fbpx

Hidup di Belanda: “Gak Takut Narkoba? Kan Legal di sana?”

Hal pertama yang orang tua tanyakan tiap kali saya bilang sedang kuliah di Belanda adalah, “gak takut? Kan narkoba legal disana?” Sepertinya Belanda sebagai negara dicap sebagai negara yang sangat liberal, khususnya dalam pemakaian narkoba di kalangan muda. Saya, yang sudah tinggal disini selama 4 tahun kira-kira, selalu membawa pembicaraannya dengan enteng dan tertawa “kan tergantung kitanya Om/Tan.”

Sebelum pindah kesini, secara mental saya sudah menyiapkan diri untuk culture shock yang ada dalam pemakaian narkoba. Setelah banyak nasihat dari orangtua, saya akhirnya terbang ke Belanda. Beberapa tahun tinggal disini, saya menyadari kebebasan dari pemakaian narkoba dan alkohol. Remaja mulai minum bir umur 14-15, marijuana dibagi-bagikan dalam social gatherings, dan klub berisi dengan orang-orang yang memakai ekstasi dengan musik tekno yang kencang.

Beberapa kali saya liat adegan ini di film-film Hollywood, tapi melihatnya di depan mata asli drastis bedanya. Saya juga besar di lingkungan yang relatif homogen yang dibesarkan dari nilai keagamaan, dimana saya tidak berteman dengan orang-orang yang memakai narkoba di Indonesia. Culture shock merupakan pernyataan yang meremehkan.

Saya mulai mempertanyakan nilai-nilai saya sendiri sampai dimana saya bingung untuk mengambil keputusan. Semakin berjalannya waktu, semakin banyak yang saya alami, semakin saya sadari kalau saya pede dengan nilai hidup saya. Berikut adalah hal-hal yang saya pelajari tentang budaya penggunaan narkoba di Belanda dan bagaimana saya mengatasinya: 

1. Bukan Soal Keren

Pertama dan terpenting, kebanyakan orang yang memakai narkoba disini tidak mengikat tingkat kekerenan kamu dengan banyaknya narkoba yang kamu pakai. Dengan budaya yang lebih individualistis, kita diberi kebebasan untuk memilih pilihan kita sendiri tanpa harus dipertanyakan. Saat baru sampai ke Belanda, saya merasa takut dihujat kalau saya kurang keren kalau tidak memakai narkoba. Tapi hampir semua teman-teman saya yang memakai hanya sekedar menawarkan tanpa ekspektasi banyak untuk kita melakukan hal yang sama. Banyak orang yang saya tahu melakukannya murni untuk kesenangan diri sendiri. Kekerenanmu sebagai seorang teman tidak terkait pada penggunaan kamu terhadap narkoba. Kamu ikut atau tidak, bukan masalah besar bagi mereka. 

2. Prioritas dan Tanggung Jawab

amsterdam orange tulip scholarship
amsterdam orange tulip scholarship

Mitos palsu adalah orang yang memakai narkoba tidak bertanggung jawab pada hidupnya. Walau ada juga mahasiswa yang malas dan tidak ikut kelas karena ‘terlalu giting’, sering sekali kejadian dimana mahasiswa pergi ke klub di hari sekolah datang ke kelas pagi dengan attitude siap belajar. Diakhir hari, orang yang sudah memprioritaskan kepentingan di hidup mereka akan memilih apa yang benar bagi mereka. 

3. Ekspresi dan Opini

narkoba di belanda

Hidup di budaya direct dan ekspresif, saya belajar memahami kalau opini saya dan opini orang lain sama-sama penting. Saya boleh berpendapat kalau narkoba ini atau itu tidak baik untuk saya, tapi mereka juga bisa berpendapat kalau mereka tidak melihat efek samping dari pemakaian suatu narkoba. Dan yang paling penting, saya tidak berhenti berteman dengan mereka hanya karena satu nilai yang berbeda. Dengan budaya ini, saya juga belajar lebih frontal dengan opini saya tapi tetap rasional dengan menjalin hubungan dengan banyak orang. 

4. Efek Samping

narkoba di belanda

Dengan memakai narkoba, kamu menyadari seluruhnya kalau akan ada efek samping dan segalanya yang terjadi. Pada akhirnya, seperti semua pilihan di dalam hidup, semuanya adalah 100% pilihanmu, dan hanya kamu yang bisa menavigasi pemakaian, takaran dan frekuensinya. Belajar banyak tentang narkobanya sendiri, efek sampingnya, orang-orang yang melakukannya, seobjektif mungkin, tanpa menaruh pendapat negatif. Riset di internet, tanya teman-temanmu, dan eksplorasi di bagian ilmiah dan sejarah. Dengan menyadari apa yang kamu lakukan, kamu juga selayaknya menyadari hasil dari aksi itu. Sebagai seorang dewasa yang mempunyai tanggung jawab, kamu sendiri mengerti apa yang terbaik untukmu. 

Selama 4 tahun tinggal disini, banyak reprogramming dalam mindset saya untuk mengganti cara berpikir saya terhadap banyak hal yang saya kira benar. Pemakaian narkoba di Belanda tidak hanya merubah perspektif saya dalam narkoba tapi juga dengan tanggung jawab saya sebagai seorang dewasa dan juga melepaskan ekspektasi untuk mengontrol tingkah laku orang lain. Saya membawa diri saya sendiri ke dalam budaya yang baru, layaknya pengunjung, hal paling minim yang saya bisa lakukan adalah menghormati perbedaan. Dengan tindakan sederhana tersebut, kita bisa menjadi warga dunia yang lebih toleran.

Yuk kuliah s2 di Belanda gratis dengan beasiswa ini!

Ayo ikut berkontribusi menulis artikel

Kolom ini merupakan karya opini dan belum tentu mencerminkan pendapat redaksi editorial Anak Rantau.

Ingin mengetahui cerita lain di Amsterdam?