Perkenalkan Natasha: Jurusan Food Technology di Wageningen University, Belanda

Ceritakan awalnya bagaimana kamu studi ke luar negeri?

Awalnya memang dari dulu (dari SD atau SMP) sudah bercita-cita ingin studi di luar negeri dan orang tua juga mendukung karena itu juga harapan mereka. Karena saya mengambil S1 FoodTech di Indonesia, saya berencana mengambil S2 di bidang Nutrition/Food, dan Wageningen University cukup menarik dari segi kualitas dan biaya.

Ceritakan jurusan yang kamu tempuh di luar negeri?

Saya sekarang sedang menempuh S2 di Wageningen University, Belanda, jurusan Food Technology. Jurusan FoodTech di Wageningen memiliki banyak spesialisasi, saya sendiri memilih spesialisasi di bidang Product Design.

Ceritakan tantangan terbesar / culture shock ketika di luar negeri?

Pertama-tama, di luar negeri harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Mulai dari urusan administrasi, urusan pindahan (membeli, mengangkat, dan assemble furniture sendiri), dan melakukan segala jenis house chores, sangat berbeda dengan di Indonesia yang sangat dimudahkan dengan adanya layanan-layanan seperti ojek online misalnya.

Kalau dari segi culture, orang Belanda sangat straightforward, to the point, apa adanya tanpa basa-basi. Waktu awal disini, saya dan orang-orang Indonesia yang terbiasa dengan basa-basi mungkin agak tersinggung dengan kritik yang disampaikan dengan sangat gamblang walaupun sebenarnya maksud mereka adalah untuk membangun bukan menjatuhkan. Budaya ini bahkan juga berlaku kepada orang yang lebih tua dan atasan (power distance-nya sangat rendah), sangat berbeda dengan di Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun terutama ke orang yang lebih tinggi derajatnya.

Sistem penilaian di Belanda juga cukup menantang, karena untuk mencapai nilai 8.5 keatas itu sangat sulit dan bahkan ada dosen yang berkata bahwa mencapai nilai 9 itu impossible (apalagi nilai 10).

Ada pengalaman paling menyenangkan & menyedihkan selama masa kuliah?

Pengalaman menyenangkan dari kuliah di Belanda yaitu bertemu dengan banyak teman-teman dari berbagai negara dari seluruh penjuru dunia, kesempatan untuk travelling ke negara-negara sekitar di Eropa, dan mencicipi kehidupan di negara maju yang sangat teratur dan tertib. Pengalaman menyedihkan yang saya hadapi yaitu kesepian, homesick (kangen banget sama masakan Indonesia) dan beban kuliahnya yang berat.

Ceritakan perubahan individu yang kamu alami ketika di luar negeri?

Secara personal, saya menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih kuat secara jasmani (sehari-hari naik sepeda), mentally (pola pikir pantang menyerah), dan rohani. Saya juga belajar untuk menghargai hal-hal kecil dan lebih menghargai waktu-waktu yang dapat dihabiskan bersama keluarga dan teman-teman lama ketika sedang pulang ke Indonesia. Saya juga banyak belajar dari Dutch culture untuk lebih straightforward dan punya pola pikir yang lebih open-minded.

Ada pesan untuk pembaca yang ingin merantau ke luar negeri?

Jangan mau merantau hanya karena gengsi/keren. Cuma karena liat orang yang sekolah di luar “Jalan-jalan terus” jadi pengen. Padahal ya yang di post ya bagian senengnya aja. Yang susah, sedih, tak perlu dipublikasi ya kan 🙂 Kuliah di luar negeri itu tidak mudah, jadi coba dipikirkan dahulu baik-baik.

Submission: Profil Rantau dibangun oleh rekomendasi komunitas Anak Rantau; jadi bila kamu mengetahui seseorang yang dapat berbagi pengalaman hidup di luar negeri, tolong beritahu kita di sini.