fbpx

Cerita Gabriel Baky: Bekerja di Tengah Kebijakan Lockdown Santa Clara, California

Jalanan di Santa Clara terlihat sepi. Tak terlihat mobil berlalu-lalang. Tempat-tempat umum pun terlihat lengang. “Kami tahu bahwa Santa Clara merupakan pusat outbreak di Bay Area dan kami menyadari bahwa COVID-19 sangat mudah menyebar. Kebijakan lockdown ini meminta seluruh individu di Santa Clara untuk tetap berada di tempat tinggalnya dan selalu menjaga social distancing,ujar Dr. Sara Cody dari departemen kesehatan.

Kali ini, kami dari Tim Rantau berkesempatan untuk mewawancarai Gabriel Baky, salah seorang Anak Rantau yang tinggal di Santa Clara, California. Gabriel mulanya adalah mahasiswa jurusan software engineer di San Jose State University. Sekarang, ia bekerja sebagai DevOps Engineer di Flexon Technologies dan bekerja di tengah kebijakan lockdown di Santa Clara, California.

Sumber: dokumentasi pribadi Gabriel

Berikut hasil percakapan kami selengkapnya dengan Gabriel:

Halo, Gabriel. Bisa dijelaskan bagaimana kebijakan lockdown yang diterapkan di Santa Clara?

Sebenarnya, dari mingg lalu sudah diimbau untuk kerja dari rumah dan meminimalisasi keluar dari rumah, ketemu orang, atau ke tempat publik. Acara-acara ramai seperti NBA dan NFL, konser-konser seperti Coachella, beberapa perkuliahan, dan lainnya sudah dibatalkan.

Akan tetapi, kebijakan full lockdown ini baru efektif mulai Senin. Bekerja harus sudah dari rumah. Tempat umum yang non essential harus tutup. Hanya sisa tempat makan, farmasi, rumah sakit, dan layanan lainnya yang penting.

Lalu, ada polisi yang melakukan ronda di jalan umum San Fransisco untuk mengecek orang yang jalan-jalan keluar rumah. Apakah ada kepentingan? Kalau tidak ada, (orang tersebut) disuruh pulang. Sebetulnya, tidak ada aturan formal mengenai batasan untuk keluar rumah ini. Pemerintah terus-menerus memberikam imbauan dan beberapa polisi ditugaskan untuk menjaga jalanan umum.

Semua flight dari Eropa ke United State juga sudah di-ban, kecuali untuk US citizen yang pulang dari Eropa ke US. Sekarang, lagi dibahas wacana untuk memblokir semua fllight keluar-masuk dari Washington dan California. Akan tetap, kebijakan ini belum berjalan.

Awalnya, waktu di US cuma ada belasan kasus, belum begitu heboh. Enggak lama, beberapa minggu kemudian sudah ada 100 kasus lebih. Baru kemudian pada panik karena berdasarkan perhitungan, di angka segitu, sudah akan sangat sulit untuk dikontrol. Pada akhirnya, kebijakan lockdown pun diterapkan.

Bagaimana kamu menyikapi kebijakan lockdown ini?

Sekarang saya cuma di rumah terus. Kerja juga dari rumah. Keluar cuma untuk hal-hal penting seperti nyetok air, makanan, tisu, dan lainnya. Sebetulnya, panic buying juga terjadi di sini. Barang-barang di supermarket habis semua, khususnya tisu, masker, lysol, hand sanitizer, dan alat-alat kebersihan lainnya.

Terus, megantre di supermarket bisa satu jam lebih.

Sejauh ini, bagaimana pemerintah menghadapi COVID-19? Apa yang mereka persiapkan?

So far berlum ada yang fix. Akan tetapi, wacananya warga negara Amerika yang terkena COVID-19 dapat layanan kesehatan gratis. Semua warga US dapat $1.000. Lalu, tes COVID-19 juga bisa didapatkan secara gratis di depan toko-toko seperti Walmart, CVS, atau Wallgreen.

Untuk tesnya sendiri, yang dilakukan tes darah, sih. Terus, kemarin Google baru saja merilis website untuk daftar tes COVID-19. Akan tetapi, website tersebut crash karena terlalu banyak yang mengakses.

Selama masa lockdown, apakah kamu menjalin komunikasi dengan orang-orang Indonesia yang ada di sana? Melalui komunitas diaspora atau semacamnya, mungkin?

Di sini memang ada komunitas diaspora tapi jujur saya enggak ngikutin. Saya cuma interaksi sama teman-teman saya yang orang Indonesia untuk sekarang ini.

Bagaimana pendapat kamu mengenai kebijakan lockdown yang dilakukan pemerintah saat ini?

Sebetulnya, di tengah mewabahnya COVID-19 ini, kesadaran individu menjadi penting. Tiap individu harus punya kesadaran tinggi untuk tidak keluar rumah, tetap memakai masker saat keluar rumah, cuci tangan, tidak banyak bertemu orang, menjaga kebersihan, dan lainnya.

Hal ini sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh WHO. Bagaimanapun, untuk mengontrol semua orang itu bukan suatu hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Maka dari itu, tiap individu juga harus memiliki kesadaran sendiri.

Saya lihat di Indonesia angka (jumlah kasus) terus naik. Kalau di Jakarta sudah lebih dari 100 orang, itu akan sudah kacau karena rate penyebarannya akan eksponensial (semakin cepat).

Menurut saya, keadaan di Jakarta sudah bahaya dan seharusnya lockdown. Kalau lockdown gagal, proyeksi yang meninggal sebelum ada vaksin bisa banyak sekali. Itali saja yang awalnya santai, jadi sepenuhnya kacau dalam waktu 24 jam.

Apabila kasus ini tidak ditangani dengan serius, maka bisa sangat fatal. Di Amerika sendiri, kapasitas rumah sakit lokal juga sudah mulai penuh.

Yang penting tetap hati-hati. Mudah-mudahan aman, sih.

Itulah cerita Gabriel Baky yang merasakan langsung kebijakan lockdown diterapkan di tempat tinggalnya, Santa Clara, California. Kebijakan lockdown memang sudah diterapkan di berbagai tempat. Hal ini merupakan salah satu langkah nyata untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih lanjut.

#mc_embed_signup{background:#fff; clear:left; font:14px Helvetica,Arial,sans-serif; } /* Add your own Mailchimp form style overrides in your site stylesheet or in this style block. We recommend moving this block and the preceding CSS link to the HEAD of your HTML file. */

Baca juga tentang daftar acara-acara yang ditunda akibat dampak dari virus Corona.