fbpx

Perkenalkan Nikko Akbar: Belajar Kedokteran di Chongqing Medical University, China

Salah satu jurusan yang menjadi favorit di negeri tirai bambu adalah jurusan kedokteran. Selain kualitas pendidikannya yang tak kalah dari negara lain, jurusan kedokteran di China juga menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Sebagai contoh adalah jurusan kedokteran di Chongqing Medical University. Kira-kira, seperti apakah keseruan berkuliah di jurusan yang satu ini?

Kali ini, kami dari Tim Rantau baru saja melakukan wawancara dengan Nikkolai Ali Akbar Velayati atau yang akrab disapa Nikko Akbar atau Nikko. Saat ini, Nikko sedang menjalani tahun kelima di S1 Kedokteran Umum (Bachelor of Medicine & Bachelor of Surgery/MBBS) Chongqing Medical University, China. Selain aktif berkuliah, Nikko juga merupakan pengurus aktif di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia dan Tiongkok. Di kala senggang, Nikko juga bekerja paruh waktu sebagai penerjemah untuk bahasa Mandarin-Indonesia.

Berikut hasil wawancara kami dengan Nikko. Mari disimak, Kawan Rantau.

Bagaimana awal mula Nikko tertarik untuk kuliah di luar negeri?

Nikko dan teman-teman saat menikuti kelas Regional Anatomi. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Hmmm. Sebetulnya karena ingin menerjemahkan ungkapan “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”

Jadi, yaa, akhirnya berangkat lah ke sana (tertawa). Selain itu karena ingin memperluas wawasan. Aku yakin dengan belajar ke luar negeri, pada akhirnya bisa menambah pengalaman yang enggak bisa didapatkan di Indonesia. Selain itu, pengin mempelajari pengobatan tradisional China secara langsung juga.

Mengapa Nikko memilih China untuk melanjutkan studi di luar negeri?

Motivasi utamanya sih awalnya penasaran. Karena di sana (China), pengobatan modern dan tradisional sama-sama diakui. Bahkan, di apotek-apotek juga dijual kedua jenis obat tersebut. Di rumah sakit juga ada departemen khusus pengobatan tradisional atau Traditional Chinese Medicine (TMC).

Menurut Nikko, apa perbedaan dari jurusan kedokteran di Indonesia dengan di China?

Nikko saat mengikuti kegiatan volunteering di Chongqing Life & Health Museum. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Kalau selain tambahan mata kuliah pengobatan tradisional China, secara keseluruhan hampir sama kayak di Indonesia, sih. Jadi, kalau di kampusku, 5 tahun kuliah di kampus dan 1 tahun terakhir koas di rumah sakit. Di tahun ke-5 sebenernya hitungannya 50:50 karena ada kelas di kampus dan ada juga kelas di rumah sakit. Nah, ketika di rumah sakit itu juga diajak ke kamar pasien untuk nanya-nanya kondisi mereka dan latihan diagnosa. Untuk total waktu perkuliahan sendiri itu 6 tahun.

Oh, iya! Untuk matkul anatomi di sana sudah tersedia kadaver (mayat yang digunakan ketika praktikum kedokteran). Jadi kita enggak perlu repot-repot nyari dan beli lagi. Enggak kayak di Indonesia.

Bagaimana awal mula memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran di Chongqing Medical University?

Awalnya sih enggak menyangka bakal beneran bisa ke China. Sempet nyari-nyari info juga untuk ke negara-negara lain kayak Singapura sama Australia. Tapi ternyata enggak ada yang cocok, utamanya dari segi biaya dan beasiswa (tertawa). Terus, pas tahu ada info pameran pendidikan ke China di Surabaya, coba datang dan tanya-tanya. Eh, ternyata lumayan cocok dan akhirnya coba daftar di kedokteran, Chongqing Medical University. Terus, ngelengkapin syarat pendaftaran. Alhamdulillah, diterima beserta beasiswanya juga.

Kalau untuk bahasa pengantar perkuliahan selama di China menggunakan bahasa apa?

