fbpx

Perkenalkan Hartomy Akbar: Lanjut Kuliah S2 di Kazan Federal University, Rusia

Dear, Kawan Rantau! Setelah sebelumnya kami berbincang dengan Rida Nadiatul yang melanjutkan studi di Asian University for Women (AUW), Bangladesh, kali ini kami akan mengobrol dengan Hartomy Akbar Basory yang melanjutkan kuliah S2 di Kazan Federal University, Rusia.

Jadi, bagi kamu yang tertarik untuk melanjutkan kuliah S2 di Rusia, terus simak obrolan kami berikut ini. Secara langsung, Tim Rantau akan mengupas lebih lanjut bagaimana perjalan dari Kak Tomy sampai bisa melanjutkan kuliah S2 di Kazan Federal University, Rusia

Penasaran? Mari simak obrolan kami berikut ini.

Bagaimana awal mula Kak Tomy tertarik untuk lanjut kuliah ke luar negeri?

Hartomy Akbar: Lanjut kuliah S2 di Kazan Federal University
Sumber: dokumentasi pribadi Tomy.

Aku tertarik kuliah ke luar negeri mulai umur 8 tahun. Pas tahun 1998, abangku yang anak pertama sudah kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Surabaya dan lagi persiapan demo Orde Baru. Aku mulai mikir, kalau kuliah ke luar negeri, mungkin bisa lebih baik dapat pendidikannya. Lebih intelek buat nyampein aspirasinya.

Nah, pemikiran itu jadi pemicu awal.

Mulai kuat berasa untuk harus ke luar negeri sekitar tahun 2015. Waktu liburan ke Nusa Tenggara sama teman kantor, kami ke pulau kecil naik perahu. Sampai di pulau tersebut, ada anak kecil cowok yang kulitnya legam. Mungkin belum SMP.

Anak ini bantu narik kapal kami buat sandar. Kapal kami berisi 5-10 orang dewasa. Dia narik kapal sama ibu-ibu. Aku yakin kalau tenaga dia enggak bakal sekuat itu, karena selain ibu-ibu, ada juga pemuda-pemuda timur yang bantu narik.

Tapi di umurnya yang baru segitu, dia sudah niat bantu dan kerja. Kalau di Jawa, (mungkin anak seumuran dia) lagi main TikTok kali, ya.

Pas mau dikasih uang, dia bilang gini, “uangnya kakak simpen aja. Toh, enggak bisa bantu bayar sekolahku. Doain aku bisa sekolah tinggi biar bisa kayak kakak-kakak semua dari kota, yang pendidikannya tinggi.”

Duar. Gimana enggak hancur hati kalau digituin?

Dari situ, mulai berniat lebih kuat lagi buat kuliah ke luar negeri dan supaya bisa bantu anak-anak seperti dia pas aku udah lulus kuliah. Amin.

Bagaimana awal mula Kak Tomy bisa kuliah S2 di Kazan Federal University, Rusia?

Jadi, awalnya itu aku gabung ke grup informasi beasiswanya Festival Luar Negeri, PPI Dunia atau FELARI. Mereka punya satu grup WhatsApp waktu itu, lalu aku gabung di situ dan banyak dapet informasi. 

Yang aku tuju… yang aku bener daftar waktu itu ada China, terus Rusia, sama Turki. Tapi karena Turki website-nya lama, belum bisa mendaftar resmi. Cuma bisa login aja.

Lalu saat Rusia ini sudah masuk tahap wawancara, yang beasiswa Chinese Government Scholarship ini juga manggil. Tapi aku mutusin ke Rusia.

Aku rasa Rusia itu karena topografinya, luas wilayahnya, penduduknya banyak, kulturnya macem-macem, kurang-lebih hampir seperti Indonesia. Perekonomiannya juga bisa dikatakan belum terlalu negara maju, ya. Masih di tahap negara berkembang. Pertimbanganku karena dia itu fokus utamanya minyak, seperti Indonesia juga. Crude palm oil, kan.

Yaa, meskipun beda iklimnya, terus mereka Eurasia (Eropa-Asia), tapi aku ngerasa tipikalnya Rusia dan Indonesia hampir sama gitu, lho. Mulai dari beragam sukunya, luas wilayahnya juga besar, terus punya daratan dan lautan yang termasuk besar di dunia. 

