Madasari

Sumber: magdalene.co

Okky Madasari menjadi salah satu penulis Indonesia yang terkenal akan novel-novelnya yang sangat dekat dengan realitas sosial. Sejak tahun 2010, Okky telah menerbitkan 10 buku yang semuanya menggambarkan keadaan sosial dan politik di Indonesia. Salah satu bukunya, Maryam, berhasil mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2012.

Setelah menempuh pendidikan S1 dan S2 di Indonesia, sekarang Okky sedang menjalani program doktoral di National University of Singapore (NUS). Saat ini, Okky sedang menggarap tesis mengenai budaya penyensoran di Indonesia. Karya terbaru dari Okky adalah sebuah buku non fiksi berjudul Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan. Buku ini diterbitkan pada Desember 2019 dan dapat diundah secara gratis di situs pribadi Okky, www.okkymadasari.net.

Keseluruhan jejak pendidikan para penulis Indonesia tersebut pada akhirnya memberikan ciri khas tersendiri bagi seluruh karya yang mereka hasilkan. Apakah kamu setuju, Kawan Rantau?

Kamu juga bisa membaca jejak pendidikan para jurnalis Indonesia di luar negeri. Menjadi seorang jurnalis pun juga harus pandai dan berpendidikan.

For Your Information

Apa dampak dari latar belakang pendidikan bagi seorang penulis?

Tentu dampak dari latar belakang yang demiliki oleh penulis, khususnya pendidikan, akan terlihat pada tulisan-tulisan yang mereka hasilkan.

Apakah semua penulis menempuh pendidikan di jurusan sastra?

Tidak semua. Sebagai contoh, Lily Yulianti Farid, seorang penulis asal Makassar melanjutkan pendidikannya di bidang Gender and Development.

Siapa saja penulis Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri?

Simak jawabannya di artikel berikut ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Worldwide?