fbpx

Perkenalkan Abid A. Adonis: Mahasiswa Dual Degree Sciences Po dan LSE

Halo, Anak Rantau! Kembali lagi dengan feature “Profil Rantau” yang akan membahas seluk-beluk kehidupan anak rantau di luar negeri. Kali ini, kami berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Abid A. Adonis atau yang biasa dipanggil Abid. Abid adalah mahasiswa Dual Degree di Sciences Po dan The London School of Economics and Political Science (LSE).

Mau tahu lebih lanjut kisahnya? Yuk, simak percakapan kami berikut ini:

Bagaimana awal mula Abid tertarik untuk kuliah di luar negeri?

Awal pengin kuliah di luar negeri itu, cita-citanya udah ada dari SMA, kayaknya. Kalau nggak SMP, ya SMA. Jadi waktu itu, sederhana saja, kayaknya banyak anak seusiaku yang baca tetralogi Laskar Pelangi. Novel-novel itu memantik semangat untuk belajar di luar negeri.

Tapi nggak hanya di luar negerinya aja, sih. Seiring dengan berjalannya waktu, terasa kalau ada keinginan dan cita-cita untuk belajar dari para ahli. Dari para profesor dan universitas-universitas yang bagus di luar negeri. Yang tentu itu akan berguna di masa mendatang. Selain itu, karena aku sendiri suka dengan ilmu yang aku pelajari, yakni Hubungan Internasional (HI). Jadi, aku rasa itu adalah cara yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan ilmu yang aku miliki dengan kuliah ke luar negeri. 

Mengapa Abid memilih jurusan HI? 

Alasannya, satu di antaranya adalah, ilmu ini kaya. Kaya dalam arti ada unsur interdisipliner-nya. Kayak kita itu belajar HI, pasti belajar politik, sosiologi, geografi, ekonomi, budaya, seni bahkan sastra. Jadi, kita kayak belajar satu ilmu tapi kita bisa dapat banyak hal. Dan lebih dari itu, rasanya, semua kejadian yang kita rasakan ini punya dimensi internasionalnya. Bukan hanya kita yang terdampak dengan apa yang terjadi di dunia, tapi juga apa yang kita lakukan sehari-hari juga punya dampak secara global juga, dan buat aku itu menarik.

Bagaimana awal mula Abid bisa terdaftar sebagai mahasiswa dual degree di Sciences Po, Perancis, dan LSE, Inggris? 

Abid - Mahasiswa Dual Degree Sciences Po dan LSE
Abid di depn Science Po. Sumber: dokumentasi pribadi Abid.

Iya. Jadi waktu itu aku coba daftar banyak universitas, ya. Nothing to lose, aja. Ada 7 universitas yang aku daftar kalau nggak salah. Dan kenapa kemudian memilih Sciences Po dan LSE karena aku rasa Sciences Po dan LSE ini, pertama, merupakan dua universitas yang memiliki program Hubungan Internasional dan ilmu politik yang lumayan terkemuka di dunia. 

Dan di Sciences Po sendiri, penekannya tidak hanya ada di akademiknya, tapi juga banyak insight-insight dari para praktisi yang ngajar. Jadi banyak dosen-dosen yang dia juga kerja di North Atlantic Treaty Organization (NATO), di Uni Eropa, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), kerja di Pemerintahan Perancis, dan lain-lain. Jadi, dapet banget insight kebijakan dan praktik-praktik dari pemangku kebijakannya. 

Kalau LSE itu, penekanannya lebih banyak di tradisi keilmuannya, ya. Jadi lingkungan akademiknya kuat banget. Dua kombinasi ini menurutku menarik, sih, karena aku dapet dari insight praktisnya, kebijakannya, dan satunya dari teori dan pendekatan akademik. Ya mudah-mudahan jadi baik dan berkah. Mohon doanya juga.

Sebetulnya, program perkuliahan seperti apa yang sedang Abid jalani?

