fbpx

Perubahan Kebijakan Universitas di Amerika Saat Pandemi Sulitkan Para Pelajar

Kasus COVID-19 di Amerika Serikat masih terus meningkat. Bahkan, ditemukan sejumlah kasus di kampus maupun universitas di Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong adanya perubahan kebijakan yang diambil oleh pihak universitas. Tentunya, perubahan tersebut dapat dibilang menyulitkan para pelajar.

Perubahan kebijakan universitas yang ada

Sumber: wbur.org

Minggu ini, terdapat 11 pelajar di Northeastern University di Boston yang diberhentikan dari program kami tanpa adanya pengembalian biaya kuliah. Pemberhentian tersebut disebabkan tindakan mereka yang melanggar kebijakan penjarakan sosial COVID-19. Kemudian, kasus yang sama juga terjadi di Ohio State University Setidaknya, ada 225 pelajar yang diskors, bahkan sebelum perkuliahan dimulai, karena alasan yang sama.

Hingga saat ini, telah ada lebih dari 50.000 kasus yang terkonfirmasi di wilayah kampus sejak pandemi mulai merebak. Dilansir dari New York Times, jumlah tersebut terus bertambah secara signifikan dalam beberapa minggu ini.

Sejumlah universitas yang sebelumnya merencanakan pelaksanaan kuliah secara tatap muka, terpaksa mengalihkannya menjadi kuliah daring. Salah satu universitas yang melakukan hal tersebut adalah University of North Carolina at Chapel Hill. Akibatnya, ada pelajar yang mengalami kesulitan untuk menemukan tempat tinggal di luar kampus atau transportasi untuk kembali ke rumah.

Pada dasarnya, universitas di Amerika menangani kondisi ini dengan cara yang berbeda-beda. Untuk sekarang, terdapat universitas yang menyelenggarakan perkuliahan secara daring maupun tatap muka. Ada juga yang memberlakukan model perkuliahan secara hybrid. 

Sejumlah universitas seperti Boston University dan Colby College melakukan pemeriksaan gejala COVID-19 bagi para pelajar setiap hari. Sedangkan, universitas lainnya menyediakan kamar karantina bagi mereka yang membutuhkan. Sayangnya, tidak ada pemeriksaan ketat pada para pelajar. Akibatnya, penyebaran COVID-19 masih terus bertambah di kawasan kampus.

Hal ini menjadi sangat ironis ketika para pelajar malah disalahkan karena kegagalan sistem yang ada. Kebijakan yang tidak efektif ini membuat pelajar malah mempertanyakan tanggung jawab universitas dalam melindungi para mahasiswanya.

Kesulitan para pelajar

University of North Carolina at Chapel Hill. Sumber: unc.edu

Seperti yang telah disebutkan, perubahan kebijakan universitas di Amerika mengakibatkan para pelajar mengalami kesulitan. Sebagai contoh, kasus yang terjadi di University of North Carolina at Chapel Hill.

Mulanya, universitas satu ini menyelenggarakan perkuliahan secara tatap muka. Sayangnya, hal tersebut hanya dapat berjalan selama satu minggu dan kemudian kampus pun tutup sejak 17 Agustus 2020. Bagi sejumlah pelajar, hal ini membuat mereka mengalami kesulitan karena mereka mengalami dilema apakah akan mendapatkan pengembalian biaya asrama atau tetap bisa mendapatkan fasilitas apabila tinggal di asrama.

Dengan kasus yang terus bertambah, universitas-universitas di Amerika mengalami bentuk tantangan baru, yakni apakah harus memulangkan mereka ke rumah atau membiarkan mereka tinggal di kampus hingga pandemi berakhir.

Pada akhirnya, mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa kompleksitas dari pendidikan tinggi mencapai puncaknya pada tahun 2020 ini. Banyak sekali hal yang berubah semenjak pandemi COVID-19 menyerang.

Kondisi di atas, bisa juga terjadi di universitas atau negara yang akan kamu tuju, Kawan Rantau. Jadi, apabila kamu juga akan memulai perkuliahan pada tahun 2020 ataupun awal tahun 2021, pastikan kebijakan seperti apa yang akan berjalan. 

Baca juga penurunan jumlah mahasiswa internasional akibat COVID-19.

For Your Information

Mengapa terjadi perubahan kebijakan universitas di Amerika?

Pandemi COVID-19 masih menjadi jawaban utama, Kawan Rantau.

Apa dampak perubahan kebijakan tersebut bagi pelajar?

Tentu banyak pelajar yang merasa kesulitan akibat kebijakan tersebut. Selengkapnya dapat kamu baca di artikel ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Boston?