fbpx

Jepang Telah Membuka Kampus Kembali untuk Semester Musim Gugur

Setelah satu bulan ditutup dan menjalani pengajaran secara daring, maka untuk semester musim gugur, sejumlah universitas di Jepang telah mulai membuka kampus kembali. Pembukaan pada bulan Oktober tersebut dibuka dengan penuh perhatian dan pendekatan yang sangat fleksibel. Bahkan, para pelajar internasional telah berangsur-angsur diperbolehkan untuk masuk kembali ke Jepang.

Universitas di daerah lebih cepat buka

Sumber: tgu.mext.go.jp

Pembukaan kembali tampaknya lebih cepat dilakukan oleh sejumlah institusi di daerah seperti Tohoku University yang terletak 700 kilometer di utara Tokyo. Hal yang sama berlaku juga di Daerah Chubu yang merupakan rumah bagi sejumlah institusi di kota-kota populer seperti Nagoya.

“Universitas yang terletak di kota-kota yang relatif kecil di Jepang memulai perkuliahan musim gugur mereka pada bulan Oktober dengan metode pembelajaran campuran. Metode tersebut memungkinkan untuk menggunakan kombinasi antara kelas daring dengan tatap muka,” ujar Akiyoshi Yonezawa selaku vice-director dari International Strategy Office di Tohoku University. “Kami berada di tahapan awal menuju normal.”

Di sisi lain, kota-kota besar mengalami tantangan yang cukup besar seperti kepadatan penduduk, lamanya perjalanan menggunakan transportasi umum, serta infeksi COVID-19 yang lebih banyak. Dengan demikian, universitas-universitas di kota besar menjadi jauh lebih waspada. Sebagai contoh, University of Tokyo hanya melaksanakan perkuliahan tatap muka untuk 20-30% kelas mahasiswa tahun pertama dan 10-20% untuk mahasiswa tahun kedua.

Dasar kebijakan Jepang membuka kampus kembali

Sumber: blog.gaijinpot.com

Pergeseran kebijakan untuk membuka kampus kembali didasari oleh hasil survei terbaru yang menunjukkan kebanyakan infeksi yang terjadi berasal dari kegiatan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa perkuliahan tatap muka memiliki risiko yang relatif lebih rendah.

Peneliti asal Tohoku University mengumpulkan data terbuka dari universitas-universitas yang ada di Jepang dan menganalisis 350 kasus COVID-19 di antara para mahasiswa, staf, dan juga pengajar. Mereka menyimpulkan bahwa kasus yang terjadi berasal dari dalam dan luar kampus.

Jumlah tertinggi berasal dari asrama (27%), diikuti oleh aktivitas lainnya (26%), kegiatan ekstrakurikuler (19%), pesta (18%), perjalanan (7%), pekerjaan (2%), dan perkuliahan tatap muka (1%). Meskipun demikian, para peneliti ini juga menyadari bahwa angka 1% tersebut dapat terjadi karena banyak sekali kelas yang ditunda untuk dilaksanakan.

Seperti banyak universitas yang berada di Asia, Tohoku juga menerapkan aturan kebersihan yang ketat. Meskipun hanya ada tiga kasus yang terdeteksi, Tohoku tetap menerapkan pengukuran suhu secara harian, mewajibkan pemakaian masker, pelacakan gerak digital melalui QR code, membuka jendela, pelarangan pertemuan sosial berskala besar, serta anjuran untuk meminimalkan obrolan selama makan siang.

Juru bicara dari Tohoku menyatakan bahwa sejauh ini tidak ada keluhan dari para pelajar, staf, maupun pengajar.

“Para pelajar kami memahami risiko yang ada,” ujarnya. “Setelah harus terus berada di rumah dan menjalani seluruh perkuliahan secara daring untuk semester lalu, mereka ingin di kampus sekarang. Mereka ingin bertemu dengan profesor dan teman mereka. Mereka juga menginginkan kehidupan universitas yang lebih normal. Terakhir, para pelajar menyadari supaya kampus bisa tetap terbuka dengan aman, semua orang harus mengikuti aturan yang ada.

Pada dasarnya, pemerintah Jepang memang telah merekomendasikan pelaksanaan perkuliahan tatap muka kembali. Akan tetapi, tetap dengan mengikuti aturan-aturan yang ada. MEXT, kementerian pendidikan Jepang, melaporkan bahwa 80% universitas di Jepang telah menggunakan pembelajaran hybrid pada bulan lalu.

Di Tohoku University sendiri, kelas yang melibatkan kerja laboratorium dan klinis pada dasarnya telah kembali seperti semula. Dan meskipun pilihan kelas daring masih tersedia, para pelajar sarjana didorong untuk menghadiri sejumlah “pendidikan umum”secara tatap muka.

“Hal ini didasarkan oleh gagasan bahwa para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, harus dapat mengakses kehidupan kampus sesungguhnya dan betul-betul masuk komunitas kampus secara nyata,” jelas Profesor Yonezawa.

Baca juga hal-hal yang harus kamu ketahui tentang budaya Jepang.

For Your Information

Apakah universitas di Jepang akan membuka kampus kembali?

Iya, Kawan Rantau. Sejumlah universitas di Jepang berencana untuk membuka kamus mereka kembali untuk musim gugur.

Mengapa universitas di Jepang memutuskan untuk membuka kampus mereka kembali?

Karena setalh dilakukan survei, diketahui bahwa kebanyakan kasus COVID-19 yang terjadi bukan berasal dari perkuliahan tatap muka.

Ingin mengetahui cerita lain di Nagoya?