fbpx

Perdebatan Pemberian Bantuan Bagi Pelajar Internasional di Jepang

Di tengah pandemi COVID-19, banyak pelajar internasional yang kesulitan untuk melanjutkan studi mereka. Mulai dari kesulitan membayar biaya sewa tempat tinggal hingga kehilangan pekerjaan paruh waktu. Kabar baiknya, Pemerintah Jepang akan memberikan bantuan bagi pelajar internasional. Akan tetapi, persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah memancing perdebatan dari sejumlah pihak.

Pemberian bantuan dari Pemerintah Jepang

Pemerintah Jepang akhirnya menyetujui pemberian bantuan bagi para pelajar universitas. Bantuan tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya perkuliahan dan kesulitan ekonomi yang dialami akibat pandemi COVID-19.

Koichi hagiuda. Sumber: Bloomberg.com

“Sangatlah penting bagi para pelajar untuk terus melanjutkan pendidikan mereka,” ujar Koichi Hagiuda, Menteri Pendidikan Jepang pada bulan Mei. “Kami akan segera menyediakan bantuan bagi semua.”

Melalui mekanisme ini, maka pelajar berpendapatan rendah akan mendapat bantuan sebesar ¥200.000 (Rp25.573.840,-). Bagi pelajar lainnya akan mendapatkan jumlah setengahnya.

Persyaratan khusus bagi pelajar internasional

Meskipun pelajar internasional bisa mendapatkan bantuan ini, nyatanya ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi bagi mereka. Persyaratan tersebut termasuk memiliki IPK minimal 2.30 dan tingkat kehadiran di kelas sebanyak 80%.

Kemudian, apabila pelajar tersebut mendapatkan tunjangan bulanan yang pasti, atau berasal dari keluarga berpenghasilan tinggi, maka ia kemungkinan akan terdiskuliafikasi. Selain itu, para pelajar internasional ini juga haruslah telah kehilangan pendapatannya dari pekerjaan paruh waktu yang mereka lakukan.

Keberatan sejumlah universitas

Akiko Morozumi selaku associate professor di University of Tokyo Graduate School of Education mengaku terkejut setelah mendengar kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan. Menurut Morozumi, kebijakan memberikan persyaratan tambahan bagi pelajar internasional tidaklah tepat.

“Ketika seorang pelajar diterima di universitas yang berada di Jepang, maka tidak ada alasan apapun untuk mendiskriminasi mereka dengan dasar kewarganegaraan,” ujar Morozumi. “Faktanya, saya yakin lebih banyak pelajar internasional di Jepang yang menghadapi tantangan (selama pandemi) dibandingkan dengan pelajar lokal.”

Sumber: eco-jap.com

Yuichi Kondo, dean of admission dari Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) menyatakan bahwa APU masih menunggu detail bantuan yang akan diberikan pemerintah bagi pelajar internasional.

” Saya rasa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kuranglah tepat bila hanya ingin memberikan bantuan bagi siswa berpestasi saja,” ujar Profesor Kondo.

Akan tetapi, ia juga memahami bahwa bantuan tersebut berasa dari uang pajak. Jadi, pasti ada petimbangan lebih jauh mengenai kebijakan ini.

Meskipun masih terdapat ketidakpastian terkait bantuan yang bisa didapatkan oleh para pelajar internasional di Jepang, sejumlah universitas telah menggalang dana secara mandiri. Sebagai contoh, APU melalui Ritsumeikan Trust memutuskan untuk memberikan bantuan bagi seluruh pelajar.

Akhir-akhir ini, Jepang memang mengalami penambahan jumlah pelajar internasional yang cukup signifikasi. Setidaknya, menurut Japan Student Service Organization, ada sekitar 310.000 pelajar internasional di Jepang pada tahun 2019.

Baca juga upaya pemerintah sejumlah negara dalam memperlakukan para pelajar internasional di tengah pandemi COVID-19.

For Your Information

Mengapa terdapat perdebatan mengenai bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Jepang?

Karena untuk pelajar internasional, terdapat sejumlah persyaratan yang diberikan.

Apa saja persyaratan yang ditetapkan?

Beberapa di antaranya adalah mengenai IPK. Persyaratan lainnya dapat kamu baca di artikel ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Fukuoka?