fbpx

Perkenalkan Rida Nadiatul: Lanjutkan kuliah di AUW, Bangladesh

Dear, Kawan Rantau! Kembali lagi dengan feature “Profil Rantau” yang akan mengajak kamu berkenalan dengan Kawan Rantau di luar negeri. Kali ini, kami dari Tim Rantau berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Rida Nadiatul yang melanjutkan kuliah di Asian University for Women (AUW), Bangladesh.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai kisah Rida selama berkuliah di Bangladesh? Mari simak percakapan kami berikut ini.

Bagaimana awal mula Rida menemukan dan akhirnya memilih Bangladesh, atau tepatnya di AUW, untuk melanjutkan kuliah?

kuliah di auw anak rantau
Sumber: dokumentasi pribadi Rida

Saya punya ketertarikan untuk kuliah ke luar negeri sejak kelas 4 SD karena alasan yang sederhana: “saya jatuh cinta dengan Bahasa Inggris!

Maka saat masuk SMA saya sudah cari-cari tahu tentang kuliah S2 ke luar negeri. Sejak itu sudah iseng-iseng cari informasi di Google mengenai “beasiswa ke luar negeri”. 

Sebenarnya saya juga ingin untuk S1, tapi saat itu saya terlalu minder karena terlalu banyak mendengar omongan negatif dari orang, “Ke luar negeri? Mana mungkin kamu bisa.” Saya sangat down saat itu. 

Makanya, saya pikir kalo S1 di Indonesia saja. Ya sudah. Saya coba ketuk sebanyak-banyaknya pintu. SNMPTN, SBMPTN, dan lainnya. Alhamdulillah di tahun saat saya lulus, saya lolos di UIN Bandung lewat Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN PTKIN). Tapi orang tua saya belum ada rezeki saat itu dan membuat saya harus menunda kuliah.

Lalu, saya memutuskan untuk bekerja. Bekerja juga tak lama, saya terlalu stres memikirkan masa depan dan cita-cita saya. Saat tahun-tahun gap year, saya mulai iseng cari teman secara online, berharap ada orang yang punya visi-misi sama seperti saya. Ternyata banyak sekali. 

Singkat cerita, saya banyak join grup-grup pemburu beasiswa. Saya juga pernah memberanikan diri untuk daftar beasiswa S1, ke Turki sampai dua kali, Malaysia juga pernah sekali. Tapi gagal. 

Saya lulus tahun 2016, gap year, lalu 2018 saya kuliah. Tapi hati saya berkata untuk tetap berjuang mendaftar beasiswa. 

Bangladesh bukanlah satu-satunya pilihan saya. Ada Korea, Malaysia, Turki, Jepang, Russia, dan China, tapi saya hanya apply Turki dan Malaysia. Bangladesh merupakan beasiswa terakhir yang saya apply di tahun 2019 dan satu-satunya beasiswa luar negeri yang menerima saya. 

Sebelumnya ada dua hal yang saya pertimbangkan, yakni negara dan universitasnya.

Kalau bicara tentang negaranya, saya bisa bilang, Bangladesh tidak cocok untuk mereka yang pengin hidup enak di luar negeri dan hobi foto-foto kece buat upload ke Instagram. Hidup di sini sangat keras, saya rasa lebih keras dari Jakarta. Sangat cocok untuk mereka yang suka tantangan dan ingin jadi kuat karena kehidupan. Do I make sense? Hehe. 

Hal lain yang saya pertimbangkan adalah universitasnya. Saya coba cari pengalaman-pengalaman mahasiswa Indonesia yang sudah kuliah di Bangladesh. Ternyata sedikit sekali. Bahkan bisa saya katakan saya cuma menemukan satu artikel dan itu nyari-nya susah sekali.

Mata saya mulai terbukakan sejak saat itu. Terima kasih, Kak Yulita yang dulu pernah nulis tentang Bangladesh. Blog, YouTube, website AUW (www.asian-university.org) juga sudah saya ubek-ubek. Saya sangat tertarik dengan misi mereka yang fokus pada pendidikan perempuan dan mempunyai misi untuk mencetak leader perempuan di Asia. Kurikulum dan jurusan yang tersedia juga menarik minat saya untuk memilih AUW. 

Saya pikir, tak masalah mau dimana pun tempatnya, yang terpenting adalah pendidikan yang saya dapatkan, dan beasiswanya fully funded.

Berdasarkan profil yang Rida tuliskan, Rida menempuh studi public health. Kenapa Rida tertarik dengan bidang ini?

Selain saya tertarik untuk belajar tentang ilmu gizi dan mental health yang mana merupakan cabang dari ilmu kesehatan masyarakat, ada cerita pribadi yang membuat saya memantapkan hati untuk memilih jurusan ini. 

