fbpx

Perkenalkan Joko Pamungkas: Menempuh Studi S3 di Selandia Baru

Bagi sebagian besar orang, menempuh studi S3 bukan sekadar tentang menambah ilmu pengetahuan, tapi juga banyak poin lainnya yang menyertai. Kali ini, Tim Rantau berbincang-bincang singkat dengan Joko Pamungkas, seorang peneliti muda LIPI yang sedang menempuh S3 di University of Auckland, Selandia Baru.

Bagaimana kisah Pak Joko selama menempuh studi S3 di Selandia Baru selengkapnya? Simak obrolan kami berikut ini.

Bisa diceritakan bagaimana akhirnya Pak Joko memutuskan untuk menempuh S3 di Selandia Baru?

Semua berawal dari tuntutan profesi. Sebagai peneliti muda di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saya didorong untuk menuntut ilmu sampai ke jenjang yang tertinggi.

New Zealand alias Selandia Baru menjadi negara pilihan karena di samping memiliki bahasa pengantar bahasa Inggris, salah seorang expert di bidang marine science di Universitas Auckland bersedia menjadi pembimbing disertasi saya.

Selain itu, New Zealand ASEAN Scholarships (disingkat NZAS – sekarang berganti nama menjadi New Zealand Scholarships atau disingkat NZS) bersedia membayar penuh biaya pendidikan, plus memberi uang saku untuk biaya hidup selama saya tinggal di negara tersebut.

Pak Joko mengambil program studi International Studies in Aquatic Tropical Ecology untuk S2 di Jerman, dan mengambil S3 di Institute of Marine Science di Selandia Baru. Kira-kira, apa sih yang dipelajari di program studi seputar aquatic dan marine studies ini? Dan kenapa akhirnya mendalami program studi ini? Karena program studi yang ditempuh cukup unik, ya?

Yang dipelajari adalah seputar ilmu kelautan, khususnya yang berkaitan dengan biodiversitas laut Indonesia.

Di dunia ini, tidak ada yang meragukan tingginya biodiversitas laut Indonesia. Sayangnya, sebagian besar biota laut kita justru dipelajari oleh peneliti asing. Sebagai contoh, hasil penelitian S3 saya mengungkap bahwa 99% spesies cacing laut dari kelas Polychaeta, filum Annelida, yang ada di Indonesia justru ditemukan dan diberi nama ilmiah oleh peneliti asal Eropa.

Ironisnya lagi, hampir seluruh spesimen yang dipelajari oleh mereka tidak disimpan di museum zoologi Indonesia, namun justru disimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, Belanda. Kejadian ini masih terus berlangsung sampai sekarang dan sangat memotivasi saya untuk menekuni bidang ilmu yang berkaitan dengan biodiversitas laut.

Boleh sharing sedikit cara menemukan dan mendapatkan New Zealand ASEAN Scholarship?

Joko dan keluarga di Mt. Eden. Sumber: dokumentasi pribadi Joko

Seluruh informasi resmi seputar beasiswa dari pemerintah Selandia Baru dapat ditemukan di situs resmi mereka.

Pada prinsipnya, hanya yang memenuhi syarat yang dapat mendaftar, seperti harus berusia 18 tahun atau lebih pada saat memulai studi nanti; telah merampungkan jenjang pendidikan sebelumnya (yakni S1 untuk pendaftar program studi S2, dan S2 untuk pendaftar program studi S3); serta memenuhi skor minimal tes bahasa Inggris yang ditentukan.

Khusus untuk pendaftar program studi S3, kita diminta sudah menjalin kontak dengan dosen di universitas di Selandia Baru yang bersedia – atau setidaknya berpotensi – menjadi pembimbing disertasi kita (terkait dengan hal ini, kita perlu menyiapkan proposal singkat yang berisi rencana riset S3 kita). 

Boleh diceritakan pengalaman atau kelebihan kuliah di Selandia Baru yang membedakan dari kuliah-kuliah di Indonesia? Apa yang kira-kira murid Indonesia akan dapatkan bila berkuliah di Selandia Baru yang mungkin tidak didapatkan bila kuliah di Indonesia? 

