Hati-Hati, Beragam Kasus Buruk Praktek Kuliah Kerja di Dua Negara Asia Timur!

Bekerja adalah kunci bertahan hidup bagi sebagian pelajar asing, akan tetapi mereka tetap harus berhati-hati dengan modus penipuan kuliah kerja. Pasalnya, PPI Kawasan Asia-Oseania melalui Satuan Tugas (Satgas) Anti Kerja Paksa masih menemukan adanya praktik Kuliah Kerja Tidak Proporsional di dua negara Asia Timur. Satgas PPI Asia-Oseania yang terdiri dari perwakilan mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang menemukan sistem yang terindikasi perekrutan kerja abal-abal. Sebanyak kurang lebih 5000 mahasiswa terjerat kasus ini di Taiwan dan China. Para pencari kerja yang sebagian besar korban adalah mahasiswa baru mendapatkan kerugian secara moral karena diperlakukan secara semena-mena.

Sumber: Pexels

Dilansir dari situs resmi PPI Dunia, diduga praktek ini berasal dari sebuah agen di Surabaya. Modus ini menargetkan siswa-siswa lulusan SMA yang memiliki antusiasme tinggi ingin kuliah ke luar negeri di China dan Taiwan. Temuan tersebut cukup mengejutkan para anggota satgas karena masih terdapat pihak yang tega menghancurkan impian para mahasiswa.

Menurut pihak PPI Dunia, mereka menghimbau para calon mahasiswa untuk berhati-hati memilih prgram kuliah, “Satgas telah menemukan praktek ini di Taiwan serta Tiongkok, dan temuan ini cukup mengejutkan kami, karena disaat antuasisme kuliah ke luar negeri begitu tinggi, ada pihak yang tidak bertanggung jawab dan menyesatkan calon mahasiswa. Kami menghimbau kepada para mahasiswa Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menenetukan program kuliah ke luar negeri.” Ujar Nikko Ali Akbar, anggota Satgas Anti Kerja Paksa dari Tiongkok, dalam kegiatan Simposium PPI Kawasan Asia-Oseania 2019 di Kota Tianjin, RRT.

Kasus Kuliah Kerja di China

Sumber: CNN Indonesia

Modus ini dibangun dengan citra profesional sang agen penipu. Usai membantu pengurusan seluruh dokumen, para korban terbang menuju salah satu kota di Tiongkok bagian Selatan dengan status visa “study working”. Setibanya disana, korban dijemput untuk dibawa ke sebuah kampus dan diminta untuk menyerahkan sejumlah uang dengan kedok biaya visa dan akomodasi. Setelah itu, mereka dibawa ke sebuah pabrik untuk menjalani kerja paksa. Para korban wajib bekerja selama lima hari dan kuliah selama dua hari. Mereka tidak dapat kabur karena terdapat absensi, apabila tidak hadir maka mereka wajib lembur hingga jam dua dini hari. Para korban kerja paksa tinggal secara menyedihkan di pabrik dan digaji sebesar RMB 500 – 1000 (kurang lebih Rp 1000.000 – 2000.000). Mereka juga harus menelan kenyataan bahwa upahnya dipotong untuk uang kuliah sebesar RMB 700 (Rp 1.400.000).

Kasus Kuliah Kerja di Taiwan Viral

Sumber: Pexels

Tim Satgas membeberkan fakta lain bahwa agen pendidikan abal-abal berani memberikan iming-iming beasiswa kepada calon mahasiswa sehingga mereka dapat menabung untuk biaya pendidikan. Sang penipu ulung sekali dalam mempromosikan kuliah di luar negeri kepada mahasiswa baru yang masih polos.

PPI Kawasan Asia-Oseania  mendesak Pemerintah Indonesia untuk melakukan kunjungan langsung ke universitas dan mahasiswa yang saat ini sedang menjalankan program ini. Hal ini penting untuk mengetahui legalitas universitas dan program. Pasalnya, menurut temuan dari tim Satgas, ijazah dari universitas tersebut tidak diakui keabsahannya. Hal ini dapat menjadi bumerang bagi para korban jika mereka kembali ke tanah air karena menimbulkan kekhawatiran dan kekecewaan bagi keluarganya. Mereka bukan mendapat gelar yang diidam-idamkan, melainkan pengalaman buruk serta masa depan menjadi tidak terjamin.

“Merasakan tingginya antusiasme mahasiswa Indonesia untuk kuliah di luar negeri tanpa membebani orang tua, sangat disayangkan bisa terjadi kasus seperti ini, kami mendesak Pemerintah Indonesia untuk turun tangan langsung. Dan mendesak Kemenristek Dikti untuk memverifikasi agen-agen pendidikan yang memberangkatan mahasiswa ke luar negeri, khususnya ke daerah Asia Timur.” Tutup Galant Al Barok selaku Koordinator PPI Kawasan Asia-Oseania.

Tindakan Tegas Satgas Anti Kerja Paksa PPI Kawasan Asia-Oseania

Demi antisipasi jatuhnya korban kerja paksa lebih banyak, tim Satgas mencari, mendata dan memverifikasi mahasiswa Indonesia yang sedang mengikuti program Kuliah Kerja di negara Asia Timur. Mereka pun terus membangun komunikasi dengan pemerintah Indonesia supaya kasus ini tidak berakhir gantung. Para perwakilan mahasiswa Indonesia turut menyiapkan rekomendasi solusi bagi pemerintah Indonesia demi mengakhiri kejadian memilukan ini. Satgas Anti Kerja Paksa PPI Kawasan Asia-Oseania juga melampirkan nomor koordinator yang dapat dihubungi jika seseorang menemukan indikasi serupa pada agen tipuan. Catat dan simpan baik-baik nomor penting ini: Galant Al Barok (WA: +86 188 1322 7264)

Bagi kamu yang sedang menyiapkan berkas kuliah di luar negeri, berhati-hatilah memilih agen perjalanan. Kuliah sambil bekerja di luar negeri tidak dapat dilakukan secara instan. Kamu harus melewati serangkaian proses rumit nan melelahkan jika ingin menuntut ilmu di luar negeri. Hati-hati pula dengan modus mengirimkan dana. Pihak beasiswa yang resmi tidak akan menuntut kamu untuk mengirimkan sejumlah uang.