Terus aku ngerasa Insya Allah setelah aku lulus dari Rusia ini, balik ke Indonesia, sesuai dengan jurusan yang kuambil, ya. Manajemen… waktu aku daftarnya Manajemen Sumber Daya Manusia buat S1-ku. Terus S2-ku Manajemen Strategi Analis. Aku rasa Insya Allah kedua hal ini bisa diterapin setelah aku lulus. Diterapin di Indonesia gitu, lho. 

Jadi bukan gaya-gayaan untuk feeds Instagram, tapi lebih ke setelah aku lulus ini, ilmu apa yang bisa aku bawa.

Terus kenapa aku milih kampusnya, nih. Aku kan milihnya di Kazan Federal University. Kazan, kan, kotanya. Aku ngelihat dari beberapa website pemerintah atau internasional, seperti Webometrics, Times Higher Education, dan QS World University. 

Sekitar tahun 2017-2018, aku nyari yang di Rusia, salah satu penerbit jurnal internasional paling banyak, terus jurusanku yang ada, lalu profesornya juga ada untung membimbing aku, terus tema analisanya kurang-lebih sama, dan biaya hidup di kotanya. Lalu, kota Islam juga. Selain Kazan ada Dagestan dan Bashkortostan di Rusia ini.

Jadi, beberapa pertimbangan tadi, aku enggak asal milih kampus dan enggak asal milih negara. Negaranya aku udah ada pertimbangan, kampusnya juga ada pertimbangan. Salah satunya, di Kazan Federal University. Maka dari itu kenapa aku milih untuk kuliah S2 di KFU dan di Rusia.

Kalau untuk pendaftaran Beasiswa Pemerintah Rusia yang kakak dapatkan, bagaimana persiapan Kak Tomy sebelumnya? Apakah perlu menguasai Bahasa Rusia juga?

Kalau aku dulu itu persiapannya, aku ngikutin WhatsApp kelas online gitu punyanya Sahabat Beasiswa, punyanya FELARI, dan Indonesia Young Leader. Itu, kan, sering bikin seminar online. Nah, aku ngikutin. 

Terus, aku cari nih, abstrak dan motivation letter yang bagus apa dan cocok dengan negara itu apa, karena setahuku setiap negara itu punya contoh abstrak yang berbeda-beda. Kayak gitu, kan? Menarik apa nih dari negara itu yang bisa aku angkat? Lalu, mereka itu keunggulan dan kekurangannya apa? 

Terus, mengenai penguasaan bahasa, kalau di Rusia ini, Beasiswa Pemerintah Rusia (Russian Government Scholarship), atau yang lebih dikenal sebagai Beasiswa Pusat Kebudayaan Rusia (PKR), itu mereka tidak mensyaratkan Bahasa Inggris. 

Mereka mensyaratkan Bahasa Rusia, dan itu kita tidak harus bisa Bahasa Rusia secara lancar dengan sertifikat. Semua bisa, asalkan saat pendaftaran itu, kita bisa minimal alfabet. Lalu, hitung-hitungan 1-100. Itu minimal kita bisa itunya dulu aja, deh. 

Terus, waktu wawancara itu juga, dari Pihak Kebudayaan Rusia, Kedutaan Rusia, itu mereka akan wawancara kita pakai Bahasa Inggris. Itu sangat memungkinkan pakai Bahasa Indonesia, biasanya ada translator-nya. Bahasa Indonesia saja bisa, asalkan kita kuat mengenai abstrak dan motivation letter-nya.

Untuk wawancara, memang ada translator, mulai dua tahun ke belakang, aku mulai kuliah di sini tahun 2018. Tahun 2019 dan 2020 itu, Alhamdulillah selalu ada pihak translator. Jadi, kalau kita ngejelasin pakai Bahasa Inggris, itu biasanya ada translator dari pihak Pemerintah Rusia, entah itu dia guru bahasa Rusia yang sudah cakap berbahasa Indonesia, atau mahasiswa Indonesia yang sudah lulus dan bekerja di situ.

Dan, sering-sering dikepoin di Facebook itu ada, Pusat Kebudayaan Rusia itu ada Facebook-nya. Dengan direkturnya Vitaly Glinkin. Lalu ada website-nya, Future Indonesia kalau enggak salah.

Kalau untuk perkuliahan sendiri, bagaimana sistem perkuliahan yang berlaku di Rusia?

Hartomy Akbar: Lanjut kuliah S2 di Kazan Federal University
Suasana perkuliahan di Kazan Federal University. Sumber: dokumentasi pribadi Tomy.

