Nur Puji Lestari; Kesulitan Bukan Halangan untuk Belajar di Eropa!

Persoalan pendidikan memang tak pernah pandang zaman. Munculnya pemerataan pendidikan melalui program wajib belajar hingga pelosok Indonesia pun alpa memastikan bahwa seluruh anak-anak Indonesia menikmatinya. Seolah-olah anggapan pendidikan hanya untuk kalangan borjouis itu benar tetapi enggan disuarakan lebih keras.

Adalah Nur Puji Lestari, anak inspiratif yang mampu mematahkan anggapan umum tersebut. Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), Puji-begitu sapaan akrabnya-berangkat ke Belanda melanjutkan pendidikan S2  di University of Groningen jurusan Master of Supply Chain Management. Menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk memperbaiki masa depan Puji dan keluarga, ia tak gentar meski terasa mustahil dengan beban finansial yang tidak mencukupi.

“Saya dan kakak-kakak punya semangat belajar yang tinggi walaupun dari keluarga kurang mampu. Saya ingin menepis pandangan masyarakat pada umumnya, khususnya di daerah saya Pekalongan bahwa pendidikan hanya untuk orang-orang berada. Anak-anak dari keluarga tidak mampu dianggap tidak harus sekolah tinggi-tinggi. Mayoritas di desa saya sekolah hingga SD dan SMP saja,” tuturnya dalam membuka obrolan dengan Anak Rantau.

Motivasi Kuliah ke Luar Negeri

Buku adalah jendela dunia. Agaknya anggapan tersebut pas disematkan kepada Puji memulai perjalanannya kuliah ke luar negeri. Melalui Novel “Tetralogi Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang menceritakan tentang sekumpulan anak di pulau Belitung yang tetap berjuang teguh mengenyam pendidikan walaupun harus menempuh jarak dan banyak rintangan menuju sekolah. Perjuangan masa kecil Ikal dan kawan-kawan rupanya membungkus harapan Puji untuk bisa bersekolah tinggi.

“Novel inilah yang menginspirasi saya untuk terus sekolah dengan segala keterbatasan ekonomi dan bahkan bermimpi kuliah di luar negeri yang akhirnya bisa terealisasi. Saya jadi bisa membayangkan bagaimana indahnya Eropa dan berkualitasnya ilmu di kampus-kampus terbaik dunia,” ujar Puji mengenang perjalanan sekolahnya.

Sumber: 4 Network

Pahitnya perjuangan Puji untuk bisa sekolah sudah dimulai semenjak bangku Sekolah Dasar. Puji sekolah sambil jualan di dalam kelas untuk bisa membiayai kebutuhan dan biaya perlengkapannya. Hingga di bangku SMA Puji belajar tekun untuk bisa menduduki posisi rangking satu paralel agar bisa sekolah gratis dengan beasiswa. Jenjang perkuliahanpun di lewati Puji melalui bantuan beasiswa Bidikmisi di Universitas Gadjah Mada jurusan Teknik Industri. Kendatipun perjalanan akhirnya berlabuh di Negeri Tulip, kita tahu Puji memantaskan usahanya untuk sampai ke sana.

Cerita setelah Lulus

Janji setelah kesulitan akan ada kemudahan, Puji pantas memetik hasil dari perjuangannya. Sesuai visi LPDP adalah mencetak penerus bangsa yang memberikan kontribusi untuk Indonesia, ia sekarang menjadi dosen di dua kampus. Di Politeknik Pusmanu, Kabupaten Pekalongan, sejak September 2018 dan ITS NU Kabupaten Pekalongann sejak Februari 2019. Baru-baru ini Puji memantapkan posisinya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan. Tepatnya di bidang Hubungan Industrial. Maka benarlah niat Puji, bahwa pendidikan pada akhirnya mengangkat derajat Puji dan keluarganya.

“Saya selalu sampaikan di setiap seminar yang saya isi, agar adek-adek semangat menuntut ilmu khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Saya mencontohkan diri saya sendiri sebagai bukti bahwa setiap kita itu mampu, tinggal bagaimana kita memperjuangkannya. Keterbatasan itu harus dijadikan motivasi dan tantangan untuk maju jangan jadikan halangan untuk menyerah dan kalah dengan keadaan,” tutup Puji.

Untuk kamu, iya kamu! Jangan menyerah dan gentar untuk memperoleh pendidikan tinggi. Puji membuktikannya, Eropa tidak mustahil untuk ditaklukan kalau kamu mau!