fbpx

Perkenalkan Anggraeni Ayu Rengganis: Lanjut Kuliah Epidemiologi Klinis di Thailand

Thailand telah menjadi salah satu negara tujuan para pelajar Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri. Negara ini dipilih karena notabene masih berada di kawasan yang sama dengan Indonesia. Kali ini, kami Tim Rantau baru saja berbincang-bincang dengan Aggraeni Ayu Rengganis atau yang biasa dipanggil Ayu. Sekarang, Ayu sedang menempuh jenjang S2 Health Development on Clinical Epidemiology atau Epidemiologi Klinis di Chulalongkorn University, Thailand.

Kira-kira, apa saja yang telah kami obrolkan dengan mahasiswi epidemiologi yang berasal dari Yogyakarta ini? Mari simak obrolan kami di bawah ini, seluk-beluk kisah perkuliahan Ayu menempuh program epidemiologi klinis di Thailand.

Bagaimana awal mula Ayu tertarik untuk kuliah di luar negeri?

Kisah Ayu, kuliah epidemiologi klinis di Thailand
Ayu saat mengunjungi masjid tertua di Thailand. Sumber: dokumentasi pribadi Ayu.

Sebetulnya Program S2 Kedokteran di Indonesia itu sudah banyak banget, ya. Bahkan di home universities-ku juga ada. Tapi aku ingin kuliah di luar negeri karena aku pasti akan dapat perspektif yang berbeda kalau (kuliah) di luar negeri. Aku bisa mendapat pola pikir dan cara pandang berbeda daripada aku tetap di sana (Indonesia). 

Mungkin ilmu tidak akan jauh berbeda–ini aku ngomong program aku ya. Aku nggak ngomong program yang nggak ada di Indonesia. In term di program aku mungkin sedikit banyak sama gitu (antara di Indonesia dan Thailand). Apalagi, kedokteran kan seminar-seminar mudah sekali. Di luar negeri bisa, di Indonesia bisa. 

Tapi pola pikir itu tidak bisa kita dapatkan di bangku kuliah. Pola pikir dan cara pandang itu kan nggak bisa. Nah, yang aku kejar termasuk itu. Pengalaman juga akan berbeda saat aku merantau, namanya juga anak rantau, ya (tertawa). Kalau aku tetep di Yogya, aku akan tetap berada di zona aman aku.

Kalau aku sih merasa aku akan punya pengalaman yang berbeda dan benar. Kayak gini, setiap orang itu punya cerita. Aku di sini kayak aku membawa cerita, terus aku bertemu dengan orang-orang yang punya background yang overwhelming juga.

Mengapa Ayu memilih kuliah epidemiologi klinis di Thailand?

Jadi, Thailand is not my first priority country kayak yang I end up here and I have to accept it. Aku tuh pengin epidemiologi. Program yang kukejar tuh itu. Kayak sebenarnya di manapun itu banyak. Tapi, timeline-nya waktu itu ndak nyandak.. tabrakan gitu.

Jadi itu tadi, aku udah punya planning. Kuliah 2 tahun, setelah itu kalau nanti aku mau daftar misalnya jadi PNS, lecturer, atau apapun itu, sudah ada dalam timeline-ku. Lalu, waktu itu memang sudah masuk di timeline. Aku sebenernya nggak mempersiapkan untuk Thailand. Aku mempersiapkan untuk universitas dan beasiswa lain.

Jadi, aku daftar Chulalongkorn itu.. bener-bener nggak sengaja. Yang tahu waktu itu kakak kelasku. Waktu itu ada perwakilan yang ke Yogya, melakukan sistem active recruitment. Lalu, aku ditelepon sama Kepala Departemen tempat aku bekerja di Yogya. Jadi ikutlah seleksi dan ternyata diterima.

Ya mungkin memang sudah jalannya. Alhamdulillah. Mungkin memang di sini–kuliah epidemiologi klinis di Thailand, bukan ke tempat yang lain. 

Kalau mau dilihat ya.. aku nggak mendiskreditkan pendidikan di Indonesia, ya. Tapi di sini, meskipun sama-sama ASEAN, tapi di sini lebih bagus. Tanpa mendeskreditkan gitu. Selain itu, aku bisa bertemu dengan berbagai macam orang, dengan background yang berbeda-beda. Yang di sini dosen di sana, yang dari LIPI juga. Kayak macem-macem orang Indo gitu. Maksudku, mereka dateng ke sini membawa tujuan dan cerita masing-masing. 

Selama tinggal di Thailand, apa sih tantangan yang Ayu rasakan?

Kisah Ayu, kuliah epidemiologi klinis di Thailand
Sumber: dokumentasi pribadi Ayu.

