fbpx

Bagaimana COVID-19 Mengubah Mekanisme Penelitian di Universitas?

Pandemi COVID-19 telah mengubah bagaimana sebuah penelitian dilakukan di berbagai disiplin ilmu. Akan tetapi, sejumlah akademisi merasa bahwa perubahan tersebut tidak sepenuhnya positif. Apa saja perubahan yang terjadi pada penelitian di universitas dunia? Beriku pemaparan kami.

Topik COVID-19 menjadi pembahasan utama

Sumber: ucl.ac.uk

Ketika Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris, melarang warganya untuk keluar rumah sejak 23 Maret lalu, maka para peneliti harus menjadi lebih kreatif. Para peneliti ilmu sosial dari University College London (UCL) melakukan survei terhadap 18.000 orang per minggu selama kebijakan lockdown berlaku.

Pada akhirnya, pada akhir April, terdapat 75.000 responden yang membagikan pengalaman mereka selama menjalani kehidupan di tengah lockdown.

Akibat pandemi ini, pada akhirnya proyek penelitian yang berjalan sekarang ini lebih banyak berfokus pada bagaimana pemerintah maupun masyarakat pada umumnya menghadapi krisis kesehatan yang ada. 

Pada akhirnya, penelitian yang berkutat pada COVID-19 menjadi pembahasan utama di dunia akademis. Bahkan, sejumlah organisasi donor menyediakan dana untuk penelitian tersebut.

Skeptisisme terhadap hasil penelitian

Sumber: editage.com

Sedangkan, di sisi lain, artikel jurnal mengenai COVID-19 terus meningkat setiap harinya. Waktu penerimaan untuk penerbitan artikel lebih singkat, yakni dari 100 hari menjadi enam hari saya. 

Tentu hal ini dilakukan untuk memberikan update terbaru mengenai pandemi COVID-19. Akan tetapi, di sisi lain, banyak yang skeptis akan kualitas dari jurnal tersebut. Bahkan, para peneliti juga memiliki kekhawatiran akan risiko misinformasi yang terjadi karena proses peninjauan menjadi sangat singkat.

Jeffrey Lazarus selaku profesor di Barcelona Institute for Global Health menyatakan bahwa meledaknya jumlah makalah mengenai COVID-19 dapat mengakibatkan dunia penerbitan menjadi terguncang. 

“Banyak sekali submisi yang diterima, bahkan dari penulis yang belum familiar,” jelas Lazarus. Lazarus meyakini bahwa jumlah submisi yang begitu banyak dapat mengakibatkan sistem penerbitan yang ada malah kewalahan.

Kemudian, banyak juga yang menyatakan bahwa proyek penelitian non-COVID akan kesulitan untuk dilakukan karena proses penelitian tidak dapat dilakukan secara normal. Maka dari itu, banyak peneliti yang merasa harus ada upaya untuk menjalankan proyek penelitian di tengah pandemi.

Universitas yang jadi pilar penelitian di tengah pandemi

Sumber: bbc.com

Berikut merupakan daftar universitas yang menjadi pilar penelitian di tengah pandemi:

  1. University of Oxford, Inggris
  2. University of Cambridge, Inggris
  3. Harvard University, Amerika Serikat
  4. University of California, Berkeley, Amerika Serikat
  5. California Institute of Technology, Amerika Serikat
  6. Stanford University, Amerika Serikat
  7. Tsinghua University, China
  8. Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat
  9. Yale University, Amerika Serikat
  10. Princeton University, Amerika Serikat

Pada dasarnya, tidak mengherankan apabila penelitian di tengah pandemi menjadi tidak dapat berjalan dengan lancar. Kemudian, penelitian yang berhubungan dengan COVID-19 memang menjadi prioritas karena pembahasan ini diperlukan untuk menghadapi permasalahan yang ada. Akan tetapi, memang harus digarisbawahi bahwa penelitian lainnya juga memerlukan perhatian yang sepadan.

Demikianlah pembahasan kami mengenai bagaimana COVID-19 mengubah proyek penelitian universitas di dunia. Bagaimana menurut kamu, Kawan Rantau?

Baca juga ulasan kami mengenai bagaimana COVID-19 mengubah kolaborasi penelitian internasional.

For Your Information

Apa perubahan yang ada akibat COVID-19?

Mekanisme penelitian di dunia menjadi salah satu hal yang berubah. Kali ini dalam artikel ini kami akan membahasnya lebih lanjut.

Bagaimana COVID-19 mengubah mekanisme penelitian?

Temukan jawabannya di artikel ini.

Ingin mengetahui cerita lain di London?