fbpx

Perkenalkan Igar Raditya: Belajar dan Bekerja di Silicon Valley dan Minnesota

1. Halo Igar! Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman. Boleh diceritakan awalnya bagaimana kamu studi ke luar negeri?

Awalnya pas kelas 9 SMP, gw kebetulan mulai ikut event-event di @america di Pacific Place, SCBD. Tadinya iseng-iseng aja tapi jadi mulai tertarik sama sistem pendidikan AS. Jadi sambil waktu itu persiapan ujian masuk SMA, gw mulai niat mau kuliah di AS selulus SMA. Pas research tentang kampus gw nemu akhirnya kampus yang gw incar adalah UC Berkeley (walaupun ga jadi juga akhirnya) tapi dengan kurikulum nasional SMA gw, susah untuk langsung masuk kampus sebagus Berkeley yang pendaftarnya banyak melewati kurikulum AS ataupun kurikulum standar internasional. Jadi akhirnya gw daftar ke community college bernama Foothill, yang programnya adalah 2 tahun di Foothill lalu bisa lanjut 2 tahun di Berkeley, kalau diterima. Selain lebih mudah masuknya, juga sangat lebih murah biayanya dibandingkan Berkeley.

2. Ketika sudah sampai AS, apa jurusan yang akhirnya kamu tempuh? Pernah ada pengalaman bekerja juga kah?

Gw mengambil jurusan Ekonomi selama di Foothill yang banyak MacroEcon/MicroEcon/Policy dan setelah transfer ke University of Minnesota, gw belajar Quantitative Economics yang lebih banyak quantitative analysis seperti regression dan linear algebra yang digunakan untuk riset ekonomis.
Setelah lulus, gw kerja selama setahun sebagai Project Manager di perusahaan localization bernama Transperfect. Project-project kita antara lain membantu adaptasi website perusahaan internasional ke bahasa tujuannya. Jadi kalo liat tech company atau travel company yang punya dropdown option di atas untuk ganti bahasa websitenya, ada kemungkinan company gw yang bikinin tuh.

3. Selama di AS, apasih tantangan terbesar atau culture shock yang kamu alami?

Tantangan terbesar buat gw tuh mungkin karena gw kebiasaan di Indonesia semuanya serba ada. Kalau minta sesuatu, pasti ada orang yang bisa bantuin atau urusin buat gw. Sedangkan di AS, walaupun fasilitasnya lebih lengkap, untuk bisa ngelakuin apapun mesti tau sendiri dan urus sendiri. Gaada lagi yang gandengin untuk ngurus urusan gw. Di sini gw culture shock sekalian juga belajar untuk benar-benar mandiri.

4. Ceritakan perubahan individu yang kamu alami ketika hidup di AS?

Selain menjadi lebih mandiri, gw juga belajar menerima orang yang berbeda-beda. Sebelum ke luar negeri gw uda mempersiapkan diri, gw tau kalau ketemu orang di kuliah bakal unik-unik semua, tapi tetep aja gw underestimate how many different types of people yang akhirnya gw ketemu. Dari yang ambisius banget, pinter banget, males banget, aneh banget, semuanya ada, dan semuanya punya lesson that we can learn from. Jadi gw belajar untuk bisa ga cuma nerima orang yang sangat berbeda dari gw, tapi juga bisa kerja sama bareng sama orang-orang yang berbeda. Yang menurut gw karena di Indonesia ada adat, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda jadi skill untuk bisa beradaptasi dengan ini semua sangat penting.

5. Bagaimana rasanya ketika balik ke Indonesia?

Rasanya.. nyaman. Dengan kata lain, gw di AS selalu merasa seperti turis, atau orang luar, yang berada di situ hanya untuk sementara. Rasanya, pengalaman-pengalaman gw di sana seperti free trial, yang kalau gw gagal ataupun sukses, itu tidak akan berdampak pada keseluruhan hidup gw. Memang, mungkin gw bias karena dari awal gw pengen balik ke Indonesia secepatnya. Tapi sekarang gw bisa benar-benar mengaplikasikan apa yang gw belajar dari pengalaman di AS. Social skills, technical skills, academic skills, sekarang rasanya jadi wajib dipakai untuk comfort zone gw di Indonesia. Buat gw, rasanya free trial gw udah selesai dan saatnya mempraktikkan apa yang gw uda pelajarin.

6. Ada pesan untuk pembaca yang ingin merantau ke luar negeri?

Work hard to get the opportunity and once you get the opportunity, be humble. Pelajari semua requirement yang dibutuhkan di sekolah cita-cita lo dan siapin. Yang pasti, perjalanan ke luar negeri gaakan semudah atau sesuai dengan bayangan lo. Ingat bahwa lo mesti berusaha keras untuk sampai di sana jadi sesampainya di sana, gunakan kesempatan itu untuk belajar sebanyak mungkin, secara akademis, non-akademis, dan juga life experience.

Baca interview eksklusif Anak Rantau dengan Igar Raditya mengenai pengalaman bekerjanya sebagai manager di perusahaan berbasis teknologi di Silicon Valley, Transperfect.

Profil Rantau dibangun oleh rekomendasi komunitas Anak Rantau; bila kamu ingin merekomendasikan seseorang silahkan hubungi kita.

Ingin mengetahui cerita lain di San Francisco?