Aku keluar dari zona amanku. Jadi aku dari kecil tinggal di Yogya. Aku nggak pernah merantau. Dari seumur hidupku itu baru sekali ini aku bener-bener pergi jauh dalam waktu lama. Biasanya kan koass cuma tiga bulan. Lha ini dua tahun, dan langsung jauh banget.

Kalau hal lain, kayak apa ya.. makanan mungkin. Aku kan muslim. Nyari makanan halal itu kan susah-susah gampang. Jadi masak aja lah intinya.

Terus tempat beribadah. Kalau di Yogya kan banyak ya tempat ibadah, kalau di sini kayak bisa di mana aja. Di trotoar, lah. Enggak di trotoar, sih, tapi kayak di taman. Di pojokan ruangan juga bisa.

Kalau untuk larangan beribadah sejauh ini nggak ada. Aku personal nggak pernah ngelihat dan nggak pernah denger cerita yang dihalang-halangin. Orang sini menurutku sangat welcome. 

Lalu, Itu sih, yang beda banget dari Indonesia itu tuh itu. Kayak aku ninggal laptop dan hape di mejaku, terus kutinggal kemana-mana. Kayak kutinggal salat, kutinggal makan, kutinggal keluar gitu, setengah jam gitu, ya nggak ilang.

Budaya antre mereka juga bagus di sini. Kalau mau naik bus aja–aku kan pakai transportasi umum kalau mau kemana-mana, di sini antre panjang sampai belakang. Setiap jam kayak gitu. Nah, di depan itu nggak ada yang sampai untel-untelan (berdesak-desakan).

Menurut Ayu, apa sih yang berbeda dari Thailand dengan Indonesia?

Sebenarnya mostly sama. Mungkin karena masih ASEAN kali, ya. Weather atau cuacanya masih mirip. Nggak ada musim dingin atau winter. Terus, masih sama-sama negara berkembang, sih. Jadi nggak ada yang berbeda banget.

Mungkin, yang beda banget itu soal makanan. Di sini pada suka asam orangnya. Aku secara personal nggak suka asam. Terus di sini tuh kayak asam semua. Misal Tom Yum, itu kan juga asam, ya.

Jadi itu sih, kendala makanan. Karena makanannya nggak cocok di lidah banget. Selain makanan halalnya radak susah, makanan Thailand-nya, yang bisa dimakan, yang vegetarian pun.. haduh.. asam semua.

Apakah ada pengalaman seru dan sedih yang Ayu rasakan selama tinggal di Thailand?

Pengalaman sedih apa, ya? Kangen rumah aja kali, ya. Home sick. Normal, lah.

Serunya kayak ketemu keluarga baru. Kita ketemu orang Indo di sini. Orang Indo di luar negeri adalah keluargamu. Itu tuh kayak motto. Kayak prinsip gitu. Orang Indonesia di luar negeri itu ya keluargamu. Kamu kalau ada apa-apa ya sama mereka. Ya aku kayak ketemu keluarga baru di sini. Bisa seneng-seneng bareng gitu.

Terus, Bangkok kan juga destinasi wisata dan pastinya surga belanja banget. Di sini tentu ada yang lebih murah, ada juga yang lebih mahal. Tapi di sini ada barang yang nggak ada di Indo. Contohnya kayak skin care gitu, ada yang nggak masuk ke Indo. 

Yang lain.. kayak sepatu sama baju juga karena di sini perputaran modenya cepet. Kayak wow gitu. Pokoknya kalau wisata belanja di Bangkok tuh kayak surgawinya dunia. Kalau ke sini, siap-siap duit buat belanja.

Menurutku, di sini kita bisa bebas mengeksplorasi jadi diri sendiri, sambil… apa ya.. pasti ada sesuatu yang bisa kita bawa balik. Jadi, waktu kembali ke Indonesia, kita bawa cerita minimal pengalaman, yang akan kita bawa balik ke Indonesia. Terlepas dari ilmu yang bakal kita share ke orang-orang sekitar kita. Contohnya bahasa, aku bakal dapet bahasa baru nih, yang bisa aku share nantinya.

Oh ya, kendala lain di sini itu nggak semua orang bisa bahasa Inggris. Kayak ibu-ibu di pasar itu nggak bisa bahasa Inggris. Nah, itu jadi challenge buat aku. Oke, aku harus bisa nih berarti bahasa Thai. Kalau misalnya aku bawa pulang ke Indonesia, ya termasuk bahasa tadi. Paling enggak aku bisa basic-nya gitu. Seenggaknya kalau di sini harus bisa nawar di pasar, lah.

Adakah perubahan secara individu yang Ayu rasakan selama tinggal di luar negeri?