Kalau untuk perkuliahan di sini itu, kita tahun pertama, mau S1, S2, atau S3, selalu diharuskan mengikuti Padgatovitelnie Fakultyet (Podfak) atau yang lebih dikenal sebagai kelas persiapan bahasa. Itu kalau kita dapat beasiswa Pemerintah Rusia, satu tahun kelas bahasa itu gratis. Lalu, selanjutnya, kuliah S1 itu 4 tahun, S2 itu 2 tahun, S3-nya sekitar 3-4 tahun, lah. 

Terus, perkuliahan di sini itu ujiannya ada dua sistem, ekzamen dan zachòt. Ekzamen itu seperti kebanyakan kita tahu. Kalau zachòt itu lebih dikenalnya sebagai pra-ujian, tapi dia tidak ada nilai. Hanya lulus dan tidak lulus.

Di sini itu menariknya, kalau kita aktif di kelas, aktif diskusi dengan dosen, kita sering jawab pertanyaan, kita itu bisa dapet Avtomat . Avtomat itu, nilai standar yang ditentukan oleh masing-masing dosen. Nah, kalau kita dapat avtomat, kita enggak perlu ikut UAS, kita enggak perlu ikut ekzamen atau zachòt tadi. Jadi kita bisa cuma kuliah-ngerjain PR, kuliah-ngerjain PR, selesai. Kalau kita dapat avtomat, ya.

Kalau di sini itu, kita enggak lulus di ujian pertama, kita ada dopka, remedial. Itu dua sampai tiga kali. Kalau kita ndak lulus lagi kita ada komisiya. Komisiya itu nanti akan berbeda dengan dopka. 

Dopka ini kalau di Indonesia dikenal dengan remedial, dengan dosen itu yang kita dapat sama dengan pelajaran itu, kan.. Tapi.. komisiya ini kita biasanya dapet dosen dari kampus lain. Jadi, lebih serem, ya.  Tapi, enaknya, kita dapet avtomat itu tadi yang berbeda dengan Indonesia.

Terus, sistem penilaian di sini itu, 1 sampai 5. IPK pun seperti itu. Jadi, kalau Indonesia kan 1 sampai 4, nih., IPK-nya. Kita itu nilai 1-5. 

Kita di sini pun mereka kebanyakan minta sama dengan buku. Jadi kita pengembangan teori itu diskusi kritis, ada beberapa dosen yang terbuka, ada mereka yang mintanya sesuai dengan buku. Kalau hitung-hitungan pun, kita harus bener-bener cocok dengan buku. Teori yang kita kemukakan, argumen yang kita kemukakan itu harus ada landasan teorinya. 

Ya, berbedanya dengan Indonesia, Indonesia kan lebih kritis, nih. Nah, kalau di sini tuh, kita harus nemu pandangan tokoh siapa, baru kita bisa jadiin panutan untuk berargumen.

Lalu, bahasa pengantar, paling banyak adalah bahasa pengantar Rusia, kalau dengan Beasiswa Pemerintah Rusia. Tapi, beberapa kampus, seperti aku di sini, Kazan Federal University, dengan jurusanku, S2-nya Manajemen Strategi Analis, itu aku dapet kelas yang Bahasa Inggris. Dari pihak beasiswanya juga tidak melarang. Jadi, itu tergantung dari jurusan yang akan kita pilih dan di Rusia pun itu beasiswanya enggak cuma dari beasiswa Pemerintah Rusia.

Kita punya Skoltech atau Skolkovo Institute of Science and Technology, itu dengan beasiswa Bahasa Inggris. Lalu, ada Innopolis University, itu seperti… kalau di Amerika itu seperti Seattle-nya lah. Markasnya Massachusetts Institute of Technology (MIT). Innopolis itu seperti itu. Jadi, dosennya itu kebanyakan dari luar negeri, selain Rusia. Bahasa pengantarnya Rusia dan jumlah beasiswanya lebih besar biasanya. Kayak gitu, sih.

Menurut Kak Tomy, kalau secara lingkungan atau budaya, apa yang paling terasa berbeda antara Rusia dan Indonesia?

Hartomy Akbar: Lanjut kuliah S2 di Kazan Federal University
Sumber: dokumentasi pribadi Tomy.