Jadi, yang aku jalani ini namanya Dual Degree in International Affairs, Sciences Po and LSE. Jadi, nanti dapet gelarnya itu dari Sciences Po satu, dari LSE satu, dan tentunya menjadi mahasiswa di kedua tempat itu. Di Sciences Po aku ambil Master in International Security dan di LSE-nya ambil Master in International Relations. Tapi walaupun dua gitu, untungnya nanti aku cuma harus nulis tesisnya itu sekali di LSE-nya aja. Pusing juga kalau harus nulis tesis dua kali dalam dua tahun (tertawa).

Program ini akan berjalan selama dua tahun. Satu tahun di Paris, satu tahun di London. Nah, sekarang aku masih di tahun pertama di Paris.

Selama tinggal di Perancis, apa sih tantangan yang Abid rasakan? 

Abid - Mahasiswa Dual Degree Sciences Po dan LSE
Abid saat menonton bola di Perancis. Sumber: dokumentasi pribadi Abid

Tantangan sih, dari aspek akademik, tentu temen-temen di sini jauh lebih kompetitif, ya. Sangat kompetitif, bahkan. Jadi kita nggak bisa bagus aja. Good is not enough. Harus excellent. Harus berani berkompetisi, punya daya juang, dan nggak gampang nyerah. Itu tantangan dari sudut pandang akademik. Lalu, kita juga harus memahami ekspektasi dosennya kayak apa. Profesornya minta apa dari tulisan kita.

Tapi di sisi yang lain, ini merupakan tantangan yang sangat konstruktif, sih, karena mau nggak mau aku belajarnya lebih keras, bacanya lebih banyak, dan nggak gampang nyerah aja. Nggak gampang down.

Bagusnya itu di sini meskipun semangatnya kompetitif tapi semua orang itu sangat suportif. Jadi nggak ada yang sikut-sikutan, nggak ada yang kemudian menjadi sangat toxic ke temen sendiri. Karena temen-temen di sini itu ya, melihat bahwa masing-masing itu punya jalan ceritanya sendiri. Masing-masing punya jalan hidup sehingga mau nggak mau harus kita support. Dan kita nggak tahu masing-masing nanti akan jadi apa. Jadi, kalau apa-apa itu, temen-temen sangat helpful di sini. Semangatnya semangat kolaborasi.

Tantangan di luar akademiknya, apa ya? Kayak nggak terlalu banyak, sih. Nyaman-nyaman aja sampai saat ini. Alhamdulillah. Mungkin yang jadi tantangan kadang-kadang itu jadwal salat yang berbeda dengan di Indonesia. Di sini itu shubuh-nya sekarang sekitar pukul 07.00, sedangkan jam segitu kita harus siap-siap ke kampus. Jadi menyesuaikan jam ke kampus dengan salat itu lah yang jadi tantangan. Khususnya juga waktu salat Maghrib  yang biasanya benturan sama jadwal kuliah. Kadang-kadang cuma ada jarak sedikit antara waktu kuliah satu dengan waktu kuliah yang lain pas Maghrib. Jadi, harus bisa menata waktu, sih. 

Sama mungkin yang menarik lagi itu kalau dibanding pas S1 dulu, di sini jadi jauh lebih sering masak. Karena nggak kayak di Indonesia. Soalnya waktu pas di Depok dulu kan, warteg banyak di sekitar kosan. Hampir tiap makan kalau nggak di warteg ya di kantin kampus. Atau kalau lagi males warteg kan kita bisa pakai ojek online pesen makanan. Nah, kalau di sini kan nggak bisa. Jadi lumayan lah punya hobi baru masak masakan Indonesia lewat tutorial dari youtube, terus dibagi-bagi ke tetangga di asrama kalau kelebihan (tertawa).

Apakah ada pengalaman seru dan sedih yang Abid rasakan selama tinggal di Perancis? 

Hmm, pengalaman sedihnya dulu aja, ya. Pengalaman sedihnya itu, pernah juga dapet nilai yang jelek. Nah, itu waktu awal-awal perkuliahan kayak yang syok, gitu karena belum tahu ekspektasi dosen kayak apa. Itu lumayan sedih juga waktu awal-awal perkuliahan kemarin.  Terus, di luar kelas itu pernah ikut lomba consulting, terus kalah. Itu lumayan sedih tapi belajar banyak juga dari situ.

