4 Alasan Siswa Korea Selatan Mati-Matian Belajar

Pesona Korea Selatan belum luntur hingga saat ini, bahkan semakin mendunia dengan kehadiran artis di kancah internasional. Di samping itu, ada hal lain yang dibanggakan negeri ginseng, yaitu prestasi para siswa dalam belajar. Sejak tahun 2012, Korea Selatan menggeser Finlandia dalam ranking teratas di dunia untuk kategori pendidikan dan sekolah. Murid di sana memiliki kemampuan menakjubkan dalam menyelesaikan Matematika, Ilmu Pengetahuan, serta melek literasi yang tinggi. Mereka dapat mengerjakan soal matematika siswa Eropa hanya dalam waktu 15 menit saja. Sangat melampaui batas, bukan?

Korea Selatan militan jika berurusan dengan pendidikan. Hal itu terlihat dari masyarakatnya yang sangat melihat kuantitas jam belajar. Bagi mereka, semakin lama belajar, maka hasilnya akan semakin baik. Jika ditilik, hal ini tentu berbeda dengan Finlandia yang lebih mengedepankan kualitas. Lalu, sebenarnya apa rahasianya hingga membuat siswa Korea Selatan rela begadang demi belajar? Simak informasinya berikut!

1. Pendidikan Sebagai Satu-Satunya Jalan untuk Perbaikan Nasib

Sumber: http://jobkorea.co.id

Masyarakat Korea sudah memegang teguh hakikat pendidikan sejak zaman kerajaan. Hal itu terjadi sejak zaman dinasti Joseon merubah kelas sosial dengan ujian nasional bagi rakyat jelata jika ingin menjadi staff kerajaan. Sebagai informasi, pekerja istana memiliki kasta setara dengan bangsawan, maka dari itu golongan kurang mampu mati-matian belajar demi mengakhiri kemiskinan.

Nilai tradisional tersebut masih mengakar kuat hingga saat ini. Bagi kamu pecinta K-drama, kasus pendidikan di sana tergambar jelas pada SKY Castle. Para siswa dan orang tua rela berkorban apapun demi masa depan yang lebih baik.

2. Almamater Sebagai Tolak Ukur Kesuksesan

Kecenderungan menilai sesuatu dari harta, tahta, dan jabatan pasti terjadi di banyak negara. Khusus Korsel, masyarakat menilai kesuksesan seseorang dari riwayat pendidikan. Apabila seorang siswa masuk ke universitas jajaran SKY (Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University), maka semua orang akan menghormatinya. Lingkungan turut memberikan keuntungan di segala aspek, seperti diberikan buah gratis jika berkunjung ke desa. Selain itu, perusahaan besar sekelas Samsung hanya ingin merekrut mahasiswa SKY. Alhasil, muncul stigma bahwa pelajar di kampus top 3 otomatis memiliki masa depan cerah.

3. Ujian Adalah Momen Penting dalam Hidup

Sumber: en.koreaportal.com

Siswa rajin seringkali belajar di sekolah hingga mendekati tengah malam. Mereka tahan belajar berpuluh-puluh jam karena ujian masuk perguruan tinggi (Suneung) merupakan momentum untuk menentukan masa depan. Saking pentingnya, pemerintah menetapkan hari tenang ketika ujian masuk perguruan tinggi digelar. Semua orang turun ke jalan untuk menyemangati peserta layaknya wajib militer.

4. Orang Tua Rela Bayar Bimbel Mahal demi Masa Depan Anaknya

Sumber: opinion.udn.com

Belajar di sekolah pun tidak cukup. Para orang tua saling berlomba membiayai hagwon atau tempat les terbaik ketika anak sudah kelas 3 SMA. Bisnis hagwon menjadi lahan basah karena tingginya permintaan pasar. Orang tua bersedia membayar semahal apapun demi pendidikan anak dan masa depannya. Mereka tidak ragu menegakkan langkah untuk urusan pendidikan.

Itulah 4 alasan siswa Korea Selatan mati-matian untuk belajar. Dedikasi tinggi mereka terhadap pendidikan timbul dari gaya hidup kompetitif. Mereka menilai tolak ukur kesuksesan belajar dari durasinya. Akan tetapi, keunggulan para pelajar tidak bertahan lama ketika sudah memasuki usia 30-an. Mereka dinilai kurang fleksibel dalam bekerja sehingga lulusan dengan nilai baik pun memilih menganggur daripada bekerja di perusahaan tidak bergengsi.

Di balik prestasinya, Korea Selatan juga menyimpan banyak cerita pilu tentang siswa yang bunuh diri akibat stress dan depresi. Demi mengurangi efek domino, pemerintah Korea Selatan menerapkan kebijakan jam malam bagi hagwon agar tutup lebih awal. Lalu, sekolah juga dihimbau untuk memperbanyak aktivitas di luar kelas. Nyatanya, sistem pendidikan seperti ini bukan indikasi baik untuk jangka panjang. Bagaimana menurutmu?