Kisah Ayu, kuliah epidemiologi klinis di Thailand
Sumber: dokumentasi pribadi Ayu

Secara emosional, aku merasa lebih matang. Di sini kita harus lebih bisa membawa diri. Kita harus bisa menempatkan diri, menoleransi orang lain, kayak.. kamu kalau keluar dari boks gitu, kamu perlu usaha ekstra. Kamu harus bisa bertahan hidup dengan PR yang banyak banget, tugas juga. Temen yang juga lagi banyak tugas jadi banyak yang emosian juga. Nah, ditambah kalau misalnya laper, cari makanan juga susah (tertawa). Intinya harus sabar.

Jadi, sekarang pola pikirnya lebih open minded, lebih terbuka, lebih dewasa, lebih bisa menoleransi. 

Secara fisik, lebih sehat, dong (tertawa). Aku kemana-mana jalan kaki. Kalo di sini memang naik kendaraan umum, ya. Beda waktu dengan di Yogya. Di sini jadi lebih banyak bergerak. Terus lagi ikatan keluarga itu jadi lebih kuat. Jadi sering nanyain kabar lah, ya. Soalnya ngerantau, kan. 

Apa pesan dari Ayu untuk para pembaca yang ingin kuliah di luar negeri?

Agak panjang nggak apa-apa, ya. Aku suka banget sama motto hidupku. Go, Get, Gold. Kejarlah emasmu. Jangan takut bermimpi. Maksudku kalian jangan mengerdilkan diri kalian sendiri. Tapi kalian juga jangan terlalu ndangak. Ndangak apa, sih? Mendongak. Jangan mengerdilkan tapi juga jangan ndangak.

Maksudnya, kalian tuh harus bersyukur. Raih mimpimu, perluas network-mu, fokuskan hubunganmu sama orang terdekatmu dan Tuhan. Aku yakin tiap orang itu punya timeline. Tapi, aku takutnya jadi trend gitu. Kalau kuliah di luar negeri itu menjadi suatu keharusan. Itu kayak jadi cara sukses anak-anak milenial gitu. Padahal itu nggak lho sama sekali. 

Kuliah di luar negeri itu keren, tapi dengan kalian kuliah di luar negeri kalian juga dapat nilai lain yang mungkin nggak didapet sama orang yang nggak kuliah di luar negeri. 

Jadi, fokus aja gitu. Kebanyakan itu kayak pengin kuliah lagi, tapi bingung sendiri. Aku jurusannya apa? Aku mau kuliah di mana, ya? Caranya gimana? Maksudku fokus gitu, lho. Kamu jangan kuliah karena ikut-ikutan. Fokus, kamu penginnya apa, cari mimpimu. Cari, kejar, dan wujudkan. Dengan usaha tentunya. Jangan malas bertanya, tapi juga jangan tanya terus-terusan. Kuliah di luar negeri nggak sepicik dan sesuperfisial memperbagus feeds instagram. Nggak sepermukaan itu. Maksudku kejar apa yang kamu mau itu sembari terus berusaha.

Dengan demikian, kalian harus memahami bahwa kuliah di luar negeri merupakan kesempatan bagi kamu untuk mengembangkan diri seluas-luasnya. Tentunya, tidak semua orang mendapatkan privilese itu. Jadi, jangan pernah lelah untuk berusaha dan bermimpi. Begitulah kira-kira kisah Ayu yang melanjutkan kuliah epidemiologi klinis di Thailand.

Kalau kamu tertarik dengan kisah lainnya, kamu juga bisa membaca kisah Siti Syahidati Fauzana yang menempuh kuliah S2 Public Health di Chulalongkorn University, Thailand.

For Your Information

Apakah bisa lanjut kuliah kedokteran di luar negeri?

Sebetulnya Program S2 Kedokteran di Indonesia itu sudah banyak. Bahkan di sejumlah universitas ternama di Indonesia juga tersedia. Akan tetapi, dengan kuliah kedokteran di luar negeri, kamu bisa mendapatkan perspektif yang berbeda. Jadi, tentu kamu bisa melanjutkan kuliah kedokteran di luar negeri.

Apa tantangan kuliah di Thailand?

Salah satu tantangan paling besar adalah soal makanan karena makanan di Thailand didominasi oleh makanan yang asam.

Apakah yang harus dipersiapkan apabila ingin kuliah ke luar negeri?

Go, Get, Gold. Kejarlah emasmu. Jangan takut bermimpi. Maksudku kalian jangan mengerdilkan diri kalian sendiri,” ujar Ayu yang merupakan mahasiswi epidemiologi klinis di Chulalongkorn University, Thailand.

Ingin tahu kisahnya, silakan baca artikel ini untuk tahu bagaimana serunya kuliah kedokteran di luar negeri.