Kegiatan volunteering di Chongqing Life & Health Museum. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Kalau untuk perkuliahan memang pakai bahasa Inggris, sih. Tapi, kalau mau jalan untuk beli makan dan lainnya, otomatis pakai bahasa Mandarin. Untungnya, dari semester 1 sampai semester 5 memang dikasih pembelajaran bahasa Mandarin. Pembelajaran ini sudah termasuk dalam perkuliahan. Jadi, enggak perlu khawatir banget.

Sebelum berangkat pun, aku sempat belajar bahasa Mandarin juga sekitar 10 bulan. Jadi lebih siap sebenernya.

Apa tantangan yang Nikko rasakan selama tinggal di China?

Tantangan paling utama untuk survive pas awal-awal, sih. Soalnya kan, dari segi bahasa, makanan, sama kebiasaan juga beda banget. Jadi, pas awal-awal masih ngerasa kudu adaptasi lagi sama suasana dan lingkungan baru. Tapi seru sih, ketemu sama orang-orang dari berbagai negara yang berbeda. Jadi bisa tahu sudut pandang mereka tentang satu hal sesuai dengan kebiasaan dan culture yang ada di negara mereka masing-masing.

Kalau menurut pandangan Nikko, apa perbedaan yang paling terasa antara Indonesia dengan China?

Para pelajar Indonesia di China saat mendapat kunjungan dari Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Yang cukup terasa itu dari segi etos kerja dan belajar, sih. Maksudnya, orang China lebih gila belajar memang. Tiap hari, entah pagi, siang atau sore, di manapun (kelas, taman, lapangan jogging, dan lainnya), selalu kelihatan orang China bawa buku sambil komat-kamit mempelajari materi yang sudah mereka terima. Jadi soal semangat belajar, mereka patut diacungi jempol, deh. 

Yaa, mungkin itu karena tuntutan juga, sih. Soalnya mereka memang ada semacam ujian nasional yang menentukan nasib mereka ke depannya. Bukan cuma kelulusan, tapi sampai karir ke depannya. Gaokao namanya. Ini dari mereka lulus SMA, sih. Kalau di kita kayak SBMPTN, tapi jauh lebih ketat dan sulit katanya.

Selama tinggal di China, apa perubahan yang Nikko rasakan?

Hmm, pendewasan diri dan mematangkan pemikiran untuk merancang masa depan, sih. Maksudnya, selama sekolah (SMA) dulu, memang ada keinginan mau jadi apa. Mau ke mana. Tapi kayak kurang optimal untuk mempersiapkannya. Mungkin karena masih bergantung ke orang tua.

Akan tetapi, ketika jauh dari siapapun. Apalagi enggak ada satu orang pun yang kukenal pas pertama kali ke sana. Jadi bener-bener merasa bertanggung jawab atas semua perbuatan yang aku lakukan. 

Apalagi kalau udah mikirin karir ke depannya bakal seperti apa dan di mana. Itu seketika langsung galau (tertawa) karena semakin ke sini semakin banyak pandangan, banyak masukan, dan semuanya menarik. Jadi, awalnya bingung kudu gimana, tapi akhirnya setelah mencoba menata diri dan pikiran lagi, sekarang mencoba meraih apa yang bisa diraih. Sembari mengambil segala macam kesempatan yang aku yakin bakal bisa berguna untuk masa depan. 

Jadi, sekarang sudah belajar untuk setting masa depan sesuai dengan rancanganku sendiri dan belajar lebih tangguh. Dalam artian bahwa enggak peduli seberapa capek atau suntuknya kita, kalau kita nyerah sekarang ya semua bakal jadi percuma. Ibaratnya, kalau mau mahat batu untuk dijadikan patung yang indah, ya batunya kudu kuat dan kokoh dulu, kan. Enggak boleh gampang hancur.

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, kamu juga aktif di PPIT dan PPI Dunia. Bagaimana cara Nikko membagi waktu untuk semua kegiatan?

