Jejak Para Perempuan Indonesia di Bidang STEM

Tanggal 11 Februari ternyata menjadi salah satu hari yang penting untuk perempuan anak perempuan di dunia. Mengapa demikian? Karena hari tersebut diperingati sebagai International Day of Women and Girls in Science. Kesetaraan sains dan gender menjadi salah satu pencapaian yang terus diupayakan untuk mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Maka dari itu, kali ini kami akan membahas jejak perempuan Indonesia di bidang Science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

Eniya Listiani Dewi

Sumber: majalah.tempo.co

Pada tahun 2018, Eniya Listiani Dewi berhasil meraih penghargaan BJ Habibie Technology Awards. Penghargaan tersebut diberikan karena kontribusi Eniya dalam penelitian yang ia lakukan tentang mengubah hidrogen menjadi listrik. Eniya merupakan perempuan pertama yang meraih penghargaan tersebut.

Perempuan kelahiran Magelang ini menempuh pendidikan S1 hingga S3-nya di Waseda University, Jepang. Penelitiannya mengenai penemuan katalis baru untuk sel bahan bakar, menghantarkan Eniya mendapat berbagai penghargaan, seperti Mizuno Awards dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada tahun 2003.

Sidrotun Naim

Sumber: youtube.com

Ilmuwan perempuan multitalenta lainnya adalah Sidrotun Naim. Perempuan kelahiran tahun 1979 ini menekuni bidang ilmu lingkungan, khususnya yang terkait dengan perikanan dan mikrobiologi. Selain itu, ia juga merupakan ahli dalam kebijakan publik dan kepemimpinan.

Staf pengajar dan peneliti Agribisnis di Surya University ini, mendapatkan gelar doktornya dari University of Arizona pada tahun 2012. Kemudian, setelah lulus ia bekerja sebagai peneliti post-doctoral di Harvard Medical School. Pada tahun 2009, Sidrotun Naim menerima penghargaan L’Oreal-UNESCO for Women in Science Award. Tentu hal ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi seorang perempuan Indonesia di bidang STEM.

Yessie Widya Sari

Sumber: laduni.id

Yessie Widya Sari merupakan seorang dosen Fisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun 2018, Yessie berhasil meraih penghargaan L’Oreal-UNESCO for Women in Science Award dengan judul penelitian Microalgae Biorefinary as Biocomposite for Food and Agricultural Products Packaging.

Sebelumnya, Yessie menempuh studi S1-nya di IPB. Kemudian, ia melanjutkan studi magisternya di Universitas Indonesia (UI), dan meraih gelar doktor di Wageningen University, kampus paling hijau di dunia yang berada di Belanda.

Herawati Sudoyo

Sumber: sains.kompas.com

Herawati Sudoyo merupakan sosok di balik terungkapnya pelaku bom bunuh diri di Bali pada tahun 2004. Kala itu, bersama dengan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri, Hera melakukan teknik analisis DNA yang bertujuan untuk megumpulkan dan memeriksa serpihan tubuh dari ledakan tubuh dan posisi pelaku.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) ini, menerima penghargaan Habibie Award dan Australian Alumni Award of Scientific and Research Innovation pada tahun 2008. Sebelumnya, ia menempuh studi S3-nya di Departemen Biochemistry, Monash University.

Pratiwi Sudarmono

Sumber: Humas FK UI

Ketika membicarakan sosok ilmuwan perempuan Indonesia, maka kita tidak bisa tidak menyebutkan nama Pratiwi Sudarmono. Boleh dibilang, Pratiwi merupakan astronot perempuan pertama Indonesia.

Sejak kecil, Pratiwi memang sudah tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan antariksa dan luar angkasa. Kala masih duduk di sekolah dasar, Pratiwi bercita-cita ingin menjadi bagian dari Indonesian Space Experiment (INSPEX).

Pratiwi menempuh studi di Universitas Indonesia dan mengambil jurusan kedokteran. Pada tahun 1977, ia berhasil mendepatkan predikat master. Kemudian, Pratiwi meraih gelar doktor di Jepang pada tahun 1984. Kala itu, ia melanjutkan studi di Research Institute for Microbial Disease, Osaka University.

Dari kelima tokoh perempuan di atas, kita diajak terus menyadari bahwa seorang perempuan juga mampu berjaya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat jelas dari jejak pendidikan para perempuan di Indonesia ini di bidang STEM.

Maka dari itu, tidak seharusnya seorang perepuan merasa inferior dibandingkan laki-laki. Perempuan memiliki kemampuannya sendiri dan bisa mendapatkan posisi yang sama seperti laki-laki.

Happy International Day of Women and Girls in Science ya, Kawan Rantau.

Kamu juga bisa membaca tentang jejak pendidikan jurnalis Indonesia di luar negeri.

Apakah Indonesia memiliki ilmuwan perempuan?

Tentu saja. Banyak sekali para ilmuwan perempuan Indonesia yang berprestasi seperti di bidang STEM. Berbagai penelitian telah mereka lakukan dan tentunya memberikan bukti bahwa perempuan Indonesia juga mampu berkontribusi di bidang ilmu pengetahuan.

Apakah ilmuwan perempuan Indonesia diakui secara internasional?

Berbagai temuan dan penelitian dilakukan oleh para ilmuwan perempuan Indonesia. Hal ini menghantarkan mereka mendapatkan penghargaan di bidang STEM, sebagai contoh ada L’Oreal-UNESCO for Women in Science Award yang diberikan tiap tahun untuk perempuan Indonesia.

Siapa saja para ilmuwan perempuan Indonesia yang bisa kita teladani?

Sosok-sosok perempuan yang dibahas dalam artikel ini merupakan para ilmuwan dari berbagai bidang di STEM. Mulai dari ahli bahan bakar, biologi, pengungkap pelaku bom bunuh diri, hingga astronot perempuan pertama Indonesia. Cari tahu pembahasan lengkapnya di dalam artikel ini ya, Kawan Rantau.