fbpx

Perkenalkan Jennifer: Suka Duka Kuliah di NUS, Universitas Ranking 1 di Asia

Ceritakan awalnya bagaimana kamu memilih studi ke luar negeri?

Ceritanya lumayan tipikal. Pertama aku emang udah ingin ambil bioengineering dan orangtua aku dari dulu selalu influence aku buat kuliah di luar; jadi karena Singapura dekat, jurusan ada, ranking universitasnya bagus, dan kakak yang sudah berkuliah disana, aku daftar buat tes NTU dan NUS. Setahun sebelum tes, aku les persiapan dulu karena perlu ngebut belajar A-level material dalam bahasa inggris yang lumayan beda sekali sama pelajaran yang diajarin di sekolah. Untungnya, tes aku lulus buat NTU sama NUS dua-duanya, jadi next step milih mau enroll ke yang mana. Akhirnya, aku milih buat masuk NUS karena NTU itu offer bioengineering dan NUS offer biomedical engineering secara aku lebih tertarik ke medical side-nya yang khusus untuk aplikasi ke manusia.

Ceritakan jurusan yang kamu tempuh di luar negeri?

Major yang kuambil itu biomedical engineering buat both bachelor sama master. Jadi, sebenernya ini engineering yang belajar semuanya: biologi, kimia, fisika, matematika, programming, electronics, dkk tapi dengan fokus untuk aplikasinya buat medical use di manusia. Di NUS, biomed engineering ini cukup banyak group project dimana kamu harus mendesain/merealisasi biomedical devices yang innovative dan fungsional. Jurusan ini emang udah aku incar sejak lumayan lama karena aku memang sangat tertarik di field medical tapi emang enggak mau jadi dokter, dan so far aku enggak nyesel milih major ini.

Ceritakan tantangan terbesar ketika di luar negeri?

Di universitasku dan setahuku di kebanyakan universitas di Singapura, kebanyakan sistem penilaiannya itu dengan sistem bellcurve dimana nilai semua orang berpengaruh buat grade akhir yang didapet. Jadi ada kemungkinan nilai rata-ratamu 90 tapi kalau orang lain dapet lebih bagus, kamu bisa dapat C, tapi ada juga kemungkinan dimana nilai cuma 50 tapi karena semuanya enggak bisa, grade akhirmu bisa A. Karena inilah kadang banyak orang yang merasa “aku berhasil doang enggak cukup, tapi orang lain harus lebih buruk dari aku.”

Ada pengalaman paling menyenangkan & menyedihkan selama masa kuliah?

Senang itu pas proyek semester yang lumayan besar selesai dan hasilnya memuaskan, senang juga ikut organisasi, organize acara-acara di kampus, dan kegiatan extracurricular disini, terus juga ada grup temen yang sama-sama dari Indonesia yang deket dan ngerti susah senengnya disini, jadi curhat dan ngobrol-ngobrol selalu enak.

Sedih ya, saat kadang mentok di pelajaran atau tugas, dan kelihatannya semua orang di sekitarku tuh udah bisa atau selesai. Tapi ya kadang kita harus sadar kalau semua orang memang kemampuan dan bisanya itu beda jadi ya kalau bisa emang harus saling bantu.

Ceritakan perubahan individu yang kamu alami ketika di luar negeri?

Jadi lebih dewasa dan mandiri. Soalnya kan semua chores harus dikerjakan sendiri dan meski itu, tetep harus bisa keep up dengan pelajaran kelas dan tugas-tugas yang disana. Belajar lebih mandiri juga karena kadang meski teman selalu ada, ada saatnya mereka sibuk dan kadang gak bisa minta bantu, orangtua kan juga enggak disini buat dimintain tolong, jadi ya untuk solve problem memang kadang jadi mandiri itu perlu banget.

Ada pesan untuk pembaca yang ingin merantau ke luar negeri?

Work hard, jangan lupa istirahat, carilah teman yang bakal mau support each other, dan jangan lupa take a good care of yourself, dan if you ever feel overwhelmed by stress kerjaan atau apapun, don’t be scared to ask for help, especially from your closest ones 🙂 and have fun and experience the things that you likely won’t try back in Indonesia!!!

Profil Rantau dibangun oleh rekomendasi komunitas Anak Rantau; bila kamu ingin merekomendasikan seseorang silahkan hubungi kita di sini.


Ingin mengetahui cerita lain di Singapore?