Nikko bersama dengan Badan Pengurus Harian (BPH) PPI Tiongkok Pusat dan ketua cabang di kegiatan LDK PPI Tiongkok Region Selatan. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Lebih ke arah mencoba untuk profesional aja, sih. Jadi, maksudnya kalau pas lagi belajar, aku bakal fokus belajar dan enggak mau diganggu sama urusan organisasi. Nah, tapi kalau pas urus organisasi, ya fokus ke situ dulu sampai udah kelar semua urusan. Baru balik belajar lagi sama refreshing dan ibadah untuk support mental dan spiritual juga (tertawa).

Apa saja pengalaman seru dan juga sedih yang dapat Nikko bagikan selama tinggal di China?

Untuk pengalaman serunya, pas tahun pertama pernah ikut kompetisi seminar di kampus untuk pertama kalinya. Jadi, aku dan tim menyusun semua bahan presentasi dari hasil-hasil riset yang ada. Kita presentasikan di hadapan semua orang sekampus dan waktu itu, timku satu-satunya yang dari tahun pertama. Sisanya senior-senior yang otomatis pengalaman dan ilmunya lebih banyak dari kita, kan. Eh, enggak disangka, Alhamdulillah timku yang menang dapet juara 1. Itu bener-bener seneng banget dan nggak nyangka. Salah satu momen kuliah tak terlupakan seumur hidup.

Pengalaman sedihnya, pas akhir tahun ketiga, kudu cuti kuliah. Padahal, perkuliahan dan organisasi lagi bagus banget saat itu, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya memutuskan untuk cuti selama satu tahun dari perkuliahan. Ninggalin semua temen-temen dan sejenak menetralkan diri dari semua angan dan impian. Baik yang berkaitan dengan kuliah maupun organisasi. Mengisi waktu cuti dengan jadi guru les dan melakukan hal-hal lain yang belum sempat kulakukan. Pas ini juga jadi proses menenangkan pikiran dan perasaan, sih. Sambil coba refleksi lagi semua target dan impianku, karena ada banyak yang bisa dibilang ngedistract aku dari itu semua. Tapi Alhamdulillah udah balik kuliah lagi sampai sekarang. Insya Allah, tetep stay on the right track, nih (tertawa).

Berkaitan dengan virus Corona, apakah Nikko sekarang masih stay di China? Bagaimana kondisi di sana?

Untuk sekarang, sudah di Indonesia sih sebenernya (tertawa).

Terkait kondisi di sana, penyebaran virusnya emang cepet banget. Terakhir kucek, sudah ada sekitar lima puluh ribuan orang yang terinfeksi. Dua ribuan orang meninggal, tapi ada seribuan orang sudah sembuh. Lalu, seluruh kampus sudah diberi instruksi untuk melarang mahasiswanya kembali ke kampus sampai waktu tidak ditentukan. Mulai hari Senin kemarin (17/02/2020), kampusku menetapkan perkuliahan secara online (tertawa). 

Apa pesan yang bisa Nikko sampaikan untuk para pembaca yang pengin melanjutkan kuliah di luar negeri?

Kegiatan Cultural Day Di Chongqing Medical University. Sumber: dokumentasi pribadi Nikko.

Tetap ingat dan fokus ke tujuan awal ke luar negeri itu untuk apa, karena itu yang bakal jadi pegangan di saat kita mulai goyah dan capek. Selama kita ingat tujuan utama datang ke suatu negara tertentu untuk apa, Insya Allah, apapun yang terjadi, semua yang pasti kita targetkan di awal pasti akan tercapai. Di waktu dan dengan cara yang tepat tentunya. Keep resilient, keep on fighting no matter what happens!

Demikianlah obrolan kami bersama Nikko, mahasiswa S1 Kedokteran di Chongqing Medical University. Tentu untuk memilih melanjutkan kuliah di luar negeri bukanlah keputusan yang main-main. Kamu harus mampu menimbang risiko yang mungkin muncul nantinya. Jadi, pikirkan baik-baik tujuan awalmu ya, Kawan Rantau.

Kamu juga bisa membaca kisah Velicya Aurelia Wiranata, mahasiswi D3 Crossborder E-Commerce di Yellow River Conservancy Technical Institute (YRCTI), China.

Ingin mengetahui cerita lain di Chongqing?