fbpx

Pasca Krisis Kepemimpinan, University of Adelaide Tunjuk Rektor Baru

University of Adelaide baru saja menunjuk wakil rektor Catherine Branson sebagai rektor yang baru. Penunjukan ini menyusul dua bulan setelah pengunduran tiba-tiba dari rektor University of Adelaide sebelumnya, Kevin Scarce dan pengumuman penelitian anti-korupsi terhadap wakil rektor Peter Rathjen.

Penunjukan Catherine Brason

Sumber: abc.net.au

Catherine Branson dulunya merupakan hakim pengadilan federal. Ia bergabung sebagai dewan universitas pada tahun 2013 dan menjadi wakil rektor pada tahun 2017. 

“Cathy Branson mengambil peran penting di waktu yang sulit bagi universitas maupun pendidikan tinggi secara umum,” ujar kepala komite pemilihan rektor, Christine Locher.

“Akan tetapi, dewan universitas tidak akan meragukan pemilihan seseorang berkaliber tinggi yang ditunjukkan dari karirnya di bidang legal dan yudisial. Pengabdian Cathy terhadap universitas pun tidak dapat begitu saja diabaikan,” tambah Christine.

Branson menyatakan bahwa dirinya merasa terhormat bisa mengambil peran ini.

“Sebagai seorang warga Australia Selatan dan lulusan dari universitas ini, saya telah lama bangga terhadap pencapaian dan kontribusi yang telah dibuat oleh University of Adelaide Kontribusi tersebut pun telah berjalan hingga lebih dari 150 tahun,” ujar Branson.

“Saya merasa terhormat dapat berperan mengawasi tata kelola dari universitas dan membantu memastikan University of Adelaide untuk terus menyediakan pendidikan tingkat dunia dan penelitian yang dibutuhkan oleh Australia.” 

Krisis yang dihadapi oleh University of Adelaide

Sumber: adelaide.edu.au

Sejak 4 Mei, University of Adelaide memang berjalan tanpa adanya rektor. Hal ini disebabkan oleh pengunduran diri secara tiba-tiba rektor sebelumnya, Kevin Scarce.

Pada tanggal 5 Mei, wakil rektor Peter Rathjen diberikan cuti tanpa batas waktu. Kemudian, pada 7 Mei, Independent Commissioner Against Corruption. Bruce Lander mengumumkan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan terhadap Rathjen.

“Saya telah memulai penyelidikan sehubungan dengan dugaan tindakan mencurigakan yang dilakukan oleh wakil rektor University of Adelaide,” ujar Lander dalam salah satu pernyataan.

“Saya juga sedang menyelidiki tanggapan universitas terhadap tuduhan ini. University of Adelaide telah berkomitmen untuk bekerja sama secara penuh dalam penyelidikan ini.” 

Bersama dengan universitas lainnya, University of Adelaide juga menghadapi permasalahan finansial sejak pandemi COVID-19 berlangsung. Menurunnya jumlah pelajar internasional di universitas menjadi tidak terhindarkan.

Bertambahnya sosok perempuan sebagai pimpinan universitas

Penunjukkan Catherine Branson sebagai rektor baru di University of Adelaide ini memberikan angin segar bagi semangat kesetaraan gender di universitas. Dewasa ini, telah banyak para perempuan berbakat yang mengemban tugas untuk memimpin universitas terkemuka di dunia.

Beberapa di antaranya adalah Louise Richardson (University of Oxford), Martha E. Pollack (Cornell University), Suzanne Fortier (McGill University), Margaret Gardner (Monash University), dan juga Sigbritt Karlsson (KTH Royal Institute of Technology).

Semoga, semangat kesetaraan gender di sektor pendidikan tinggi akan terus hadir dan menghargai keberadaan dari perempuan.

Baca juga daftar universitas-universitas khusus perempuan yang ada di Jepang.

For Your Information

Mengapa University of Adelaide menunjuk rektor baru?

Penunjukan rektor baru di Adelaide menyusul dua bulan setelah pengunduran tiba-tiba dari rektor University of Adelaide sebelumnya, Kevin Scarce dan pengumuman penelitian anti-korupsi terhadap wakil rektor Peter Rathjen

Siapa itu Catherine Branson?

Catherin Branson adalah rektor yang baru ditunjuk di University of Adelaide. Catherine Branson dulunya merupakan hakim pengadilan federal. Ia bergabung sebagai dewan universitas pada tahun 2013 dan menjadi wakil rektor pada tahun 2017.

Ingin mengetahui cerita lain di Adelaide?