Tangguh Bersama Sang Bayi Ketika Menerima Beasiswa LPDP

Dalam pernikahan, ada kalanya wanita mengalami pergejolakan ekspektasi, apalagi jika pasangan memutuskan untuk menikah muda. Mereka merasa tidak ada kesempatan lagi untuk menggapai cita-cita karena harus mengurus rumah, padahal pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban pasangan suami istri. Maka dari itu, wanita harus berani bertindak dan jangan biarkan impiannya kandas meskipun telah menikah. Hal tersebut dibuktikan oleh Amarizni Mosyaftiani bahwa menikah muda bukanlah halangan untuk mengukir prestasi. Ia adalah LPDP Awardee tahun 2015 dan sedang mengandung buah hati 5 bulan saat mendapatkan beasiswa prestisius itu.

Menerima Beasiswa Saat Hamil 5 Bulan

Ilustrasi Kehamilan. Sumber: www.webanne.com

Amar, sapaannya, memutuskan nikah muda di usia 23 tahun usai meraih gelar sarjana. Ia berhasil meraih beasiswa S2 dari pemerintah Indonesia dengan mengambil jurusan Magister Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor. Ketangguhannya diuji dengan kehadiran bayi 5 bulan di kandungannya. Dilansir dari situs resmi LPDP, awalnya semua orang terdekat Amar meragukannya untuk kuliah dan menyarankan untuk cuti karena prediksi kelahiran terjadi di tengah semester. Akan tetapi, mentalnya sekuat baja mematahkan keraguan tersebut. Ia terus melaju bersama sang bayi dalam kesempatan emas ini serta yakin dapat melewati masa-masa menyenangkan tersebut meskipun syarat beasiswa dan perguruan tinggi saat itu tidak memperbolehkannya menunda kuliah. Ia pun tidak segan mengambil pascasarjana di dalam negeri karena sekolah di tanah air bukan berarti rendahan, melainkan bakti demi memajukan Indonesia di kancah global.

Dilansir dari IDN Times, tantangan tersebut ia lewati dengan ikhlas. Amar pun kuliah sambil bekerja dan berani naik motor sendiri ke tempat kerjanya. Pun, ia juga berangkat ke kampus dengan naik ojek dan commuter line di awal masa perkuliahan. Berjuang memang tidak ada yang mudah, begitupun Amar yang memilki cita-cita mengembangkan kawasan perkotaan di Indonesia yang lebih ekologis. Dilansir dari situs resmi LPDP, Amar menjelaskan bahwa ekologis dapat membuat ekosistem perkotaan bukan sekadar pusat pembangunan dan ekonomi, namun juga berkontribusi pada pemeliharaan keanekaragaman hayati dan peningkatan jasa lingkungan yang lebih produktif.

Kehamilan pun menginjak usia 8 bulan, namun Amar tetap gigih berjuang dengan merancang strategi demi kuliah yang lebih efektif. Salah satunya ialah pindah rumah ke Depok dengan harapan kuliah dan urusan rumah tangga dapat Amar kerjakan secara seimbang. Setiap hari ia arungi jarak 35 kilometer dari Depok ke IPB Darmaga dengan antusias.

Tantangan Setelah Melahirkan

Sumber: www.lpdp.kemenkeu.go.id

Tantangan yang harus Amar hadapi pun belum selesai. Sebulan setelah melahirkan Amar disibukkan dengan Ujian Tengah Semester (UTS) selama 2 minggu. Ia berusaha menjaga tubuhnya tetap bugar supaya dapat mengerjakan UTS sembari mengurusi bayi kesayangannya, Fatih. Wanita super itu dapat menjalani semuanya dengan baik berkat dukungan dari suami dan keluarganya yang bergiliran menjaga Fatih. Hingga akhirnya ia lulus dengan pencapaian IPK sempurna yaitu 3,8. Selama kuliah, ia juga aktif mengikuti seminar dan internasional serta menulis jurnal berstandar internasional.

Amar menunjukkan taringnya di dunia pendidikan bahwa ia dapat menembus batas diri bersama buah hati dan keluarga kecilnya berkat tekadnya yang kuat. Kesibukan belajar tidak menghalanginya untuk terus memberikan perhatian terbaik kepada anak dan suami. Dilansir dari situs resmi LPDP, Amar berkata, “Bayi ini juga penerima beasiswa, ikut lulus S2 dan dia sepertinya perlu dibuatkan toga saat saya wisuda.” kelakarnya.

Sebagai penutup, berikut adalah pesan Damian Tang selaku Presiden Federasi Internasional Arsitek Lanskap Asia Pasifk yang Amar tulis ketika ia menghadiri simposium,

Believe in what you do, do not give up ever when the road gets tough. Tough roads only make us stronger and better in life” ~ Damian Tang

Itulah kisah Amarizni Mosyaftiani yang tangguh bersama sang bayi hingga menembus batas diri berkat keuletannya. Bagi kamu yang sedang berada di titik jenuh, ingatlah bahwa jalan berliku dapat membuatmu lebih kuat dari sebelumnya serta menambah perspektif dalam melihat dunia. Kuatkan tekadmu, maka semesta mendukungmu!