fbpx

Jejak Pendidikan Jurnalis Indonesia di Luar Negeri

Media di Indonesia telah melahirkan sejumlah insan kreatif yang tentu dikenal masyarakat. Mulai dari pembaca berita di televisi maupun sebagai seorang penulis di kolom majalah. Berikut merupakan jejak pendidikan jurnalis Indonesia yang berkesempatan mengeyam pendidikan di luar negeri.

1. Leila S. Chudori

Leila S. Chudori - Jejak Pendidikan Jurnalis Indonesia
Leila S. Chudori. Sumber: seleb.tempo.co

Dikenal sebagai seorang penulis novel fiksi-sejarah Pulang dan Laut Bercerita, Leila S. Chudori pada dasarnya bekerja sebagai jurnalis dari Tempo. Ia telah bergabung dengan Majalah Tempo sejak tahun 1989. Sebelumnya, Leila menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Ia mendapat gelar sarjana untuk program Political Science dan Comparative Development Studies.

Selama bergabung dengan Tempo, Leila banyak dipercaya meliput isu-isu internasional. Tak heran apabila ia pernah berhasil mewawancarai Presiden Cory Aquino pada tahun 1989; Fang Lizhi, seorang ahli Fisika dan juga merupakan pimpinan gerakanan Tiananmen, China, pada tahun 1992; Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada tahun 19992, dan beberapa nama besar lainnya.

2. Putra Nababan

Putra Nababan - Jejak pendidikan jurnalis indonesia
Putra Nababan. Sumber: rilis.id

Menduduki kursi parlemen, dulunya Putra Nababan adalah seorang jurnalis yang berkecimpung sebagai pembawa berita di Metro TV. Kala itu, keinginan Putra Nababan menjadi seorang jurnalis dipengaruhi oleh ayahnyam Panda Nababan. Akhirnya, ia memilih untuk berkuliah di departemen jurnalistik dari Midland Lutheran College, Fremont, Nebraska.

Setelah lulus kuliah, Nababan bekerja untuk Majalah Forum Keadilan, Koran Merdeka, dan Metro TV. Kemudian, ia bekerja untuk RCTI sejak tahun 2004. Pada Maret 2010, Putra Nababan berhasil mendapat kesempatan untuk mewawancarai Presidan Amerika Serikat kala itu, Barack Obama.

3. Desi Anwar

Desi Anwar - Jejak Pendidikan Jurnalis Indonesia
Desi Anwar. Sumber: pesona.co.id

Desi Anwar adalah salah seorang jurnalis senior di Indonesia. Ia menjabat sebagai direktur dari CNN Indonesia TV di Jakarta. Selain itu, ia juga menjadi pemandu program talk show harian bernama Insight with Desi Anwar. Dalam talk show tersebut, Desi akan berbincang secara mendalam dengan tokoh publik, selebriti, maupun pembuat kebijakan dari Indonesia dan negara lainnya.

Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Desi sebelumnya memperoleh gelar sarjananya untuk program Studi Perancis dan Eropa di University of Sussex. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di bidang kajian Indonesia dan Melayu di SOAS University of London.

Saudara perempuan dari Dewi Fortuna Anwar ini juga aktif menjadi Kolumnis untuk The Jakarta Globe, Majalah Tempo, maupun The Jakarta Post.

4. Marissa Anita

Marissa Anita - Jejak pendidikan jurnalis indonesia
Marissa Anita. Sumber: hot.liputan6.com

Nama Marissa Annita menjadi sering diperbincangkan saat memerankan Dini dalam film Perempuan Tanah Jahanam besutan Joko Anwar. Perempuan kelahiran Surabaya tersebut sebelumnya telah mendalami karirnya sebagai seorang jurnalis dan presenter berita.

Setelah kurang-lebih 5 setengah tahun berkarir sebagai reporter dan pembawa berita di Metro TV, Marissa memutuskan untuk meneruskan kiprahnya di NET TV. Marissa dipercaya untuk menjadi pemandu acara Indonesia Morning Show dan talk show inspiratif bertajuk Satu Indonesia.

Sebelumnya, Marissa Anita sempat mendalami jurusan jurnalistik di University of Sydney, New South Wales Autralia. Ia mendapatkan gelar Master of Media Practice.

5. Najwa Shihab

Najwa Shihab - jejak pendidikan jurnalis Indonesia
Najwa Shihab. Sumber: pop.grid.id

Rasanya, ketika membahas deretan jurnalis Indonesia, tak lengkap bila tak menyebut sosok Najwa Shihab. Najwa terkenal sebagai jurnalis senior dan pengampu dari Narasi TV. Menjalani karir sebagai seorang jurnalis telah membuat Najwa dikagumi karena kepiawaiannya dalam mewawancarai seorang tokoh publik. Hal ini pulalah yang membuat Najwa menjadi tuan rumah dari Mata Najwa.

Setelah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Najwa mendapatkan kesempatan untuk memperdalam ilmunya di Melbourne Law School Australia. Kala itu, ia mengambil konsentrasi hukum media.

Dengan demikain, menjadi seorang jurnalis tak harus berasal dari jurusan jurnalistik. Meski, akan lebih baik ketika kamu bisa mengorelasikan jurusan yang kamu ambil dengan karir kamu ke depannya.

Baca juga Mengenal Para Ilmuan yang Menempuh Pendidikan di Oxbridge

Ingin mengetahui cerita lain di London?