Bekerja di Luar Negeri, Ini 3 Perbedaan yang Akan Kamu Alami

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai beberapa alasan kenapa sebagian orang memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Bagi kamu yamg belum membaca, sangat dipersilakan untuk membaca artikel tersebut terlebih dahulu ☺

Bekerja di Indonesia dan di luar negeri tentu memiliki banyak perbedaan yang mencolok meski tidak sedikit pula persamannya. Hal ini didasari karena culture yang berbeda dari tiap negara. Memungkinkan setiap negara memiliki pola, aturan, dan ritme kerja yang berbeda pada setiap pekerjaan dan pekerjanya. Di sisi lain, bekerja di luar negeri tentu menawarkan berbagai tantangan baru yang tentunya akan mempengaruhi pola pikir dan sikap kamu nantinya. Siapa yang tidak suka tantangan, coba?

Dilansir dari akun youtube Hidayat Squad, kamu perlu tahu beberapa perbedaan jika bekerja di Indonesia dengan di luar negeri. Ingat, ini bukan membandingkan ya, hanya untuk menambah pengetahuan kamu.

“Atasan dan bawahan” sering disebut partner kerja tapi punya ‘gap’ yang jauh

Seringkali rasa segan yang berlebihan terhadap atasan di kantor membuat hubungan menjadi jauh atau sekedar sapa formalitas. Padahal sikap seperti ini justru menghambat kinerja dan proses berpikir kreatif kamu, lho

Di luar negeri, biasanya atasan dan bawahan adalah partner kerja. Culture kerja yang membuat di antara ke duanya saling terbuka terhadap diskusi-diskusi hal baru dan munculnya ide-ide kreatif. Sehingga ‘gap’ yang biasa tercipta itu tidak kasat mata karena atasan dan bawahan sejalan dalam menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di kantor.

Fokus pada job desk pribadi, perusahaan jarang menuntut kamu untuk multitasking

Biasanya dalam sebuah rancangan kerja, ada yang nama kinerja pribadi dan ada kinerja kelompok yang sama-sama harus diselesaikan sesuai target operasional. Tapi kamu suka pusing ga kalau harus membackup tugas orang lain di saat tugas sendiri masih panjang perjalanannya? Hayo ngaku..

Beberapa negara maju cenderung menuntuk pegawainya untuk fokus terhadap tugas pribadi terlebih dahulu. Tidak harus multitasking namun pastikan job desk pribadi kamu sesuai dengan target yang diinginkan perusahaan. Hal ini tentu membuat kamu lebih fokus terhadap proses dan hasil karena sifat pekerjaan yang ‘mengerucut’.

Disiplin terhadap waktu bukan berarti kamu tidak bisa bersikap fleksibel

Portrait of businessman with touchpad working in office

Walaupun sudah ditetapkan jam kerja selama delapan jam tapi realitanya seringkali molor. Bisa karena tugas yang datang tiba-tiba di luar perkiraan atau alasan sederhana, kamu tidak enak duluan pulang kalau atasan masih nangkring di kantor. Pernah mengalami kan?

Pekerja di luar negeri dikekang pada waktu yang disiplin. Jika waktu bekerja semisalnya delapan jam maka pastikan jam kerja kamu sesuai dengan standar tersebut. Tidak perlu sungkan atau takut tugas datang tiba-tiba, jika sudah cukup delapan jam maka kamu dipersilakan meninggalkan kantor. Hal ini sebagai bentuk bahwa perusahaan juga menghargai waktu yang dimiliki oleh karyawannya. Selain itu, jangan khawatir jika suatu ketika kamu harus ijin untuk bekerja setengah hari karena ada appointment dengan dokter. Beberapa negara, seperti Amerika, sangat mengerti bahwa kunjungan dokter sangat mungkin dilakukan pada saat jam kerja.

Bagaimana? Tertarik untuk bekerja di luar negeri? Hahaha, Di dalam atau di luar negeri sebenarnya tidak masalah selama kamu bertanggung jawab dan senang atas pekerjaan tersebut. Enjoy your time!