fbpx

Kuliah di Bangladesh: Beasiswa, Biaya Hidup, dan Pilihan Kuliner

Dear, Kawan Rantau! Mungkin kamu kurang familiar dengan kesempatan kuliah di Bangladesh. Akan tetapi, negara yang satu ini bisa menjadi negara tujuan kamu untuk melanjutkan studi. Apalagi, bagi kamu yang memiliki fokus pada pendidikan perempuan, maka kamu bisa memilih Asian University for Women (AUW) yang terletak di Chittagong, Bangladesh.

Kali ini, kami berkesempatan untuk sedikit berbincang-bincang dengan Rida Nadiatul, mahasiswi Public Health di AUW. Rida mendapat kesempatan untuk kuliah di Bangladesh dengan beasiswa dari AUW. Kalau kamu ingin tahu bagaimana kisah Rida tinggal di Bangladesh, simak perbincangan kami berikut ini.

Halo, Rida! Terima kasih atas kesediaannya untuk diwawancara. Sebelumnya, sebagai penerima beasiswa AUW, apa saja yang di-cover oleh beasiswa satu ini?

Untuk beasiswa dari AUW, beasiswa ini melingkupi tiket perjalanan-pulang Indonesia-Bangladesh, makan tiga kali sehari, buku, dan asrama. Untuk uang saku tidak ada.

Secara umum, bagaimana biaya hidup di Chittagong, Bangladesh?

Sumber: dekomentasi pribadi Rida

Di sini banyak banget produk Indonesia, contohnya kopi, buah rambutan, kosmetik, dan lainnya. Akan tetapi, harganya bisa sampai tiga kali lipat. Rambutan saja, untuk satu kotak yang biasa kita temui di supermarket, harganya bisa sampai seratus ribu kalau dirupiahkan.

Lalu, untuk kebutuhan pribadi seperti pembalut, sampo, sabun, produk perawatan wajah, harganya juga bisa berlipat-lipat dari Indonesia. Soalnya, mereka kebanyakan produknya impor dari luar. Contohnya, pembalut yang isi 12 saja, harganya bisa mencapai Rp50.000,-

Produk pencuci wajah yang biasanya di Indonesia harganya 17 ribu, di Bangladesh bisa mencapai 40 ribu.

Jadi, pada akhirnya bisa dibilang kalau harga produk di Bangladesh relatif lebih mahal dibandingkan di Indonesia.

Tapi, di sini kalau baju-baju malah murah. Meskipun murah, kualitasnya bagus banget. Mulai dari jeans, sweater, sampai winter clothes, di sini banyak yang bagus.

Adakah pilihan akomodasi lain selain asrama untuk mahasiswa?

Untuk day scholar, ada yang memilih pulang-pergi dari rumah. Biasanya, mereka naik rickshaw atau diantar sama orang tua. Well, naik rickshaw di sini murah. Cuma perlu 60 (Rp10.000,-) Taka kalau jauh. Kalau jarak dekat, 30 Taka (Rp5.000,-) juga bisa.

Rickshaw ini bisa dibilang becak-nya Bangladesh tapi puller-nya di depan. Kalau becak kan di belakang. Awalnya, aku kalau keluar suka naik Uber. Misalnya, mau ke minimarket, aku naik Uber seharga 90 Taka (Rp15.000,-). Terus, akhirnya aku pilih naik rickshaw dan cuma butuh 40 Taka (Rp6.500,-).

Rickshaw memang banyak dipakai di Bangladesh. Untuk perjalanan jarak jauh, banyak juga yang memanfaatkan bus atau kereta api.

Untuk mahasiswa yang berasal dari luar Chittagong, mereka wajib tinggal di asrama yang disediakan sama AUW.

Sumber: dokumentasi pribadi Rida

Anyway, untuk makanan kan ditanggung dari beasiswa yang kamu dapat. Kalau misal kamu ingin makan di luar, apa saja pilihan yang ada?

Biasanya aku ke tempat makanan Asia, kayak Senang Bowl, itu hampir semua makanannya dari Indonesia. Semua harganya 80 Taka (Rp13.500,-).

