fbpx

Menjadi Panitia Pemilu di Luar Negeri: “Emang Apa Untungnya? Bisa sambil Kuliah?”

Halo Kawan Rantau! Bagi kalian yang berumur 17 tahun keatas pasti sudah ikut pemilu dong ya. Pemilu yang diadakan 5 tahun sekali untuk memilih presiden baru pasti ajang yang menegangkan bagi semua kalangan.

Umumnya, kita sebagai anak rantau yang belajar di luar negeri mungkin tidak dapat ikut atau malah malas mengeluarkan suara, apalagi menjadi panitia yang mengurus ajang ini; dari mendirikan Tempat Pemilihan Suara (TPS), sampai menghitung suara yang sekian banyaknya. Nah, di dalam artikel ini saya ingin menyampaikan bahwa jangan sampai kalian tidak ikut kalau punya kesempatan jadi panitia pemilu! Banyak banget loh manfaatnya ☺

Berawal dari pesan yang saya terima bulan Februari 2019 dari Ferrick, teman kuliah di Kuching yang menjabat sebagai Wakil Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sarawak. Ia mengajak saya untuk menjadi panitia pemilu. Saya yang juga aktif di PPI waktu itu cukup galau untuk ikut kesempatan ini karena sedang skripsi. Namun, setelah berdiskusi dengan Damar, Ketua PPI di kampus saya, kami berdua sepakat untuk ikut karena dipikir-pikir lumayan lah menambah memori di semester akhir semasa kuliah.

Kami berdua pun menyebarkan pesan ini pada mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Curtin University, kota Miri, dengan harapan dapat merekrut mereka untuk menjadi panitia pemilu. Awalnya sih tidak ada yang mau ikut karena pada sibuk kuliah, tetapi yang namanya anak kuliah memang perlu sedikit dorongan atau katakanlah motivasi untuk ikut hehe. Ferrick tiba-tiba mengatakan pada saya bahwa akan ada komisi bagi yang ikut dan uangnya lumayan sekali untuk anak-anak rantau seperti kita (kurang lebih 2000 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp. 7 juta).

Baca Juga: Perkenalkan Aaron Amatri: Teknik Perminyakan di Curtin University, Malaysia

Saya pun semakin semangat untuk ikut dan Boom! Tak lama setelah saya menyebarkan info tentang komisi hampir semua anak Curtin mau daftar jadi panitia. Semua orang yang awalnya tidak bisa multi-tasking (kuliah sambil bekerja) tiba-tiba mendapat pencerahan. Jadwal kuliah yang dianggap padat ternyata masi bisa diatur jadwalnya untuk bekerja sebagai panitia. Konklusi: “Money makes the world go round.” Maklum, #anakkuliah #butuhuang.

Tak hanya mendapat komisi yang menjadi inti dari pengalaman saya ikut menjadi panitia pemilu di luar negeri. Dengan menjadi panitia pemilu kalian semua juga mendapat kesempatan untuk mendalami cara kerja di lapangan bersama orang-orang baru dari berbagai kalangan.

Pada tanggal 18 Februari 2019, saya pergi ke lokasi wawancara dan bertemu dengan begitu banyak pekerja buruh dari Indonesia yang juga ikut. Kami dikelompokan menjadi ratusan tim dan masing-masing diuji apabila layak menjadi panitia.

Kami, para mahasiswa-mahasiswi kebanyakan menjadi pemimpin kelompok, dengan begitu kita diberi kesempatan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan leadership skills secara langsung. Pelatihan diadakan beberapa kali dalam kurun waktu 2 bulan yang mencakup bagaimana cara mencoblos, menyiapkan lokasi TPS, dan mengarahkan WNI setempat yang datang untuk mencoblos dengan cara yang benar.

Begitu banyak hal yang saya pelajari karena bertemu dengan begitu banyak persona pada saat hari pencoblosan (8-9 April 2019). Lokasi penugasan saya cukup ramai karena dekat dengan bandara, ditambah adanya 3 TPS.

Setelah selesai mengumpulkan suara di Miri, kami diberikan akomodasi untuk pergi ke Kuching untuk bersama-sama menghitung suara di sebuah stadium pada bulan April. Kami membawa kotak suara yang sudah disegel dan dikunci. Stadium itu terisi penuh dengan kotak-kotak yang berisi suara dari Warga Negara Indonesia.

Kami pun masing-masing diawasi oleh petugas KPU maupun tim kedutaan Kuching agar menghitung dengan jujur dan bersih. Proses perhitungan suara diadakan secara bertahap karena jumlah suara dan tim yang sangat banyak. Proses ini memakan waktu 1 hari penuh dan merupakan hari yang melelahkan dan sangat menegangkan.

Akhir kata, saya sangat bersyukur atas kesempatan ini karena setelah proses yang melelahkan, saya bersama teman-teman dari Miri dan Kuching mendapatkan banyak pengalaman berharga. Tidak hanya uang yang kami bawa pulang, namun pertemanan dan rasa nasionalisme yang timbul secara tidak sadar. Jadi, jika kalian berkuliah di luar negeri dan mendapat tawaran untuk menjadi panitia pemilu, katakanlah, “YA! Gue ga sabar untuk ikut!”

Ayo ikut berkontribusi menulis artikel

Kolom ini merupakan karya opini dan belum tentu mencerminkan pendapat redaksi editorial Anak Rantau.

Ingin mengetahui cerita lain di Kuala Lumpur?