fbpx

Perkenalkan Siti Syahidati Fauzana: S2 Public Health di Chulalongkorn University

Halo, Anak Rantau! Kembali lagi dengan Profil Rantau. Kali ini, kami baru saja bincang-bincang seru dengan Siti Syahidati Fauzana, atau yang akrab dipanggil Nana, mahasiswi S2 Public Health di Chulalongkorn University, Thailand. Yuk, simak lebih lanjut perbincangan kami di bawah ini.

Boleh diceritain kah awal mula kamu kamu studi ke luar negeri?

Sebenarnya keinginan untuk kuliah di luar negeri sudah ada sejak masih S1. Dulu aku kerja sebagai asisten Profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI). Kebetulan beliau punya mahasiswa S3 FKM UI yang dulunya kuliah S2 di Australia, Mbak Dian namanya. Aku tanya-tanya ke beliau dan bilang kalau aku mau juga kuliah S2 ke luar negeri. Sejak itu, beliau rajin kasih info-info seputar beasiswa ke luar negeri.

Orang tua juga begitu, mereka sering share informasi seputar beasiswa ke luar negeri karena tahu kalau aku mau lanjut S2. Tapi, dari semua informasi itu banyak syarat yang aku nggak bisa penuhi karena permasalahan dokumen, aku di Depok sementara asalku dari Lombok. Selain itu, aku juga belum memenuhi nilai TOEFL yang disyaratkan. Nilai TOEFL ku di bawah 500. Untuk beasiswa luar negeri kebanyakan mereka mensyaratkan nilai TOEFL minimal 500.

Public Health, Chulalongkorn University
Sumber: Dokumentasi pribadi Nana

Suatu waktu, Mbak Dian share informasi terkait dengan beasiswa S2 di College of Public Health Sciences (CPHS), Chulalongkorn University dengan sistem active recruitment di Depok dan Yogyakarta. Di persyaratan tersebut tidak dituliskan minimal nilai TOEFL yang mereka inginkan. Dan persyaratakannya juga tidak sulit. Hanya beberapa dokumen seperti foto diri, paspor, sertifikat toefl, ijazah, dan transkrip nilai.

Syukurnya aku sudah punya semua dokumen yang mereka minta di G Drive. Jadi, tinggal upload karena hari aku dapat informasi itu adalah hari terakhir untuk pendaftaran. Beberapa minggu kemudian, aku dihubungi untuk mengikuti wawancara di Hotel Margo, Depok secara langsung dengan dekan CPHS. Setelah dinyatakan lulus tahap wawancara awal, proses seleksi dilanjutkan dengan wawancara via Skype oleh dosen-dosen CPHS.

Proses dari awal mendaftar sampai dinyatakan lulus itu memakan waktu sekitar 5 bulan. Karena nilai TOEFL di bawah 500, aku sempat batal mendapat beasiswa. Sampai akhirnya, entah berdasarkan apa mereka memutuskan tetap memberiku beasiswa meski sedikit berbeda dengan teman-teman Indonesia yang lain.

Mengapa kamu memilih Public Health di Chulalongkorn University?

Untuk jurusan sendiri aku pilih Public Health, linier dengan jurusan S1 dulu. Lebih spesifiknya aku pilih reproductive health karena memang aku tertarik di isu-isu terkait dengan reproductive health. Selain itu, Profesorku di UI juga berpesan kalau bisa ambil Reproductive Health karena Thailand adalah satah satu negara di Southeast Asia yang bagus untuk belajar terkait dengan hal tersebut.

Suasana kelas di Chulalongkorn University. Sumber: dokumentasi pribadi Nana.

Bisa diceritakan tantangan terbesar kamu saat berada di luar negeri?