Yang paling membedakan barangkali adalah suasana akademik yang sangat global dan multikultur.

Di samping penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, di Selandia Baru kita akan menjumpai mahasiswa dari berbagai belahan bumi yang berbeda. ‘Zero tolerance for discrimination’, oleh karenanya, menjadi salah satu moto di kampus saya.

Selain itu, sebagai mahasiswa, kita sangat independent. Sukses tidaknya studi kita sangat bergantung pada ikhtiar kita sendiri (oh ya, di sana tidak ada sistem “katrol” nilai, sehingga nilai yang didapat adalah cerminan asli dari kemampuan akademik kita).

Bagaimana Pak Joko memutuskan pilihan akomodasi selama tinggal di Selandia Baru?

Soal akomodasi, saya memilih yang paling praktis: bertanya pada sesama mahasiswa Indonesia yang sudah lebih dahulu tinggal di sana. Dengan cara ini, saya bisa langsung mendapatkan informasi yang up to date seputar apartemen, mulai dari yang berlokasi di dekat kampus, yang harga sewanya “miring”, maupun informasi seputar sharing dan taking over apartemen yang tentunya sangat membantu “memuluskan” proses mendapatkan akomodasi di sana. 

Dalam tulisan bapak, bapak menyatakan bahwa biaya hidup di Selandia Baru cukup fantastis. Bagaimana cara Pak Joko “mengakali” biaya hidup selama tinggal di Selandia Baru?

Bisa dengan “menguras” tabungan, atau bekerja paruh waktu. Saya memilih yang kedua, dengan pertimbangan bahwa tabungan akan sangat diperlukan pada kondisi darurat (dan benar saja, karena pandemi COVID-19, tiket kepulangan saya sekeluarga ke Indonesia dibatalkan oleh Air New Zealand dan Singapore Airlines, sehingga mau tidak mau saya harus membeli direct flight tickets dengan harga yang cukup fantastis!).

Selain itu, pada saat belum membawa keluarga, biaya akomodasi saya “tekan” dengan cara tinggal di hotel backpacker dan sharing apartemen dengan sesama mahasiswa Indonesia. Sedangkan pengeluaran untuk keperluan konsumsi saya hemat dengan mengurangi jajan di luar (lebih banyak masak sendiri). Untuk kebutuhan sekunder (seperti pakaian, barang elektronik, dan lain sebagainya), sebagian besar saya bawa dari Indonesia.

Apa saja tips dan trik dalam memilih makanan halal di Selandia Baru?

Ada banyak aplikasi di smartphone yang cukup reliable untuk menemukan tempat makan yang halal di Selandia Baru. Jika bergabung dengan komunitas muslim di sana, kita juga akan mendapatkan asupan informasi yang tak kalah banyak seputar hal tersebut.

Yang agak tricky barangkali justru makanan yang dijual di supermarket, karena mayoritas tidak mencantumkan logo halal meskipun sebetulnya halal (misalnya, sebagian besar varian coklat Whittaker’s, yakni coklat produk Selandia Baru yang sering dibeli untuk oleh-oleh, halal, namun informasi tersebut tidak tercantum di kemasannya).

Solusinya, kita bisa mengunjungi website atau menelepon perusahaan makanan tersebut. Kita bisa bertanya: “Is this product halal?” atau “Is this product suitable for vegetarians?”

Selain itu, cara yang paling “konvensional” untuk memilih makanan halal di Selandia Baru adalah dengan meneliti satu per satu komposisi dari produk makanan tersebut.

Apa pengalaman mengesankan yang Pak Joko dan keluarga rasakan saat tinggal di Selandia Baru?

Menurut saya pribadi, tinggal di luar negeri “satu paket” dengan keluarga adalah sebuah “petualangan seru” yang seluruhnya berkesan.

