fbpx

Bagaimana Pemerintah Memperlakukan Pelajar Internasional di Tengah COVID-19?

Para pelajar internasional di Eropa memiliki kekhawatiran akan nasib akomodasi mereka. Kehilangan pekerjaan akibat COVID-19 membuat para pelajar ini tak mampu membayar biaya akomodasi. Sedangkan, para pelajar internasional di Australia terancam menganggur dan telantar. Sesungguhnya, bagaimana cara pemerintah berbagai negara memperlakukan pelajar internasional di tengah pandemi COVID-19?

Berikut akan kami ulas selengkapnya.

Perbedaan respons pemerintah

People line up for temperature checks at the Xinyi District Health Center in Taipei on April 14.

Akibat pandemi, banyak negara yang telah melonggarkan aturan visa dan persyaratan pendaftaran masuk universitas bagi para pelajar internasional. Akan tetapi, banyak juga negara yang ragu untuk memberikan bantuan finansial bagi para pelajar.

Keengganan ini didasrkan pada keyakinan bahwa seharusnya para pelajar internasional mampu membiayai hidupnya secara mandiri. Setidak-tidaknya untuk tahun pertama perkuliahan. Bagaimanapun, hal ini telah menjadi persyaratan pengajuan visa.

Poin ini menjadi dasar argumen dari Perdana Menteri Australia untuk tidak memberikan bantuan finansial bagi para pelajar internasional. Untungnya, sejumlah institusi lainnya, seperti Pemerintah Kota Melbourne mencoba memberikan alternatif bantuan.

Memberikan alternatif bantuan

Berbeda dengan pemerintah Australia, pemeirntah Selandia Baru dan Kanada memperlakukan para pelajar internasional sama seperti warga negara. Mereka tidak siperlakukan secara terpisah. Dengan demikian, para pelajar di kedua negara ini akan mendapatkan dukungan selama pandemi.

Kemudian, untuk para pelajar internasional yang berada di tiga destinasi terbesar, yakni Inggris, Amerika Serikat, dan China, pihak pemerintah juga tidak memberikan bantuan. Meski dalam beberapa kasus, sejumlah universitas di Inggris dan Amerika menyediakan bantuan secara mandiri.

Para pelajar diharapkan bertanya kepada pihak universitas masing-masing secara langsung.

Kekhawatiran di masa depan

respons pemerintah di tengah COVID-19 - kekhawatiran di masa depan
Sumber: newsday.com

Kurangnya respons pemerintah dalam memberikan dukungan pada para pelajar internasional memunculkan kekhawatiran tersendiri. Banyak pihak yang memgkhawatirkan dampak dari respons pemeirntah ini terhadap jumlah pelajar nternasional ke depannya.

“Kami menyadari bahwa para calon pelajar internasional akan melihat bagaimana suatu negara merespons COVID-19 ketika menentukan negara tujuan mereka,” terang Jill Allen Murray, deputy executive director public policy di NAFSA.

Ketika suatu negara memberikan kelonggaran bagi para pelajar internasional, maka hal tersebut dapat menyimbolkan bahwa negara tersebut menerima dan menghargai keberadaan para pelajar internasional. Meski di tengah ketidakpastian.

Pelajaran dari Jerman

respons pemerintah di tengah COVID-19 - pelajaran dari jerman
Sumber: politico.eu

Jerman termasuk salah satu negara yang berhasil merespons COVID-19 dengan cepat. Selain itu, pihak pemerintah Jerman telah menurunkan aturan bahwa para pelajar internasional yang tidak bisa membayar biaya sewa akomodasi karena COVID-19, tidak bisa terusir.

Hal ini tentu menjadi angin segar bagi para pelajar internasional. Dengan keterbatasan dana yang mereka miliki, jaminan akomodasi membuat para pelajar bisa sedikit bernapas tenang.

Kemudian, agensi pendidikan seperti DAAD, berusaha membantu para pelajar untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu di bidang yang membutuhkan. Mereka mengunggah informasi tersebut di situs mereka.

Dengan demikian, pada dasarnya respons pemerintah dalam memperlakukan para pelajar internasional di tengah pandemi COVID-19 bisa memberikan dampak bagi kredibilitas negara tersebut ke depannya. Sebagai contoh, keberhasilan Jerman dalam menangani COVID-19 menambah tinggi minat pelajar internasional untuk berkuliah di Jerman.

Ingin mengetahui cerita lain di Melbourne?