Kalau budaya, di sini itu, mereka itu enggak anti sama Muslim. Mereka juga ke agama lain juga enggak anti, karena seperti yang pernah kusampaikan, Presiden Putin itu pernah mengeluarkan statement kalau anak muda Rusia itu harus sering baca ayat kitab suci. Terus, mereka harus beragama. 

Kalau misalkan dicari, pembukaan Masjid Katedral Moscow, itu ada bantuan dari Presiden Turki, presiden lainnya, kalau nggak salah dari Palestina juga bantu, Presiden Putin waktu itu ngomong, jadi pemuda di Rusia itu harus memiliki agama, harus sering baca kitab suci, apapun itu. Baik Injil, terus. Al Quran, Taurat, Zabur, maupun kitab suci Yahudi. Di sini pun, tempat agama juga banyak.

Terus, budayanya di sini, yang lebih kerasa, mereka itu biasanya ke orang asing, itu kalau memang belum jadi circle mereka, beda dengan Indonesia. Kita kalau ngobrol di bus saja, kita enggak kenal nih, awalnya enggak kenal, tiba-tiba dari rute kita berangkat kantor, atau berangkat kuliah, itu sebelum kita sampai di tempat masing-masing, kita sudah tahu namanya siapa, tinggal di mana, kuliah di mana, saudaranya berapa. 

Nah, kalau di sini, ndak. Naik transport pun, mereka lebih sering transport umum, kayak metro, trolley bus, mereka itu lebih sering pakai headset terus baca buku. Kalau di hape pun, mereka baca-baca berita lah. Ndak terlalu banyak seneng interaksi kalau bukan circle-nya.

Kalau kita ke supermarket, kita misalkan enggak bawa plastik nih, kita beli plastiknya berbayar. Kita masukin sendiri, nggak kayak waktu kita di Alfamart atau Indomaret yang dilayani. Barang-baranya dimasukin. Kalau di sini, kita masukin sendiri. 

Terus, kebanyakan, di sini itu sudah cashless. Sudah kita bisa pakai hape, bukan transfer, ya. Jadi, kartu perbankan Rusia itu sudah ada aplikasinya di hape, dan kita tinggal tempelin handphone-nya aja, dan kebanyakan sistemnya seperti itu. 

Kita bayar taksi pun, kita bisa transfer ke orangnya. Kita jalan-jalan nih, di pusat kota, ada orang ngamen, dan kita nggak ada tunai, mereka nulis nomer bank-nya mereka itu untuk ditransfer. Segitu cashless-nya mereka.

Terus, kita kalau anak baru dari luar negeri lihat cewek atau cowok asli Rusia atau negara lain, kan, ngelihat seluruh badannya, ngelihat matanya. Kalau di sini, ngga. Mereka kalau ngelihat terus disenyumin, mereka kalau bukan circle-nya malah nggak seneng. Terusik gitu, lho.

Mereka di sini itu, budayanya, kalau kita cewek dan cowok, nih, dalam satu circle, nyapanya biasanya pelukan. Kalau ketemu di jalan. Kalau cowok itu salaman. 

Uniknya, meskipun musim dingin, kita pakai sarung tangan, nih, ataupun musim semi dan gugur, ya, yang itu masih dingin-dinginnya, kita lepas sarung tangan. Mereka nggak mau salaman dengan sarung tangan. Meskipun itu kita minus 20, ketemu di jalan yang itu satu circle mereka, ya kita lepas sarung tangan, salaman. Basa-basi sedikit, terus jalan. Tapi, lainnya, kalau bukan circle-nya, mereka biasa aja. Paling say hello di jalan, kayak gitu.

Budayanya lagi yang beda, di sini itu setiap tanggal 9 Mei ada parade kemenangan Rusia (waktu itu masih USSR) mengalahkan Jerman. Setiap tanggal 9 Mei mereka itu ada parade besar-besaran, ada kembang api gitu, kan. Terus, tahun ini diundur jadi tanggal 25 Juni karena COVID ini. 

Lalu, mereka itu untuk Idul Fitri, kita dikasih kesempatan salat, nih. Tapi setelah itu, kalau ada jam kuliah ya kita tetap kuliah. Jadi, setelah kita salat Idul Fitri atau Idul Adha, kalau ada jam ujian, ya kita ujian di hari yang sama. Tapi kita bisa ngomong, kadang telat gitu, kan. Biasanya sih kalau itu bentrokan sama ujian, otomatis kita harus lepas salatnya. Mereka memang menoleransi, tapi kalau untuk kelas-kelas biasa. Untuk ujian, mereka sekadar tahu, ada yang ngasih perpanjangan waktu boleh telat, ada yang harus on time. Begitu pula dengan Salat Jumat.

