fbpx

Perkenalkan Michael Andrian: Jurusan Simulasi di Academy of Art University, San Francisco

Hallo teman-teman pembaca! Sebelumnya penulis ingin mengucapkan terimakasih, pada banyak narasumber yang bersedia membagikan kisah dan pengalaman mereka untuk struggling hidup dan belajar di luar negeri.

Hari ini Anak Rantau ingin mengenalkanmu kepada Michael.

Halo Michael, boleh diceritakan bagaimana awalnya kamu studi ke luar negeri?

Halo nama saya Michael, umur 24 dan saya ambil jurusan Simulation di Academy of Art University, San Francisco, USA. Pertama kali waktu mau studi ke luar negri itu karena ingin mengambil jurusan Filmmaking dan sayangnya pas tahun 2013 – 2014 itu belum ada banyak jurusan perfilman. Yang aku tahu dulu ada SSR, UI dan SAE. Karena kertebatasan itu akhirnya aku decide untuk pergi ke Amerika untuk targetnya masuk ke Chapman University.

Jadi apa yang kamu pelajari dan kerjakan ketika sudah di Amerika?

Sebelum gw ke university, gw decide untuk ambil college dulu di Foothill, disana gw join student governmentnya Foothill yang bernama ASFC dimana gw jadi Marketing Coordinator untuk handling semua event documentation. Pertamanya, gw join student organisation itu untuk actively increase skill gw sebagai filmmaker dan constantly deliver video on time, tapi as time goes on gw baru sadar kalo ternyata Foothill itu berada di tengah tengah Sillicon Valley dimana pas masa jayanya sewaktu Uber, Lyft muncul dan startup-startup ecosystem lain juga rising. Disana roomate gw juga programmer dan karena temen gw semuanya programmer, akhirnya gw tertantang untuk mencoba mengambil kelas programming.

Ketika belajar programming apa saja tantangannya? Dan bagaimana kamu akhirnya kembali menekuni perfilman dengan jurusan simulation?

Pertama sih programming sulit, tapi untungnya gw dapet guru yang super baik banget. Gw selalu nanya setelah kelas dan dia yang bantu gw untuk jadi confident dengan programming dan merubah persepsi gw tentang programming. Sampe-sampenya gw extend satu quarter di college untuk ngambil kelas programming lagi untuk mendalami field itu. Setelah gw transfer sebenernya gw agak dilemma pengen ambil programming atau tetep pursue filmmaking. Nah, di suatu malam pas gw main bulutangkis di “Bintang” gw bertemu temen-temen dari Academy of Art dan mereka bilang ternyata AAU ada program filmmaking juga.

Pas research research gw nemuin ternyata AAU itu juga salah satu kuliah paling bagus untuk animation dan di jurusan itu sendiri juga ada subfield untuk programmer. Jadi gw ambil deh jurusan animation yang paling susah yaitu ‘simulasi’ jadi penengah antara film dan programming. Dari experience gw juga mikir kalau film itu only as good as its weakest link, dan di Indonesia itu weakest link kita adalah visual efek. Dengan begitu aku ambil deh visual efek.

Sewaktu di Academy of Art, tahun pertama itu sebenernya belum tahun konsentrasi. Tapi karena aku untungnya bisa skip banyak kelas basic seperti after effect dan adobe premiere, aku jadi bisa ambil kelas advance di tahun pertama. Pas pertama kali aku ambil kelas simulasi aku itu cuman ada dua kelas dan kelasnya sangat outdated. Karena memang pas waktu itu kelas ‘simulasi’ itu tidak seterkenal seperti kerjaan animator, compositor atau texture artist. Untuk perspektif, di satu kampus cuman ada 15 orang dengan jurusan simulasi dan itu termasuk aku. 15 orang itu juga adalah minimum requirement agar kelasnya bisa mulai. Jadi sewaktu itu untuk ambil kelas simulasi on-site sering sekali di cancel sampai aku takut kalau misalnya aku belum bisa ambil semua kelas simulasi sampe aku lulus.

Jadi aku ambil inisiatif untuk kenalan dengan 15 orang itu dan kita bikin roster dan janjian untuk ambil kelas bareng bareng. Setelah aku kenalan sama semua orang simulasi, kita me-request kelas baru dengan updated curriculum memakai software Houdini. Untungnya request kita selalu di approve dan kita dapet guru dan mentor sangat jago dari Industrial Light and Magic yang membikin 4 kelas baru untuk Houdini.

Di tahun itu aku juga memulai projek live action short film bersama teman-teman Indonesia dan Korea aku ber 6 orang. Sewaktu itu, short film live action dengan photo real character juga belum banyak yang berani jadi pas kita berhasil bikin itu kita dapat juara dua di live action short film category. Untungnya, dengan background filmmaking aku dan knowledge baru aku yang aku belajari di AAU, aku mengerti pipeline visual efek. Kita juga melakukan banyak trial and error sewaktu itu untuk mendapatkan result paling realistik.