Pengalaman senengnya tentu dapet nilai bagus. Itu Alhamdulillah banget karena kerja keras dan upaya kayak dihargai gitu. Pengalaman seru lain kayak ikut seminar dan kuliah umum. Seminar-seminar di sini menurutku bagus-bagus, sih. Kayak kemarin itu kedatangan mantan Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras dan beberapa tokoh-tokoh ilmuan yang sering dikutip waktu nulis makalah pas S1 dulu, kayak Joseph Stiglitz dan Thomas Piketty. Yang kayak orang-orang kayak gitu dulu cuma bisa tahunya dari tulisan-tulisannya, terus sekarang bisa ketemu tatap muka, gitu. Itu inspiratif banget.

Terus, mencoba banyak hal baru di sini. Di sini aku coba banyak hobi baru. Kayak aku coba ikut anggar (fencing). Buat seru-seruan aja (tertawa).

Pengalaman serunya di luar kelas, banyak temen sih. Cerita temen-temen dari mancanegara itu macem-macem dan inspiratif. Bisa diambil banyak pelajarannya.

Oh, selain itu bisa nonton bola karena aku kan suka bola banget, nih. Dari situ, coba ikut asosiasi pendukungnya PSG (Paris Saint-Germain Football Club) di kampus. Itu lumayan seru sih buat mengisi waktu luang. Itu tergantung hobinya aja. Kalau aku kayak gitu.

Adakah perubahan secara individu yang Abid rasakan selama tinggal di luar negeri?

Abid - Mahasiswa Dual Degree Sciences Po dan LSE
Sumber: dokumentasi pribadi Abid

Perubahannya, pertama, soal etos kerja. Etos kerjaku kerasa lebih baik di sini dibanding sebelumnya. Terbawa dengan suasana dan lingkungan di sekitar. Ketika temen-temen kompetitif, temen-temen punya effort yang lebih, jadi ikutan lebih semangat. Apapun itu, suka atau enggak suka, tugas apapun, ya lakuin aja.

Yang kedua disiplin, sih. Ini baik disiplin dalam menata jadwal, disiplin dengan diri sendiri, misalkan, itu juga kerasa banget. Karena temen-temen di sini disiplin semua, jadi kebawa suasana. Terus juga disiplin dalam menata pikiran dan perasaan. Kita kan juga ada kalanya kita lagi down, tapi kita menata supaya hal itu nggak sampai mempengaruhi performa akademik. Dan untuk itu akhir-akhir ini terasa membaik dan bisa aku improve

Apa pesan dari Abid untuk para pembaca yang ingin kuliah di luar negeri? 

Luruskan niatmu, karena kuliah di luar negeri itu bukan untuk memperbaiki feeds instagram, bukan untuk jalan-jalan, tapi ini merupakan tanggung jawab dan amanah. Karena siapapun yang kuliah di luar negeri berarti dia merupakan orang-orang yang privilese di antara sekian ratus juta orang di Indonesia, bisa menempuh pendidikan lebih tinggi. Banyak yang pengin kuliah di luar negeri, banyak yang mencita-citakan di posisi itu. Jadi gunakan amanah itu sebaik-baiknya.

Nah, dari situ belajar sebaik-baiknya, agar nanti bisa berkontribusi ke bangsa sendiri nantinya. Dengan cara apapun, silakan. Tapi jangan sampai, sekali lagi, niat kuliah ke luar negeri itu sekadar ikut-ikutan, sekadar memperbaiki konten sosial medianya, atau sekadar jalan-jalan. Kalau kita niatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita, insya Allah itu akan jadi sesuatu yang lebih mulia. 

Nah, demikianlah percakapan kami dengan Abid, mahasiswa dual degree di Sciences Po dan LSE. Seperti yang Abid bilang, mendapat kesempatan untuk berkuliah di luar negeri itu merupakan sebuah privilese. Jadi, manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Kamu juga bisa membaca kisah suka-duka Jennifer yang berkuliah di National University of Singapore (NUS), universitas nomor 1 di Asia.

Ingin mengetahui cerita lain di London?