fbpx

Upaya Universitas Membantu Mahasiswa Selama COVID-19

Pandemi COVID-19 tidak dapat dipungkiri telah memberikan dampak bagi semua pihak. Apalagi bagi para mahasiswa internasional yang terjebak di luar negeri. Banyak pemerintah yang telah berupaya membantu dalam keadaan seperti ini. Sebagai contoh, Pemerintah Skotlandia pada tanggal 8 April mengumumkan akan menggelontorkan bantuan sebesar £5 juta bagi para mahasiswa yang membutuhkan. Lalu adakah upaya universitas untuk membantu para mahasiswa selama COVID-19?

Nyatanya, sejumlah universitas telah mulai berinisiatif untuk memberikan sedikit bantuan pada para mahasiswa. Meskipun, banyak juga kendala yang mereka alami. Sejumlah bantuan yang disediakan oleh universitas di dunia adalah sebagai berikut.

Dukungan peralatan elektronik

Sumber: unsplash.com

Pelaksanaan perkuliahan daring tentu membutuhkan peralatan elektronik seperti laptop dan lainnya. Maka dari itu, kebutuhan yang satu ini menjadi wajib bagi para pelajar.

Sejumlah universitas seperti Deakin University di Australia telah menawarkan dukungan teknologi informasi bagi mahasiswa yang membutuhkan. Sedangkan, Swinburne University menawarkan pinjaman laptop jangka panjang bagi mahasiswa internasional.

Perpanjangan waktu pengumpulan tugas

Sejumlah universitas di dunia banyak yang memperpanjang waktu pengumpulan tugas mahasiswa selama pandemi COVID-19 berlangsung.

Beberapa memintamu untuk memberikan surat keterangan dokter apabila kamu tidak merasa sehat, tapi ada juga universitas yang memberlakukan perpanjangan waktu untuk seluruh mahasiswa. Tanpa adanya surat dan dokumen lainnya.

Bantuan dana

Sumber: unsplash.com

Sejumlah universitas memang memberikan bantuan dana bagi para mahasiswa. Griffith University menyediakan batuan sebesar AUD $1,500 per mahasiswa. Sedangkan, untuk mahasiswa University of Edinburgh, sejumlah biaya tak terduga seperti akomodasi dan perjalanan akan ditanggung.

Meskipun demikian, banyak juga para mahasiswa yang masih terancam. Ketidakpastian akomodasi dan bahkan imbauan untuk kembali ke negara asal, membuat para mahasiswa tidak dapat berkutik. Sayangnya, tidak smeua universitas dan pemerintah setempat menaruh perhatian terhadap kondisi para mahasiswa internasional.

Pada akhirnya, harapan akan solusi keterbatasan finansial ini bisa segera hadir. Bagaimanapun, para mahasiswa internasional menjadi salah satu pihak yang rentan dalam kondisi pandemi COVID-19. Maka dari itu, akan sangat bijaksana pula apabila kita mengapresiasi upaya yang dilakukan sejumlah universitas untuk membantu para mahasiswa.

Baca juga cerita Gabriel Baky yang bekerja di tengah kebijakan Lockdown di Santa Clara, California.

Ingin mengetahui cerita lain di Worldwide?