Selain ke Senang Bowl, biasanya aku juga ke Chattime buat jalan-jalan. Kalau enggak ke Milano. Kalau di Milano, harga makanannya agak mahal, di atas 200 Taka (Rp35.000,-) untuk makanan. Porsinya juga cenderung lebih sedikit. 

Di dekat kampus ada yang namanya Subero. Di sini menyediakan Rice Bowl. Nasinya mirip sama nasi goreng Indonesia. Aku paling suka ke sana. Harga makanannya di kisaran 120 Taka (Rp20.000,-) ke atas.

Yang pasti, harga makanan di tempatku tidak lebih dari 300 Taka (Rp50.000,-).

Kalau yang murah tapi tempatnya tetap enak, ada yang namanya Barcode. Yang aku sebutin sebelumnya tempatnya juga oke. Cuma, kalau Barcode, selain tempatnya bagus, harganya relatif lebih murah. Banyak yang harganya di bawah 100 Taka.

Apakah mudah untuk mencari kuliner halal di Bangladesh?

Iya, mudah. Soalnya Bangladesh negara muslim.

Pernah coba masak sendiri selama tinggal di Bangladesh?

Tentu pernah. Kalau masak sendiri tentu malah lebih murah. Waktu itu, kami masak seblak. Kami belanja bahan sekitar 200 Taka. Itu bisa masak banyak dan ada sisa bahan juga.

Untuk kebutuhan pokok, di mana kamu biasa berbelanja?

Kebanyakan beli di minimarket. Di dekat kampus ada aunty shop. Ini semacam warung gitu. Harganya hampir sama kayak di minimarket. Cuma, di aunty shop enggak pakai VAT atau pajak. Kalau di minimarket, ditambah pajak 5% setiap produk. Tapi, kami lebih sering ke minimarket karena memang lebih lengkap.

Bagaimana cara pembayaran yang berlaku di Bangladesh?

Pembayaran cash masih jadi yang utama. Kami bawa kartu debit yang dari Indonesia (pastinya yang ada logo Mastercard dan Visa). Terus, bisa tarik tunai di ATM sini. Biayanya sekitar 500 Taka setiap gesek (Rp85.000,-).

Untuk pembayaran elektronik sudah mulai ada. Kalau aku pribadi memang belum pernah coba. Jatuhnya memang kurang populer, sih. Kebanyakan orang sini lebih pakai cara tradisional.

Bagaimana untuk kebutuhan pulsa dan telepon? Atau lebih mengandalkan Wifi?

Sumber: dokumentasi pribadi Rida

Aku pakai Banglalink. Biayanya 499 Taka dan dapat 6GB untuk satu bulan. Wifi tentu jadi andalan, tapi Wifi di asrama hanya untuk laptop. Kalaupun hape, cuma nyambung untuk WhatsApp. Itu pun enggak bisa video call atau kirim foto. Hanya bisa text (tertawa).

Dengan mendapatkan beasiswa dari AUW, maka Rida berhak mendapatkan dana beasiswa sebesar USD $60.000 untuk empat tahun masa perkuliahan. Tentu, kehidupan Rida di Bangladesh penuh dengan pengalaman dan tantangan. Akan tetapi, keinginannya untuk terus belajar menjadi motivasi tersendiri baginya untuk menempuh studi di AUW.

Baca kisah Rida dalam memilih Bangladesh sebagai negara tujuan studinya di tautan berikut. Bagi kamu yang ingin membaca kisah Kawan Rantau lainnya, kamu juga bisa mengunjungi tautan berikut.

For Your Information

Mengapa harus kuliah di AUW Bangladesh?

Bagi kamu yang memiliki fokus pada pendidikan perempuan, maka kamu bisa memilih Asian University for Women (AUW) yang terletak di Chittagong, Bangladesh untuk melanjutkan kuliah.

Bagaimana biaya hidup di Bangladesh?

Sejumlah produk di Bangladesh memang relatif lebih mahal dibandingkan Indonesia. Tapi, untuk beberapa hal, sebagai contoh baju, harganya malah jauh lebih murah dan kualitasnya bagus.

Apa saja pilihan kuliner di Bangladesh?

Baca artikel ini untuk tahu jawaban lengkapnya.

Ingin mengetahui cerita lain di Chittagong?

Related Article