Saya masih ingat ketika pertama kali mengantar anak-anak ke Freemans Bay School: wajah mereka cemas karena kemampuan bahasa Inggris mereka nol. Namun dalam beberapa bulan saja, kemampuan bahasa Inggris mereka meningkat pesat, dan anak-anak selalu excited saat berangkat ke sekolah.

Berada di ruang operasi sesar – menyambut kehadiran Felicity Queen (anak ketiga kami) berdua dengan istri tanpa didampingi keluarga – juga merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Melewati empat musim yang berbeda dengan nuansa indahnya masing-masing, ramadan, berbagai suka-duka, serta menyusuri pinggiran kota Auckland, semuanya sangat memorable bagi saya. 

Apa tantangan paling sulit yang pernah dihadapi Pak Joko dan keluarga saat tinggal di Selandia Baru?

Joko saat bekerja sebagai kitchen hand. Sumber: dokumentasi pribadi Joko.

Mungkin saat mendapat “surprise” istri mengandung anak ke-3, padahal saat itu saya cukup kewalahan membagi waktu antara kuliah dan kerja part-time.

Kala itu, saya sempat berpikir untuk berhenti bekerja agar bisa lebih fokus ke studi dan keluarga – soal finansial (per minggu setidaknya kami memerlukan tambahan sekitar NZD 300), saya mencoba meminta kebijaksanaan dari NZAS serta mencari peluang bantuan dari pemerintah setempat (namun hasilnya nihil!).

Alhasil, saya push diri saya untuk kuliah, kerja, sekaligus bolak-balik menemani istri ke bidan dan rumah sakit (saat itu istri didiagnosis menderita gestational diabetes yang mengharuskan kami bolak-balik ke rumah sakit).

Saya merasa kesulitan karena di samping kelelahan secara fisik (kerja paruh waktu sebagai seorang kitchen hand di salah satu restoran paling sibuk di kota Auckland ternyata sangat menguras tenaga), pembimbing disertasi terus memberi “cambukan” pada saya untuk mempublikasikan hasil penelitian saya di jurnal ilmiah global, sementara pihak NZAS dengan tegas menolak usulan perpanjangan beasiswa saya (kehadiran “buah hati” dengan segala kerepotannya tidak bisa dijadikan alasan untuk memperpanjang beasiswa).     

Apa pesan Pak Joko bagi pembaca yang akan tinggal di Selandia Baru baik untuk belajar atau bekerja?  

Keduanya sangat challenging, khususnya di masa-masa awal di mana kita perlu beradaptasi dengan bahasa dan budaya setempat – di masa pandemi COVID-19, khususnya, mendapatkan pekerjaan di Selandia Baru menjadi semakin tidak mudah.

Being adaptable dan selalu siap menghadapi hal baru adalah “kuncinya”. Terlepas dari semuanya itu, man jadda wa jadda – barangsiapa bersungguh-sungguh akan berhasil – menjadi “mantra” yang selalu saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sana: it works!

Demikian obrolan kami dengan Pak Joko yang melanjutkan studi S3 di Selandia Baru. Kalau kamu ingin mengenal Pak Joko lebih jauh dan mengetahui pengalaman dan kisahnya selama di Selandia Baru, kamu bisa mengunjungi blog milik beliau di sini.

Baca juga kisah Anggraeni Ayu Rengganis yang melanjutkan kuliah epidemiologi klinis di Thailand.

For Your Information

Apakah bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah S3 di luar negeri?

Bisa, Kawan Rantau. Salah satu contohnya adalah beasiswa New Zealand ASEAN Scholarships (disingkat NZAS – sekarang berganti nama menjadi New Zealand Scholarships atau disingkat NZS) untuk kuliah di Selandia Baru.

Apa perbedaan cara mendaftar beasiswa S3?

Kamu perlu melakukan korespondensi dengan dosen setempat serta membuat proposal penelitian.

Apa yang harus saya persiapkan untuk kuliah di Selandia Baru?

Baca kisah Pak Joko yang sedang menempuh studi S3 di Selandi Baru ini untuk mendapatkan insight.

Ingin mengetahui cerita lain di Auckland?