Apa sih tantangan atau culture shock terbesar yang harus ditempuh sewaktu kuliah di Amerika?

Makanannya! Besar sekali porsinya. Di Amerika ada term “Freshman 15” artinya anak baru pasti naik 7 KG pas pertama kali di Amerika. Dan juga karena sewaktu itu di SF kita udah cashless, aku juga ada habit buruk untuk ga menghitung spending aku. Tapi semenjak aku pindah ke SF, aku memakai lebih banyak cash jadi bisa keep track spending aku.

Selain itu, satu culture shock lagi untuk aku, bukannya dengan orang Amerika, melainkan orang Indonesia di Amerika. Di Amerika itu banyak teman aku yang orang tuanya sangat successful dan karena dengan itu juga financially jauh lebih comfortable hidupnya. Contohnya seperti sewaktu aku diajak makan ke restoran all you can eat sebesar $400. Terkadang, karena kita hidup dengan allowance dari orang tua, kita ga bisa selalu mengikuti lifestyle teman-teman aku yang financially lebih comfortable dan aku juga harus jujur ke diri aku dan harus bisa bilang no. Terkadang kebanyakan dari kita terlalu besar egonya padahal mereka mengerti kok. Jadi kalau ada situasi seperti itu aku juga harus kerja dulu untuk mendapatkan yang aku mau dan justru teman-teman aku di US memotivasikan aku untuk kerja lebih keras lagi pastinya agar aku juga ga membebankan orang tua.

Selama di Amerika, kira-kira apa perubahan karakter terbesar yang kamu alami?

Di Amerika aku belajar untuk mengapresiasikan lebih banyak alam semesta. Disana aku ada grup teman teman bernama ‘Nightcrawlers’ dan grup kita tuh suka banget dengan star gazing dan mencari spot-spot hidden paradise. Kita selalu hunting tempat-tempat baru untuk sight seeing atau relaxing liat ribuan bintang. Kita ada satu spot di Foothill yang jauh dari kota dan diatas gunung yang dimana kita bisa melihat jutaan bintang (karena saking gelapnya). Kita bisa berjam-jam melihat bintang berjatuhan di mobil convertible. Sayangnya kita ga bisa videoin sama sekali experience itu karena sangat gelap (walaupun aku ada kamera yang bisa 80,000 ISO). Menurut aku itu experience yang gak akan aku bisa rasakan lagi sih dan setelah itu aku jadi lebih apresiasikan momen-momen penting di hidup aku yang kadang kita ga bisa dokumentasikan, tetapi bisa dirasakan.

Selain itu aku juga belajar untuk mengambil inisiatif untuk mendapatkan yang aku mau. Itu bisa dengan cara breaking down complex problem menjadi problem kecil. Mindset itu yang aku dapat dari belajar programming dan dengan itu aku juga ga takut untuk belajar apapun.

Bagaimana rasanya ketika balik ke Indonesia?

Pas aku balik ke Indonesia justru sewaktu aku cultural shock sih. Mungkin karena dari dulu aku berada di kalangan international school dan pas ke Amerika mindsetnya tidak terlalu berbeda. Tetapi di Indonesia mindsetnya dan pergaulannya juga berbeda. Butuh beberapa waktu sampai aku adaptasi balik ke Indonesia. Disini, orang lebih sungkan untuk bilang opini mereka sewaktu di hire. Jadi terkadang susah untuk minta opini apalagi kalau kita atasannya. Jadi kita dipenuhi dengan ‘yes’ man dan aku juga baru tahu setelah kerja disini. Solusinya, aku harus membuat work culture dimana mereka bisa memberikan opini mereka dan expertise mereka. Terkadang harus dibilang dari awal. Ada juga beberapa hal yang aku sadar berbeda dari US seperti status socioeconomic disini sangat berbeda dan tentunya hal seperti edukasi juga berbeda. Mudah mudahan di kedepannya aku bisa merubah itu.

Ada pesan untuk pembaca yang ingin merantau ke luar negeri?

Luar negeri (seperti Amerika) itu sebenernya seperti kaca pembesar sifat kita masing masing. Disana kalian bisa kembangkan sifat dan talenta kamu lebih dalam. Seperti kaca pembesar, disana juga kamu bisa terjerat dengan pergaulan yang tidak baik dan dimana kamu bisa develop sifat sifat yang jelek menjadi tambah jelek. Sebelum kamu pergi, kamu harus tau orang apakah yang kamu mau jadi dan karakter apa yang kamu mau develop agar kamu mempunyai prinsip yang sangat kuat dan agar kamu bisa memilah apa yang kamu fokuskan. Disana kamu dapat kesempatan untuk menjadi lebih, jadi jangan disia-siakan.

Submission: Profil Rantau dibangun oleh rekomendasi komunitas Anak Rantau; jadi bila kamu mengetahui seseorang yang dapat berbagi pengalaman hidup di luar negeri, tolong beritahu kita di sini.


Ingin mengetahui cerita lain di San Francisco?