Tantangan berada di luar negeri (Thailand) bisa dikatakan umum, seperti: bahasa, makanan, dan budaya. Chulalongkorn University itu terletak di pusat kota Bangkok yang merupakan destinasi turis mancanegara. Jadi, orang di sekitar sini sudah biasa dengan foreigner. Dan mereka sudah biasa kalau harus berbicara menggunakan bahasa inggris atau dengan bahasa isyarat. Tapi, agak sulit kalau ingin mempelajari bahasa Thailand karena dari segi tulisan saja kita sudah berbeda. Jadi, harus selalu sedia aplikasi translator di handphone.

Sebagai seorang muslim di negara dengan mayoritas beragama Buddha, menemukan makanan halal adalah salah satu tantangan. Syukurnya ada beberapa kantin kampus yang menyediakan makanan halal. Dan karena banyaknya turis asal timur tengah yang berlibur di Bangkok, banyak mall yang juga menyediakan makanan halal dan tempat salat. Thailand sebenarnya tidak asing dengan orang Islam karena mayoritas warga negara mereka di Thailand Selatan (berada dekat perbatasan Malaysia) adalah muslim. Jadi, terkadang mereka mengira bahwa aku juga orang Thailand. 

Sumber: dokumentasi pribadi penulis.

Menurut kamu, apa sih yang berbeda dari Thailand dengan Indonesia? Ada tidak pengalaman seru selama kamu tinggal di sana?

Perbedaan di Thailand dengan Indonesia itu sebenarnya lebih ke arah budaya mungkin, ya. Mereka di sini sangat menghormati raja mereka dan sangat tabu untuk membahas keluarga raja. Pernah sekali aku tanya ke teman sekelas terikait skandal raja mereka, dia bilang “Please don’t ask this question to anyone”. Bahkan dia nggak jawab sama sekali pertanyaanku.

Terus disini mereka terbuka banget soal orientasi seksual mereka. Maksudnya, kamu bisa tahu siapa gay dan lesbian secara langsung dari yang bersangkutan. Sempat syok juga waktu ada salah satu temen yang penampilannya laki-laki dan kita semua memang mengira laki-laki di awal karena dia masuk ke toilet laki-laki tapi ternyata jenis kelaminnya di daftar presensi adalah female.

Adakah perubahan yang kamu alami selama berada di Thailand?

Kalau untuk perubahan secara individu kayaknya nggak jauh beda, ya. Kadang malah suka ngerasa kalau nggak lagi di luar negeri, mungkin karena lingkungannya masih mirip-mirip sama jakarta.

Ada pesan untuk pembaca yang ingin merantau ke luar negeri?

Pesan untuk pembaca, mungkin lebih ke pesan untuk yang mau cari beasiswa kuliah di luar negeri. Persiapkan sejak sekarang. Jangan nunggu sampai nemu info beasiswa baru heboh tes TOEFL dan lain-lain karena kita nggak pernah tahu kapan kesempatan itu datang. 

Nah, itulah perbincangan kami dengan Nana yang kuliah Public Health di Chulalongkorn University. Kamu juga bisa membaca kisah Bella Evelyn yang menempuh jurusan ekonomi di UCLA, Amerika Serikat melalui tautan yang tersemat. Semoga menginspirasi, ya!

For Your Information

Apakah bisa lanjut S2 Kesehatan Masyarakat di luar negeri?

Tentu bisa. Kamu bisa melanjutkan S2 Kesehatan Masyarakat (Public Health) di luar negeri. Salah satu pilihannya adalah berkuliah di Chulalongkorn Public Health School (CPHS), Chulalongkorn University, Thailand.

Apa keuntungan kuliah di Thailand?

Suasanya yang tak jauh berbeda dengan Indonesia membuat berkuliah di Thailand menjadi lebih menarik. Tak perlu adaptasi lama-lama.

Apa yang harus saya persiapkan untuk bisa kuliah di luar negeri?

Persiapkan semua hal dari jauh-jauh hari supaya tidak ribet untuk melakukan tes TOEFL dan lainnya. Baca kisah Siti Syahidati Fauzana yang menempuh S2 Public Health di Chulalongkorn University, Thailand.

Ingin mengetahui cerita lain di Bangkok?