fbpx

Bagaimana COVID-19 Mengubah Kolaborasi Penelitian Internasional?

Sebelum pandemi COVID-19 menyebar, kolaborasi penelitian internasional telah menjadi salah satu bagian penting bagi para akademis dan pembuat kebijakan. Terdapat satu keinginan untuk memahami ilmu pengetahuan dengan adanya kerja sama lintas batas negara.

Pada saat itu, para ahli percaya bahwa satu kerja sama antar akademisi dari negara yang berbeda, dapat meningkatkan dampak yang lebih luas.

Akan tetapi, sayangnya COVID-19 telah memberikan dampak terhadap kolaborasi yang ada. Apabila sebelumnya para akademis yang tergabung dalam jejaring internasional memiliki kesempatan untuk bertemu dalam konferensi dan sebagainya, maka kali ini mereka tidak bisa melakukannya. Larangan penerbangan tentu memberikan dampak yang cukup nyata.

Meskipun demikian, ada sejumlah hal menarik yang perlu digarisbawahi mengenai kolaborasi penelitian internasional saat pandemi ini. Berikut beberapa di antaranya.

Publikasi terkait COVID-19 meningkat

Sumber: unsplash.com

Salah satu pembahasan yang meningkat dalam penelitian internasional adalah mengenai COVID-19. Para penulis baik yang berasal dari Amerika, China, maupun Australia banyak yang menghasilkan artikel jurnal mengenai pandemi ini. 

Bahkan, beberapa di antaranya ada yang mengasosiasikan COVID-19 dengan dua pandemi sebelumnya, seperti Sars dan juga Mers.

Kolaborasi internasional tetap terjadi

Meskipun memang China yang paling banyak menghasilkan peneltiian mengenai COVID-19, ada sejumlah pola lain yang terbentuk.

Ternyata, kolaborasi penelitian internasional tetap terjadi. Akan tetapi, kebanyakan penelitian tersebut hanya melibatkan para akademisi dari China dan Amerika Serikat. Sedangkan, keterlibatan peneliti dari negara lainnya sangatlah sedikit.

Berdasarkan data yang ada, keterlibatan dari negara berkembang semasa pandemi ini sangatlah menurut. Setidaknya, hanya ada 11% saja tulisan yang penulisnya berasal dari luar Eropa, OECD, maupun China. Jumlah rata-rata negara per tulisan pun juga sangat menurun.

Sedangkan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kolaborasi antara China dan Amerika Serikat malah meningkat dengan pesat, yakni dari 3.6% menjadi 4.9 %. Negara lainnya yang cukup banyak melibatkan diri dalam penelitian COVID-19 adalah Inggris.

Hasil kolaborasi

Fudan University. Sumber: smapse.com

Berikut merupakan sejumlah jurnal internasional yang membahas mengenai COVID-19 yang dihasilkan dari kolaborasi penelitian internasional:

  1. Preceding infection and risk of stroke: An old concept revived by the COVID-19 pandemic – Kieron South, Laura McCulloch, Barry W. McColl, Mitchell SV. Elkind, et.al.
    Kolaborasi dari: University of Manchester (Inggris), University of Edinburgh (Inggris), dan New York University (Amerika Serikat)
  2. Flexibility and safety times of coronavirus disease 2019 (COVID-19): Implications for nurses and allied professionals in cardiology РTiny Jaarsma, Lynne Hinterbuchner, Stefan Köberich, Irene Lie, et.al.
    Kolaborasi dari: Linköping University (Swedia), Salzburg University Hospital (Austria), University of Freiburg (Jerman), dan Oslo University Hospital (Norwegia)
  3. Olfactory and Gustatory Dysfunction as an Early Identifier of COVID-19 in Adults and Children: An International Multicenter StudyChenghao Qiu, Chong Cui, Charlotte Hautefort, Antje Haehner, Eric J. Nisenbaum, et.al.
    Kolaborasi dari: Shanghai Public Health Clinical Center (China), Fudan University (China), University of Paris (Perancis),TU Dresden (Jerman), dan University of Miami (Amerika Serikat)
  4. Wuhan: the first post-COVID-19 success story – Yuan Xiong, Bobbin Mi, Adriana C. Panayi, Lang Chen, Guohui Liu
    Kolaborasi dari: Huazhong University of Science and Technology (China) dan Harvard University (Amerika Serikat)

Dengan demikian, pada dasarnya kolaborasi penelitian internasional tetap dapat terjadi. Akan tetapi, fokus dan juga jenis keterlibatan dari masing-masing peneliti akan jauh lebih berbeda saat pandemi terjadi.

Baca juga jurnal-jurnal ilmu sosial yang diperlukan oleh anak sosial.

For Your Information

Bagaimana COVID-19 berdampak pada kolaborasi penelitian internasional?

Tentu tidak akan ada lagi konferensi yang dilakukan. Bacalah artikel ini untuk memahami pembahasannya.

Apa saja hasil kolaborasi penelitian internasional yang telah terjadi?

Temukan jawabannya di artikel ini.

Ingin mengetahui cerita lain di Beijing?