Jadi ceritanya, sekitar tiga tahunan Mama saya sakit ginjal. Saya sering mengantarnya ke rumah sakit. Kebetulan di sana saya banyak bertemu pasien lain dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka dengan tulusnya menceritakan cerita mereka, perjuangan mereka mengantar keluarga mereka kemana-mana supaya bisa sembuh, bahkan sampai ada yang ke luar kota. Bertahun-tahun mereka lakukan itu semua demi keluarganya.

Saat itu, saya merasa tersentuh. Rasanya saya ingin membantu mereka. Saya berpikir seandainya saya jadi dokter ahli ini-itu, saya ingin buka praktik sendiri dan memberi pengobatan gratis untuk orang-orang yang tidak mampu di daerah saya. 

Sejak saat itu saya ingin kuliah jurusan Kedokteran. Saya belajar siang-malam dan doa dikencangkan supaya saya bias lolos. Tapi saat itu saya gagal. Allah belum mengizinkan saya.

Akan tetapi, pada tahun 2019, Allah mengizinkan saya berkuliah di sini, Asian University for Women. Mungkin Allah belum mengizinkan saya untuk kuliah kedokteran, tapi Allah tempatkan saya di sini dengan jurusan yang sama-sama di bidang kesehatan hanya berbeda fokus. Mungkin saya gagal jadi dokter, tapi siapa tahu, mungkin saja di masa depan, saya yang akan mempunyai rumah sakit dan memperkerjakan dokter-dokter lulusan PTN/S top di Indonesia. Aamiin.

Berhubung kuliah di Bangladesh bagi pelajar Indonesia masih jarang didengar, apakah Bangladesh itu ramah bagi pelajar internasional? 

Hmm. Bagaimana, ya? Hehe. Siapkan saja mental baja untuk menghadapi bisingnya kendaraan, terutama di ibu kotanya Bangladesh, Dhaka. Jangan kaget dengan WC umum yang nauzdubillah, haha. Juga, sampah dimana-mana.

Tapiiii, eh, tapi. Kalau untuk kehidupan di dalam kampus, saya bisa jamin. Tempatnya bersih, nyaman, orang-orangnya baik semua (orang sini kebanyakan baik sih menurut saya. Mereka juga helpful), dan, security check dan lain-lain terkait keamanan sangat diutamakan di AUW.

Menurut Rida, apa yang membuat AUW unik? Apa saja kelebihan dari AUW, Bangladesh selama Rida kuliah di sana?

kuliah di auw anak rantau
Sumber: dokumentasi pribadi Rida

Lingkungan AUW yang sangat diverse membuat AUW sangat unik. Di sini saya mendapat kesempatan bertemu mahasiswi dari berbagai negara di Asia dan Timur-tengah.

Selain itu, dari kampus sendiri, banyak hal yang bisa mendukung kita baik akademik maupun non-akademik. Kalau di Indonesia ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), di sini kita namanya Students’ club. Ada sekitar 23 clubs. Daftarnya bisa dicek di website AUW. Saya sendiri ikut Photography Club, Voluntary Club, Multilingual Club, Japanese & Arts Club, dan Culinary Chef Club.

Di sini juga kalau teman-teman berminat, ada banyak kesempatan yang terbuka lebar untuk internship ke luar negeri, student exchange, dan lainnya. Oh iya, di dalam kampus juga ada yang namanya Science & Math Center dan Writing Center. Kalau teman-teman ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, kalian bisa book appointment nanti bisa dibantu. 

Apa tantangan terbesar kamu saat berada di luar negeri? Bisa diceritakan tantangan secara akademis maupun secara umum.

Untuk awal-awal sekitar bulan pertama agak minder masalah komunikasi. Di sini komunikasi memakai Bahasa Inggris. Jujur dulu Bahasa Inggris saya pasif sekali. Di chat bisa nulis panjang lebar, tapi kalau in real life, mungkin enggak lebih dari satu kalimat.

Dulu saya punya pikiran, bahasa inggris saya jelek. Pokoknya buat ngomong saja malu rasanya. Tapi karena di sini siswa-siswanya bukan native, jadi saya PD. Ternyata, Indonesian accent enggak jelek-jelek amat. Malah kalo saya bandingkan, aksen kami, lebih jelas pronunciation-nya dan hampir mendekati American accent. Haha.  

Secara akademis, enggak terlalu ada kendala. Mungkin ya itu, awal-awal karena bahasa, belum terbiasa berinteraksi pakai bahasa Inggris. Jadinya agak kaku. Tapi lama-kelamaan, Alhamdulillah lancar.

Oh iya, ada juga tantangan lain yang mostly dihadapi pelajar internasional di sini yaitu kurang cocoknya lidah kami dengan masakan di sini yang kebanyakan kari kuning. Terutama orang Indonesia yang tiap hari pasti makan micin.

Menurut kamu, apa perbedaan antara Indonesia dan Bangladesh? Mungkin bisa dari lingkungan, budaya atau apapun yang kamu rasa paling berbeda saat berada di Bangladesh.