Di sini pun, untuk Natal, ya. Mereka itu kan ortodoks. Jadi, Natal-nya mereka itu bukan 25 Desember, tapi 7 Januari. Dan di sini, pohon natal itu tidak mencerminkan Natal saja. Kita tahunya kan, pohon natal itu pohon cemara dihiasi lampu, bola-bola warna-warni, kan. Di sini itu, tanggal 25 Desember tetep ada pohon natal, tapi mereka lebih ke perayaan tahun barunya. Begitu pula dengan 7 Januari. Jadi, mereka itu lebih rame itu di 7 Januari-nya, bukan di Desember-nya.

Selama Kak Tomy tinggal di Rusia, apa saja tantangan yang Kak Tomy temui?

Tantangan perbedaan bahasa karena baru belajar Bahasa Rusia saat mau berangkat. Tentu berbeda dengan bahasa Inggris yang sudah dipelajari mulai SD.

Jadi, Kazan itu termasuk kota muslim. Berarti kalau untuk makanan, tidak terlalu ada masalah ya, kak?

Kalau mau beli di restoran muslim, bisa pilih restoran milik warga Uzbekistan, Arab, atau warga lokal Tatarstan. Di Kazan memang lebih banyak ditemui dibandingkan dengan kota lainnya di Rusia.

Tapi, kalau mau beli makan di supermarket, tetap harus baca komposisi.

Kami juga pakai aplikasi Halal E-Code karena seringkali, komposisi makanan ditulis dengan E-Code bahan kimia.

Apa pengalaman mengesankan yang pernah Kak Tomy rasakan selama tinggal di Rusia?

Pengalaman kenal teman-teman internasional yang punya kebiasaan dan adat berbeda. Kita harus bisa kompromi, biasa berdiskusi, menahan emosi, dan juga bertukar pikiran.

Apa pesan Kak Tomy untuk pembaca yang ingin mengikuti jejak kuliah di luar negeri khususnya Rusia?

Rusia sudah bukan negara Komunis. Teman-teman Indonesia yang pakai hijab, sangat diterima untuk kuliah di Rusia. 

Beasiswa Pemerintah Rusia mencakup uang pendidikan dan uang saku sebesar 2.000 Ruble (Rp400.000) per bulan. Biaya tersebut tidak mencakup tiket pesawat, akomodasi, dan asuransi.

Dari pihak Pemerintah Indonesia belum memberi beasiswa. Penerbitan jurnal pelajar Indonesia, hak paten, konferensi, dan juga penelitian dibayar sendiri-sendiri oleh masing-masing pelajar. Kalau beruntung, bisa dibiayai oleh kampus, dengan catatan hasil kegiatan menjadi milik universitas Rusia.

Indonesia dan Rusia punya kekurangan, tapi ada juga kelebihan yang bisa diambil untuk kemajuan Indonesia.

Untuk kampus persiapan kelas bahasa, biayanya berbeda-beda. Di Kazan Federal University, per bulan diberi uang saku sebesar 2.000 Ruble tersebut.

Nah, demikianlah percakapan kami dengan Kak Tomy yang sedang menempuh kuliah S2 di Kazan Federal University, Rusia, Kawan Rantau. Pada dasarnya, setiap negara yang kamu pilih untuk melanjutkan studi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tugas kamu adalah, mencari tahu sebanyak mungkin mengenai negara dan universitas yang kamu tuju sebelum betul-betul memilihnya.

Apabila kamu memang tertarik untuk melanjutkan kuliah S2 di Rusia, maka kamu bisa mengambil pelajaran dari kisah yang telah dipaparkan oleh Kak Tomy di artikel ini, Kawan Rantau. Terus semangat, ya!

Baca juga kisah Abid A. Adonis yang menjalani program dual degree di Sciences Po (Perancis) dan London School of Economics and Political Science (Inggris).

For Your Information

Apa itu keistimewaan dari Kota Kazan di Rusia?

Kazan merupakan salah satu kota islam di Rusia.

Bagaimana rasanya kuliah di Rusia?

Baca artikel ini untuk tahu kisah Hartomy Akbar yang sedang menempuh studi S2 di Kazan Federal University, Rusia.

Ingin mengetahui cerita lain di Kazan?