Ya, ada. Lingkungan, pendidikan dan budaya.

Kalau soal lingkungan, jelas Indonesia yang menang, hehe. Orang-orang di sini agak ignorant soal kebersihan lingkungan. Gimana ya ceritainnya? Saya saja enggak tega (tertawa). Mungkin karena budaya di sini yang udah melekat dari dulu? Saya enggak tahu. Pokoknya kebanyakan mereka itu jorok (tertawa).

Perbedaan lain di pendidikan yang saya dapatkan: sebelum memutuskan untuk pergi ke Bangladesh, saya sudah pernah berkuliah di Indonesia selama setahun. Di Indonesia, di universitas saya yang dulu, model belajarnya sangat tradisional. Dosen menerangkan, siswa memperhatikan, sesi tanya-jawab ada sih, Cuma biasa-biasa saja. Persis seperti waktu saya sekolah dulu. Kita hanya terpaku pada buku/modul yang diberikan.

Di sini, karena model pengajarannya American style, kita sebagai mahasiswa dituntut untuk aktif dalam diskusi, bertanya, dan berpikir kritis. Resource yang diberikan juga bervariasi. Selain itu dosen-dosen di sini sangat mumpuni, dan peduli pada mahasiswanya.

Apa saja pengalaman paling mengesankan yang kamu rasakan selama berada di Bangladesh? Boleh pengalaman apa saja, baik akademis maupun secara umum.

Waktu itu, saya dan teman saya, Haliza mau pergi ke Shopping Bag (minimarket) untuk beli bahan-bahan buat masak seblak. Jauhnya sekitar 1 km dari kampus. Cuaca agak mendung saat itu. Pas pulang, ternyata kami terjebak hujan. Saya kaget, belum lama sejam sudah banjir saja seperut.

Kami kebingungan. Banyak orang yang memaksakan diri utuk mengarungi banjir saat itu. Saya kaget (lagi), lihat airnya kotor sekali. Bau pula. Baju kami basah dan bau. Saya geleng-geleng kepala. Saat kami coba berteduh, ada seorang Bhaia (sebutan untuk kakak laki-laki) bilang, “This is nothing in Bangladesh”. WTF. Saya makin kaget dengarnya.  Banjir di Bangladesh rasanya seperti tsunami (tertawa).

Adakah perubahan yang kamu rasakan selama berada di Bangladesh? Khususnya perubahan secara individu, ya.

Ada. Pengalaman yang saya dapatkan menjadikan saya menjadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang saya punya, juga membuat pola pikir saya jadi lebih terbuka. 

Adakah tips dan tricks bagi Kawan Rantau dalam mendaftar beasiswa AUW dan melanjutkan studi di AUW, Bangladesh?

Tips sebelum daftar

Pesan saya, mau daftar di mana pun itu. Cobalah banyak-banyak baca. Banyak-banyak cari tahu. Research. Jangan jadi pejuang yang malas. Sudah banyak orang yang share cerita pengalaman mereka di internet, coba baca semuanya, sampai paham.

Ubek-ubek website pemberi beasiswa. Jangan sedikit-dikit nanya. Jujur saya sendiri kalo nanya ke orang kurang puas. Lebih senang cari tahu sendiri. 

Sesudah daftar

Banyak berdoa, bersedekah, dan persiapkan diri untuk tes wawancara.

Pas saya wawancara, saya pikir yang paling menentukan diterima atau tidaknya di beasiswa ini adalah saat wawancara. Tips dari saya, be yourself. Saat saya wawancara beasiswa, saya sebisa mungkin jujur dengan interviewer. Selain itu, yang paling penting adalah menceritakan pengalaman pribadi. Intinya harus ada emotional appeal.

Apa pesan untuk pembaca yang ingin berkuliah di luar negeri?

Chase your dream, and don’t give up!

Demikianlah obrolan kami dengan Rida yang melanjutkan kuliah di AUW, Bangladesh. Ternyata seru ya kuliah di AUW, Bangladesh! Kalau kamu ingin lebih kenal dengan Rida dan ingin tahu lebih banyak pengalaman dan kisahnya jangan lupa mampir ke blog-nya disini ya!

Pada dasarnya, dengan rajin mencari informasi, mendapatkan beasiswa bukanlah suatu hal yang sulit. Jadi, jangan pernah menyerah ya, Kawan Rantau.

Baca juga highlight dari acara wisuda virtual terbesar di YouTube yang bertajuk Dear Class of 2020.

For Your Information

Apa itu AUW?

Asian University for Women (AUW) merupakan universitas khusus perempuan yang ada di Bangladesh. Universitas ini memiliki misi yang berfokus pada pendidikan perempuan.

Bagaimana rasanya kuliah di AUW, Bangladesh?

Bacalah artikel ini untuk membaca kisah Rida, mahasiswi di AUW.

Ingin mengetahui cerita lain di Dhaka?